Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Benarkah Muhammadiyah Kehilangan Umat, Sementara NU Terus Membesar?

        Benarkah Muhammadiyah Kehilangan Umat, Sementara NU Terus Membesar? Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ada sebuah tulisan yang beredar di media sosial dengan judul provokatif: “Saat Muhammadiyah Kehilangan Umatnya”. Tulisan itu menyodorkan pertanyaan yang sebenarnya jauh lebih serius daripada sekadar bahan olok-olok antara warga Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

        Benarkah Muhammadiyah sedang kehilangan pengikut, sementara NU terus bertambah besar?

        Jika melihat angka survei, jawabannya memang tampak mengejutkan. Namun, jika dilihat lebih dalam, ceritanya tidak sesederhana itu.

        Data yang paling sering dikutip berasal dari survei LSI Denny JA. Pada 2005, sebanyak 9,4% responden menyatakan dirinya bagian dari Muhammadiyah. Pada 2023, angkanya menjadi 5,7%. Sebaliknya, responden yang menyatakan dirinya bagian dari NU meningkat dari 27,5% pada 2005 menjadi 56,9% pada 2023.

        Dengan kata lain, dalam rentang 18 tahun, proporsi orang yang merasa menjadi bagian dari NU dalam survei tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat. Sementara proporsi yang merasa menjadi bagian dari Muhammadiyah turun sekitar 40%. Angka itu nyata dan tentu layak membuat Muhammadiyah bertanya.

        Namun, ada satu kesalahan yang sering terjadi ketika angka tersebut dibaca secara tergesa-gesa: 5,7% bukan berarti hanya 5,7% umat Islam Indonesia yang menjadi anggota Muhammadiyah. Demikian pula, 56,9% bukan berarti 56,9% penduduk Indonesia adalah anggota NU.

        Survei itu menanyakan identifikasi atau “perasaan menjadi bagian dari organisasi”, bukan sensus keanggotaan. Ini perbedaan yang sangat penting.

        Dari 852 Cabang Menjadi 5,7%?

        Ironisnya, jika melihat sejarah, Muhammadiyah justru pernah berada pada posisi yang sangat kuat.

        Pada akhir 1930-an, organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan pada 1912 itu telah berkembang menjadi jaringan modern yang luas. Sumber sejarah mencatat bahwa pada 1938 Muhammadiyah memiliki sekitar 852 cabang dan 898 kelompok, dengan sekitar 250.000 anggota. Organisasi itu juga telah memiliki ratusan masjid dan langgar serta lebih dari 1.700 sekolah.

        Pada periode yang sama, NU masih jauh lebih kecil secara jaringan organisasi. Dalam Kongres Malang 1937, NU tercatat memiliki 71 cabang, yang kemudian berkembang menjadi 120 cabang pada 1942.

        Artinya, pada fase awal pertumbuhan kedua organisasi, Muhammadiyah memang bergerak sangat cepat. Ia menjadi salah satu simbol modernisasi Islam Indonesia. Sekolah, rumah sakit, panti asuhan, penerbitan, pendidikan guru, dan jaringan organisasi menjadi mesin ekspansi Muhammadiyah.

        NU tumbuh dengan mekanisme yang berbeda. Basis sosial NU tidak semata-mata dibangun melalui struktur organisasi formal. Pesantren, kiai, santri, masjid, majelis pengajian, dan jaringan keluarga menjadi simpul sosial yang memungkinkan identitas ke-NU-an menyebar jauh melampaui struktur administratif organisasinya.

        Di sinilah perbandingan antara kedua organisasi mulai menjadi rumit.

        Muhammadiyah sangat kuat sebagai organisasi. NU sangat kuat sebagai jaringan sosial-keagamaan.

        Tentu ini bukan berarti Muhammadiyah tidak mempunyai jaringan sosial atau NU tidak mempunyai organisasi. Keduanya memiliki keduanya. Namun, karakter pertumbuhan masing-masing memang berbeda.

        Pemilu 1955 Bukan Sekadar Suara Muhammadiyah dan NU

        Tulisan “Saat Muhammadiyah Kehilangan Umatnya” juga menggunakan Pemilu 1955 sebagai indikator untuk mengatakan bahwa Muhammadiyah pada masa itu lebih besar daripada NU. Ada sebagian logika yang dapat dipahami, tetapi kesimpulannya tidak bisa dibuat secara langsung.

        Dalam Pemilu 1955, Masyumi memperoleh 20,9% suara dan NU 18,4%. Masyumi memang memiliki hubungan historis yang kuat dengan kelompok Islam modernis, termasuk banyak kader Muhammadiyah.

        Namun, Masyumi bukan partai Muhammadiyah. Di dalam Masyumi terdapat berbagai kelompok Islam, sementara Muhammadiyah sendiri bukan peserta pemilu sebagai organisasi.

        Karena itu, mengatakan bahwa 20,9% suara Masyumi adalah “suara Muhammadiyah” tentu terlalu menyederhanakan sejarah.

        Namun, ada satu fakta penting yang tidak boleh dilewatkan. Hasil Pemilu 1955 memang memperlihatkan bahwa kelompok Islam modernis dan tradisionalis sama-sama mempunyai basis politik yang besar. Masyumi berada di posisi kedua dengan 20,9%, sementara NU berada di posisi ketiga dengan 18,4%.

        Dari sini kita dapat memahami mengapa dalam beberapa dekade awal republik, Muhammadiyah mempunyai pengaruh intelektual dan sosial yang sangat besar. Tetapi sejarah kemudian bergerak.

        Mengapa Identifikasi NU Melonjak?

        Pertanyaan ini justru lebih menarik daripada sekadar bertanya mengapa Muhammadiyah turun.

        Bagaimana mungkin orang yang merasa menjadi bagian dari NU meningkat dari 27,5% menjadi 56,9% dalam 18 tahun?

        Apakah berarti NU benar-benar memperoleh tambahan puluhan juta anggota dalam arti organisatoris?

        Belum tentu.

        Identitas NU mempunyai karakter yang relatif cair. Seseorang dapat merasa NU karena keluarganya NU, orang tuanya mengikuti tradisi pesantren, sering menghadiri pengajian kiai NU, mengikuti tahlilan dan istighasah, berafiliasi secara kultural dengan pesantren tertentu, atau merasa dekat dengan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.

        Namun, orang tersebut belum tentu memiliki kartu anggota NU.

        Di sinilah istilah “warga NU” menjadi berbeda dengan “anggota NU”. Dalam kehidupan sosial sehari-hari, seseorang bisa mengatakan dirinya NU tanpa pernah secara administratif menjadi anggota organisasi NU.

        Karakter seperti ini membuat identitas NU memiliki daya jangkau yang luas.

        Survei LSI Denny JA sendiri menggunakan ukuran “perasaan menjadi bagian dari ormas”, bukan audit jumlah anggota. Pada survei Agustus 2023, 56,9% responden Muslim menyatakan merasa menjadi bagian dari NU, 5,7% Muhammadiyah, 3% ormas Islam lain, dan 33,8% tidak merasa menjadi bagian dari ormas Islam mana pun. Survei melibatkan 1.200 responden dengan metode multistage random sampling dan margin of error sekitar 2,9%.

        Maka, angka 56,9% harus dibaca sebagai identifikasi sosial-keagamaan dalam survei, bukan jumlah anggota resmi NU.

        Ini bukan perbedaan kecil. Ini perbedaan konseptual.

        Apakah Muhammadiyah Benar-Benar Kehilangan Umat?

        Di sinilah kita perlu berhati-hati.

        Survei tersebut memang memberikan sinyal bahwa identifikasi publik terhadap Muhammadiyah melemah. Dan itu persoalan serius.

        Namun, mengatakan Muhammadiyah “kehilangan umat” terdengar lebih dramatis daripada yang sebenarnya dapat dibuktikan oleh data. Muhammadiyah memiliki karakter organisasi yang berbeda. Muhammadiyah mempunyai struktur formal, kaderisasi, sekolah, universitas, rumah sakit, panti sosial, masjid, lembaga zakat, dan berbagai amal usaha.

        Ada orang yang menggunakan rumah sakit Muhammadiyah, menyekolahkan anak di sekolah Muhammadiyah, bekerja di lembaga Muhammadiyah, aktif di masjid Muhammadiyah, atau menjadi simpatisan Muhammadiyah, tetapi tidak menyebut dirinya sebagai “warga Muhammadiyah” ketika menjawab survei.

        Karena itu, turunnya angka identifikasi tidak otomatis berarti seluruh ekosistem Muhammadiyah menyusut dengan proporsi yang sama.

        Bahkan, ada pengamat yang mengajukan tafsir berbeda: angka 5,7% mungkin lebih dekat dengan kelompok yang benar-benar mempunyai keterikatan organisatoris, sementara NU mempunyai lingkaran identitas kultural yang jauh lebih luas.

        Dengan kata lain, Muhammadiyah mungkin menghadapi masalah identitas dan kaderisasi, tetapi itu tidak sama dengan mengatakan bahwa organisasi tersebut sedang menuju kepunahan.

        Judul “akan punah” terlalu jauh.

        Persoalannya Mungkin Bukan Jumlah, Melainkan Identitas

        Di sinilah tulisan “Saat Muhammadiyah Kehilangan Umatnya” sebenarnya menyentuh persoalan yang lebih menarik.

        Mengapa seseorang merasa perlu mengatakan, “Saya NU”, tetapi tidak merasa perlu mengatakan, “Saya Muhammadiyah”?

        Apakah karena NU lebih berhasil membangun identitas kultural? Apakah karena jaringan kiai dan pesantren mampu membuat identitas NU diwariskan dari generasi ke generasi? Ataukah karena Muhammadiyah terlalu berhasil menjadi lembaga modern sehingga identitas organisasinya justru menjadi kurang terasa di luar institusi?

        Pertanyaan terakhir ini menarik.

        Muhammadiyah mungkin menghadapi paradoks. Semakin besar amal usahanya, semakin banyak sekolah, universitas, dan rumah sakit yang dimilikinya, semakin besar pula kemungkinan masyarakat mengenal manfaat institusinya tanpa otomatis mengidentifikasikan diri sebagai warga Muhammadiyah.

        Seorang anak bisa bersekolah di sekolah Muhammadiyah tetapi tidak menjadi kader Muhammadiyah. Seorang pasien bisa berobat di rumah sakit Muhammadiyah tetapi tidak pernah merasa sebagai bagian dari persyarikatan. Seorang profesional bisa bekerja di universitas Muhammadiyah tanpa menjadikan identitas Muhammadiyah sebagai identitas sosialnya.

        Sementara itu, NU dapat membangun rasa keterikatan melalui jaringan sosial yang lebih informal: kiai, pesantren, pengajian, tradisi keluarga, komunitas lokal, dan kebudayaan.

        Maka, yang satu memiliki institutional reach, sementara yang lain memiliki cultural reach. Keduanya sama-sama merupakan kekuatan, tetapi mekanismenya berbeda.

        Benarkah NU Tumbuh karena “Lebih Suka Ribut”?

        Tulisan yang menjadi pembanding artikel ini menawarkan teori yang jenaka: organisasi yang sering berkompetisi dan “gemar keributan” justru lebih mampu bertahan karena kompetisi memaksa organisasi berevolusi.

        Sebagai humor, menarik. Sebagai teori sosial, tentu perlu dibuktikan lebih jauh.

        Pertumbuhan NU tidak bisa dijelaskan hanya karena NU lebih “ribut” atau lebih agresif berkompetisi. Ada sejarah panjang di belakangnya: jaringan pesantren, otoritas kiai, tradisi keagamaan, kemampuan adaptasi budaya, organisasi perempuan dan pemuda, pendidikan, migrasi, politik, serta perubahan struktur masyarakat Indonesia.

        Begitu pula, penurunan identifikasi Muhammadiyah tidak dapat disederhanakan menjadi “Muhammadiyah kurang ribut”. Bisa jadi persoalannya justru lebih modern daripada itu.

        Bagaimana sebuah organisasi mempertahankan identitas ketika institusi yang dibangunnya telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat luas?

        Itulah tantangan yang lebih besar.

        NU Bertambah Besar, Muhammadiyah Mengecil?

        Kalau pertanyaannya adalah “apakah survei menunjukkan arah tersebut?”, jawabannya: ya.

        Data LSI Denny JA menunjukkan perubahan yang sangat besar antara 2005 dan 2023: identifikasi kepada NU meningkat dari 27,5% menjadi 56,9%, sementara Muhammadiyah turun dari 9,4% menjadi 5,7%.

        Namun, kalau pertanyaannya adalah “apakah berarti jumlah anggota resmi NU kini lebih dari separuh rakyat Indonesia dan anggota Muhammadiyah tinggal 5,7%?”, jawabannya: tidak bisa disimpulkan seperti itu.

        Dan kalau pertanyaannya menjadi “apakah Muhammadiyah sedang menuju kepunahan?”, datanya juga belum cukup untuk mengatakan demikian.

        Yang lebih tepat adalah mengatakan bahwa terjadi perubahan besar dalam pola identifikasi sosial-keagamaan masyarakat Indonesia.

        NU tampaknya berhasil memperluas identitas kulturalnya. Muhammadiyah menghadapi tantangan untuk membuat identitas organisasinya tetap relevan dan menarik bagi generasi baru. Ini dua persoalan yang berbeda.

        Justru di sinilah Muhammadiyah perlu membaca alarmnya. Menolak angka survei juga bukan jawaban. Sebab meskipun survei itu tidak dapat dipakai sebagai sensus anggota, trennya tetap layak diperhatikan.

        Jika selama hampir dua dekade semakin sedikit orang yang secara spontan menyebut dirinya bagian dari Muhammadiyah, maka ada pertanyaan kaderisasi yang serius.

        Mengapa? Apakah generasi muda Muhammadiyah merasa lebih nyaman dengan identitas Muslim yang lebih umum? Apakah identitas Muhammadiyah kalah kuat dibanding identitas profesi, kelas sosial, komunitas digital, atau kelompok keagamaan baru? Apakah amal usaha Muhammadiyah telah berkembang lebih cepat daripada kaderisasinya?

        Dan yang paling penting: apakah anak-anak yang tumbuh dalam ekosistem pendidikan Muhammadiyah otomatis merasa menjadi bagian dari Muhammadiyah?

        Kalau jawabannya “tidak”, maka Muhammadiyah menghadapi persoalan yang lebih dalam daripada sekadar angka survei. Ia menghadapi persoalan pewarisan identitas.

        Namun, NU juga tidak boleh terlena.

        Angka 56,9% bukan alasan bagi NU untuk merasa telah memenangkan perlombaan. Identitas sosial bisa berubah.

        Generasi muda Indonesia hidup dalam dunia yang jauh lebih cair daripada generasi orang tua mereka. Media sosial mengubah otoritas keagamaan. YouTube dan TikTok mengubah cara orang mencari guru. Pesantren berhadapan dengan ustaz digital. Organisasi formal berhadapan dengan komunitas virtual.

        Hari ini seseorang bisa merasa NU secara kultural, tetapi mengikuti kajian ustaz yang tidak memiliki hubungan organisatoris dengan NU. Besok ia bisa mengidentifikasi dirinya dengan komunitas lain.

        Karena itu, keunggulan NU hari ini tidak otomatis menjadi keunggulan permanen.

        Perlombaan Sesungguhnya Bukan Antara NU dan Muhammadiyah

        Pada akhirnya, mungkin keliru jika masa depan dua organisasi besar ini hanya dibaca sebagai pertandingan: NU naik, Muhammadiyah turun.

        Lebih menarik jika kita melihatnya sebagai dua model besar dalam sejarah Islam Indonesia.

        Muhammadiyah membangun kekuatan melalui modernisasi organisasi, pendidikan, kesehatan, amal usaha, dan kaderisasi. NU membangun kekuatan melalui pesantren, ulama, tradisi, jaringan sosial, dan kemampuan menyerap berbagai lapisan masyarakat.

        Keduanya telah menjadi bagian penting dari arsitektur sosial Indonesia.

        Karena itu, angka survei seharusnya tidak menjadi bahan untuk menertawakan Muhammadiyah atau membanggakan NU. Sebaliknya, angka tersebut adalah semacam cermin.

        Bagi Muhammadiyah, cermin itu mungkin mengatakan: “Institusi Anda besar, tetapi pastikan identitasnya tetap diwariskan.”

        Bagi NU, cermin itu mengatakan: “Identitas Anda luas, tetapi pastikan keluasan itu tetap memiliki kedalaman.”

        Dan bagi Indonesia, ada pelajaran yang lebih besar.

        Negara ini beruntung memiliki dua organisasi Islam besar yang telah berusia lebih dari satu abad dan memiliki kemampuan luar biasa untuk bertahan melalui perubahan zaman. Maka, persoalan sebenarnya bukan siapa yang memiliki umat lebih banyak.

        Persoalan sebenarnya adalah: siapa yang paling berhasil membuat generasi berikutnya merasa bahwa organisasi, nilai, dan tradisi yang diwarisinya masih relevan untuk masa depan?

        Sebab dalam sejarah organisasi sosial, yang membuat sebuah organisasi bertahan bukan semata-mata jumlah orang yang pernah mengaku menjadi anggotanya. Yang menentukan adalah apakah generasi berikutnya masih merasa, “Ini bagian dari saya.”

        Dan mungkin di situlah pertarungan sesungguhnya antara NU dan Muhammadiyah baru dimulai.

        Yang perlu kita garisbawahi sebetulnya bukan “apakah Muhammadiyah sedang punah” atau “apakah NU membesar”, tetapi “apa sebenarnya yang sedang berubah dalam identitas keislaman orang Indonesia?”

        Itu akan membuat fokus kita menjadi jauh lebih tajam dan tidak terjebak dalam perang klaim angka.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: