Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kurang Disiplin? Ubah Lingkungan, Bukan Hanya Diri Sendiri

        Kurang Disiplin? Ubah Lingkungan, Bukan Hanya Diri Sendiri Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Beberapa tahun lalu, Chris Bailey bekerja di departemen rekrutmen sebuah perusahaan besar. Bailey adalah penulis dan peneliti produktivitas asal Kanada yang mempelajari fokus, perhatian, kebiasaan, dan cara manusia bekerja secara lebih efektif.

        Saat itu, ia memiliki rekan kerja bernama Penny.

        Di meja Penny selalu tersedia semangkuk jelly beans warna-warni. Permen itu boleh dinikmati siapa saja yang mampir.

        Penny memiliki kemampuan yang bagi Bailey terasa seperti kekuatan super. Ia bisa membiarkan permennya berada di depannya sepanjang hari. Sesekali Penny mengambil beberapa butir, lalu kembali bekerja. Tidak ada drama. Tidak ada perdebatan antara “satu lagi” dan “besok mulai diet”.

        Bailey berbeda.

        Ia sangat menyukai makanan manis. Setiap melewati meja Penny, matanya langsung menangkap mangkuk itu. Tangannya kemudian mengambil segenggam kecil secara refleks.

        Bailey tetap berusaha menjaga kesopanan. Ia tidak mengambil terlalu banyak dalam satu perjalanan. Masalahnya, ia terlalu sering melewati meja Penny.

        Suatu hari, Bailey menyadari kenyataan yang agak memalukan. Sekitar 90 persen jelly beans Penny ternyata dimakan olehnya.

        Bayangkan, orang yang meneliti produktivitas dikalahkan oleh semangkuk permen. Tidak ada krisis besar. Tidak ada lawan tangguh. Hanya gula warna-warni dan tangan yang terlalu mudah bergerak.

        Bailey sendiri mengakui bahwa teman-temannya sering terkejut mendengar cerita semacam itu. Mereka mengira peneliti produktivitas memiliki pengendalian diri seperti manusia super.

        Sayangnya, gelar peneliti rupanya tidak membuat gula kehilangan pesonanya. Bailey tetap manusia biasa yang bisa tergoda.

        Namun, pengalaman kecil itu mengajarkan sesuatu yang jauh lebih besar.

        Kita sering menganggap disiplin berarti terus melawan godaan. Semakin sering berkata tidak, semakin kuat karakter kita.

        Bailey justru menawarkan cara berpikir yang berbeda.

        Disiplin tidak selalu berarti memenangkan pertarungan. Kadang disiplin berarti mencegah pertarungan terjadi.

        Jangan Jadikan Tekad sebagai Satu-satunya Senjata

        Karena memahami kelemahannya, Bailey memilih mengubah lingkungannya. Ia menghindari menyimpan makanan tidak sehat di rumah. Jika makanan yang menggoda tersedia, ia meminta orang lain untuk menyembunyikannya.

        Kedengarannya sedikit curang.

        Namun, mengapa harus bertanding setiap hari jika lapangannya bisa diubah?

        Prinsip itu penting karena perhatian kita terbatas. Lingkungan terus menawarkan sesuatu untuk dilihat, disentuh, atau dilakukan.

        Semangkuk permen menawarkan satu gigitan. Televisi menawarkan satu episode lagi. Ponsel menawarkan WhatsApp, Instagram, TikTok, berita, dan berbagai gangguan lainnya.

        Kita sering menyalahkan diri sendiri karena tidak cukup disiplin, padahal sebagian masalah mungkin terletak pada apa yang terus-menerus berada di depan mata.

        Bahkan Ponsel Tidak Harus Berbunyi

        Penelitian Adrian Ward dan koleganya menunjukkan sesuatu yang menarik. Mereka menguji dampak keberadaan ponsel terhadap kapasitas kognitif.

        Peserta yang meletakkan ponsel di atas meja menunjukkan kapasitas kognitif yang paling rendah. Sebaliknya, peserta yang menempatkan ponsel di ruangan lain menunjukkan hasil tertinggi.

        Artinya, ponsel tidak harus berbunyi untuk mengganggu kita. Bahkan keberadaannya dapat mengambil sebagian sumber daya kognitif. Efek tersebut tetap muncul meskipun peserta tidak memeriksa ponselnya.

        Jadi, mode senyap ternyata belum tentu membuat otak ikut senyap.

        Masalahnya, otak juga menyukai jalan yang lebih mudah.

        Menulis laporan membutuhkan konsentrasi. Membaca buku membutuhkan kesabaran. Berolahraga membutuhkan tenaga.

        Membuka Instagram hanya membutuhkan satu ibu jari.

        Kalau keduanya berdekatan, jangan terlalu percaya diri dalam menebak pemenangnya.

        Ciptakan Gesekan

        Karena itu, kita bisa mendesain lingkungan agar lebih membantu meningkatkan fokus.

        Jauhkan ponsel ketika pekerjaan membutuhkan konsentrasi. Letakkan perangkat pengganggu di ruangan lain. Tindakan sederhana itu menciptakan sesuatu yang penting: gesekan.

        Gesekan memberi otak kesempatan untuk berpikir sebelum bertindak.

        Ponsel di tangan membuat impuls mudah berubah menjadi tindakan. Ponsel di ruangan lain membutuhkan sedikit usaha tambahan. Kita harus berdiri dan berjalan untuk mengambilnya.

        Dalam jeda tersebut, muncul pertanyaan sederhana:

        “Saya sebenarnya sedang ingin apa?”

        Prinsip yang sama berlaku untuk kebiasaan baik.

        Ingin membaca sebelum tidur? Letakkan buku di samping tempat tidur.

        Ingin makan lebih sehat? Taruh makanan sehat di tempat yang mudah terlihat.

        Ingin berolahraga pagi? Siapkan pakaian olahraga sejak malam.

        Sayangnya, kita sering melakukan kebalikannya.

        Sepatu olahraga bersembunyi jauh di dalam lemari. Buah tersimpan rapi di kulkas. Ponsel justru berada beberapa sentimeter dari kepala.

        Kemudian kita bangun dan menyalahkan diri karena kurang disiplin.

        Padahal, mungkin karakter bukan satu-satunya masalah. Lingkungan kita mungkin membuat pilihan buruk terasa terlalu mudah, sementara pilihan yang baik justru dibuat terlalu merepotkan.

        Kita lalu meminta tekad untuk membereskan semuanya sendiri.

        Jangan Terlalu Sering Menguji Diri

        Pelajaran Bailey bukan berarti tekad tidak penting. Tekad tetap diperlukan.

        Namun, kita tidak perlu mengujinya setiap menit.

        Mengapa terus melawan godaan jika kita bisa menjauhkannya?

        Penny mungkin tetap lebih hebat dalam menghadapi jelly beans. Bailey menemukan strategi yang lebih berguna bagi banyak orang.

        Kita tidak harus menjadi Penny untuk berubah.

        Kita hanya perlu membuat pilihan buruk sedikit lebih sulit dan pilihan baik sedikit lebih mudah.

        Jadi, ketika gagal berulang kali, jangan langsung menghakimi diri sendiri. Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa kita tidak disiplin.

        Lihat meja, kamar, kulkas, dan layar di sekitar kita.

        Perhatikan benda yang selalu berada dalam jangkauan.

        Lalu tanyakan sesuatu yang lebih jujur:

        “Apa yang terus saya letakkan terlalu dekat?”

        Sebab perubahan besar tidak selalu membutuhkan tekad yang lebih kuat.

        Kadang kita hanya perlu melihat apa yang terlalu dekat.

        Lalu memindahkan mangkuk permennya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: