Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Proyek DME PTBA Dimulai, Warga Bantaran Sungai Enim Khawatir Krisis Air

        Proyek DME PTBA Dimulai, Warga Bantaran Sungai Enim Khawatir Krisis Air Kredit Foto: PT Bukit Asam
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Bukit Asam Tbk (PTBA) telah menggelar groundbreaking proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether atau DME di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, pada 29 April 2026.

        Di tengah persiapan proyek yang ditargetkan memasuki konstruksi pada 2027, warga bantaran Sungai Enim mengkhawatirkan kebutuhan air industri yang besar dapat menambah tekanan terhadap sungai yang juga menopang pasokan air bersih dan pertanian.

        Dedi, warga yang tinggal di bantaran Sungai Enim, mengatakan kondisi aliran sungai semakin menjadi perhatian, terutama saat musim kemarau. Menurutnya, masih banyak warga yang mengandalkan sungai untuk keperluan sehari-hari.

        “Saya khawatir, soalnya masih banyak warga yang berada di pinggiran Sungai Enim yang masih mengandalkan sungai. Apalagi di musim kemarau seperti ini, sekarang juga Sungai Enim sudah tidak seperti dulu volumenya,” kata Dedi kepada Warta Ekonomi.

        Kekhawatiran itu muncul karena teknologi gasifikasi batu bara yang akan digunakan dalam proyek DME membutuhkan utilitas air dalam jumlah besar. PTBA menyebut Sungai Enim yang berada sekitar 3 kilometer dari calon lokasi pabrik sebagai salah satu sumber air di sekitar kawasan proyek.

        Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PT Bukit Asam Tbk, Turino Yulianto, mengatakan proyek coal to DME masih dalam tahap persiapan bersama mitra strategis. PTBA tengah menjalankan kajian kelayakan bersama atau joint feasibility study dari hulu hingga hilir.

        “Kedua proyek ini masuk dalam PSN dan kita sedang diorkestrasi oleh Danantara untuk melakukan joint feasibility study dari hulu ke hilir,” ujar Turino dalam Public Expose Live PTBA secara daring, Senin (7/9/2026).

        “Kita ditargetkan sudah mulai konstruksi tahun depan untuk coal to DME melalui metanol,” kata Turino.

        Sungai untuk Banyak Kebutuhan

        Sungai Enim bukan sumber air yang belum digunakan. Sungai tersebut menjadi salah satu sumber air baku bagi PDAM Lematang Enim, selain dimanfaatkan warga bantaran untuk kebutuhan rumah tangga dan petani untuk irigasi.

        Kondisi debit sungai berkaitan langsung dengan layanan air bersih bagi pelanggan PDAM. Pada musim kemarau 2024, PDAM Lematang Enim mengakui distribusi air bersih sempat terganggu karena debit Sungai Enim dan Sungai Lematang menyusut drastis.

        Salah satu fasilitas terdampak adalah Intake Pelita Sari yang memanfaatkan Sungai Enim sebagai sumber air baku. Ketika muka air sungai turun, pipa pengisap air disebut sejajar dengan permukaan air sehingga kemampuan penyedotan air baku tidak maksimal.

        Di sektor pertanian, air Sungai Enim dipompa ke reservoir untuk mengairi sekitar 15 hektare sawah di Desa Tanjung Agung.

        Dengan fungsi tersebut, Sungai Enim melayani kebutuhan air minum publik, rumah tangga, pertanian, dan pengguna lainnya. Rencana pemanfaatan air untuk proyek DME menambah pentingnya kepastian mengenai daya dukung sungai, terutama pada periode debit rendah.

        Kebutuhan Air DME

        Vice President Hilirisasi PTBA Dahlia Muchtar mengatakan teknologi gasifikasi batu bara membutuhkan air dalam jumlah besar. PTBA telah menyiapkan lahan seluas 164 hektare untuk proyek coal to DME, dengan pembebasan lahan mencapai 99%.

        “Di situ khusus untuk Coal to DME ini kami menyediakan lahan sebesar 164 hektar dan semuanya 99% sudah bebas. Lalu di dekat situ karena memang teknologi gasifikasi ini sangat membutuhkan utilitas air yang sangat banyak, di situ juga ada sumber air sungai dari Sungai Enim itu jaraknya dengan jarak 3 kilometer dari plant,” ujar Dahlia dalam gelaran HIPMI.

        Air digunakan dalam pembentukan syngas atau gas sintesis, bahan antara yang kemudian diproses menjadi metanol dan DME. Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arcandra Tahar mengatakan air menjadi salah satu komponen utama dalam proses gasifikasi batu bara.

        Baca Juga: Proyek Kereta Batu Bara PTBA Tj Enim-Kramasan 93% Rampung

        Baca Juga: PTBA Kejar Produksi 50 Juta Ton Batu Bara di 2026

        “Kita butuh air yang banyak, kita injekkan, menjadi CO, karbon monoksida, tambah hidrogen. Itu namanya syngas, dari syngas itu bisa turun jadi sintetik top fuel, bisa menjadi LPG sintetik, dan lain-lain,” ujar Arcandra.

        Arcandra menilai kebutuhan air akan meningkat seiring dengan target produksi DME yang semakin besar. Ia mencontohkan, sejumlah wilayah di Amerika Serikat bahkan mempertimbangkan dampak penggunaan sumber air untuk proyek serupa.

        Sehingga di Amerika, teknologi ini juga dibawa ke Amerika, itu ada negara bagian yang para senatornya bilang, jangan di sini, nanti lake (danau) saya kering," tutupnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: