Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai mengubah kebutuhan kompetensi di dunia kerja. Industri tidak lagi hanya membutuhkan pekerja yang mampu menggunakan perangkat berbasis AI, tetapi juga talenta yang dapat mengembangkan teknologi, mengevaluasi hasilnya, serta menerjemahkannya menjadi solusi bisnis.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap talenta seperti AI Engineer, data scientist, machine learning specialist, hingga pengembang teknologi berbasis AI semakin relevan. Perguruan tinggi pun dituntut menyiapkan lulusan dengan kemampuan teknis sekaligus pemahaman terhadap kebutuhan industri.
Di tengah perubahan tersebut, BINUS University memperluas pendidikan Artificial Intelligence melalui pembukaan Program Artificial Intelligence di Kampus Paskal, BINUS @Bandung.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses pembelajaran AI sekaligus merespons perkembangan kebutuhan industri terhadap sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang teknologi tersebut.
Rektor BINUS University, Dr. Nelly, S.Kom., M.M., mengatakan penguasaan AI perlu diarahkan tidak hanya pada kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga menghasilkan inovasi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Perluasan Program Artificial Intelligence merupakan bagian dari komitmen BINUS University untuk membuka kesempatan yang semakin luas bagi generasi muda Indonesia dalam menguasai teknologi masa depan. Kami ingin mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi inovator yang menghadirkan solusi dan memberikan dampak positif bagi masyarakat,” ujar Dr. Nelly, Selasa (8/9/2026).
Di BINUS @Bandung, program tersebut terhubung dengan fokus kampus pada Creative Technology Entrepreneurship. Pendekatan ini menggabungkan kemampuan teknologi, kreativitas, dan pemahaman entrepreneurship untuk mendorong mahasiswa mengembangkan gagasan menjadi solusi yang dapat diterapkan.
Direktur Kampus BINUS @Bandung, Dr. Johan Muliadi Kerta, S.Kom., M.M., mengatakan perkembangan AI membuka peluang bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas sekaligus memahami kebutuhan industri.
“Bandung memiliki generasi muda dengan kreativitas dan keberanian bereksperimen yang sangat kuat. Melalui Program Artificial Intelligence di BINUS @Bandung, kami ingin membantu mahasiswa mengembangkan kreativitas tersebut menjadi inovasi berbasis teknologi yang memiliki nilai, dapat diterapkan, dan berpotensi menjadi peluang usaha,” ujar Johan.
Menurut dia, kemampuan teknis perlu dilengkapi dengan pemahaman mengenai kebutuhan pengguna dan pasar. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menghasilkan karya berbasis teknologi, tetapi juga mampu melihat persoalan yang dapat diselesaikan melalui pemanfaatan AI.
Dari sisi akademik, kurikulum Program Artificial Intelligence BINUS University mencakup sejumlah bidang, antara lain matematika, data science, machine learning, computer vision, natural language processing, Internet of Things (IoT), hingga robotics.
Dekan School of Computer Science BINUS University, Prof. Dr. Ir. Derwin Suhartono, S.Kom., M.T.I., mengatakan tantangan yang dihadapi generasi muda bukan semata-mata apakah AI akan menggantikan pekerjaan manusia, melainkan kesiapan tenaga kerja untuk bekerja berdampingan dengan teknologi tersebut.
“Pertanyaan penting saat ini bukan lagi apakah AI akan menggantikan manusia, melainkan apakah generasi muda telah memiliki kompetensi untuk bekerja berdampingan dengan AI. Mahasiswa perlu memiliki fondasi akademik yang kuat agar mampu mengevaluasi hasil yang diberikan AI, mengembangkan solusi, serta menerapkan teknologi secara strategis, etis, dan bertanggung jawab,” kata Derwin.
Kebutuhan kompetensi tersebut juga terlihat dari perspektif industri. Perusahaan tidak hanya mencari tenaga kerja yang mampu mengoperasikan berbagai perangkat AI, tetapi juga individu yang dapat memahami persoalan bisnis dan mengubah teknologi menjadi solusi.
CEO Kazee Digital Indonesia, Pujo Laksono, menilai keterhubungan antara institusi pendidikan dan industri menjadi semakin penting seiring cepatnya perubahan teknologi AI.
“Industri membutuhkan talenta yang tidak
hanya mampu menggunakan berbagai tools AI, tetapi juga memiliki kreativitas dan kemampuan memahami kebutuhan bisnis. Talenta masa depan perlu mampu menerjemahkan teknologi menjadi solusi, produk, atau layanan yang memberikan nilai nyata bagi perusahaan dan masyarakat,” ujar Pujo.
Menurutnya, pengalaman mahasiswa dalam mengerjakan proyek dan berinteraksi dengan dunia industri dapat membantu mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan profesional.
Hal senada disampaikan Ethan Elnathan, alumni BINUS University yang kini berkarier sebagai AI Engineer di Samsung R&D Institute Indonesia.
Perkembangan teknologi yang cepat membuat kemampuan belajar dan beradaptasi menjadi semakin penting.
“Perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat, sehingga kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan berani mengeksplorasi ide menjadi semakin penting. Pengalaman belajar di BINUS membantu saya tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga belajar bekerja dalam tim, mengembangkan gagasan, menyampaikan ide, dan menyelesaikan permasalahan nyata,” kata Ethan.
Perkembangan AI sendiri telah memperluas ruang penerapannya di berbagai sektor. Teknologi tersebut digunakan untuk mengolah data, mengembangkan layanan digital, meningkatkan efisiensi proses bisnis, hingga membantu pengembangan produk dan pengalaman pengguna.
Namun, penguasaan perangkat AI saja dinilai belum cukup. Talenta yang dibutuhkan industri juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis, memahami konteks bisnis, berkomunikasi, bekerja dalam tim, serta mempertimbangkan aspek etika dalam penggunaan teknologi.
Melalui pembukaan Program Artificial Intelligence di BINUS @Bandung, pendidikan AI kini semakin diarahkan pada pembentukan kompetensi yang menggabungkan kemampuan teknis dan nonteknis. Langkah tersebut menjadi respons terhadap perubahan kebutuhan dunia kerja yang semakin membutuhkan tenaga profesional yang mampu memanfaatkan sekaligus mengembangkan teknologi AI. Dengan perkembangan AI yang diperkirakan terus memasuki berbagai sektor, kebutuhan terhadap talenta yang mampu memahami cara kerja, penerapan, serta risiko teknologi tersebut diperkirakan akan semakin penting dalam beberapa tahun mendatang.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Saepulloh
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: