Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kongsi Prabowo-Jokowi Menuju 2029 Disinyalir Retak, Disebut 'Tak Ada yang Kebetulan'

        Kongsi Prabowo-Jokowi Menuju 2029 Disinyalir Retak, Disebut 'Tak Ada yang Kebetulan' Kredit Foto: Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Masa bulan madu politik antara kubu Presiden Prabowo Subianto dan Joko Widodo dinilai mulai memasuki fase krusial menjelang dua tahun berjalannya pemerintahan. Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI), Adi Prayitno, melihat sejumlah manuver elite sebagai sinyal mulai munculnya keretakan kongsi politik kedua kubu.

        Adi menyampaikan analisis tersebut dalam forum Akbar Faizal Uncensored yang tayang pada 3 September 2026. Menurut dia, kerja sama politik antara Prabowo dan Jokowi sulit dipertahankan dalam jangka panjang, termasuk kemungkinan untuk berlanjut dalam dua periode.

        "Ini kan bulan madu politiknya tanda-tanda sudah mulai berakhir kan. Artinya apa ya? soal bagaimana duet ini akan terus bersama dua periode rasa-rasanya sulit," kata Adi.

        Menurut Adi, kondisi tersebut turut terlihat dari intensitas safari politik Jokowi ke sejumlah daerah, di antaranya Lampung dan Nusa Tenggara Timur (NTT), serta persiapannya menuju Jawa Barat.

        Ia menilai aktivitas tersebut merupakan bentuk antisipasi politik Jokowi untuk tidak sepenuhnya menggantungkan masa depan politiknya kepada pihak lain.

        "Ini kan sebagai satu sinyalmen bahwa Pak Jokowi sudah tidak bisa menggantungkan apapun soal nasib dan masa depan politiknya," jelas Adi.

        Adi menyebut Jokowi perlu membangun faksi dan kekuatan politik sendiri. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kemandirian politik jika hubungan dengan kubu lain tidak lagi berjalan seperti sebelumnya.

        "Pak Jokowi tidak bisa bergantung kepada siapapun, termasuk kepada vaksi Hambalang... Pak Jokowi harus membikin faksi dan kekuatan politik sendiri," ujarnya.

        Adi juga menghubungkan dinamika tersebut dengan pernyataan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi mengenai potensi "retakan sejarah" serta munculnya relawan yang mengampanyekan duet Kang Dedi Mulyadi (KDM) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk Pemilu 2029.

        Menurut Adi, kemunculan sejumlah manuver tersebut tidak dapat dipandang sebagai peristiwa yang berdiri sendiri.

        "Enggak ada yang kebetulan dalam politik," tegasnya.

        Ia kemudian mengaitkan wacana "retakan sejarah" dengan dorongan relawan terhadap duet KDM-Gibran.

        "Satu sisi ada retakan sejarah yang disampaikan oleh Bang Budi, satu sisi ada relawan yang ngomong 2029 KDM sama Wapres yang sekarang. Bagi saya ini bukan sesuatu yang sederhana. Adalah satu sinyal man betapa kongsi-kongsi politik di internal ini sudah mulai bermunculan dan saling mengeras satu sama yang lain," papar Adi.

        Adi menilai rangkaian dinamika tersebut menjadi indikasi mulai menguatnya faksi-faksi politik di internal kekuasaan. Kondisi itu sekaligus membuka kemungkinan perubahan peta politik menjelang Pemilu 2029.

        Baca Juga: Budi Arie Diperingatkan, 'Presiden Terpilih Haram Hukumnya Diturunkan di Tengah Jalan'

        Sementara itu, Budi Arie Setiadi juga memberikan sinyal mengenai kemungkinan pihaknya mengambil jalan politik sendiri apabila kerja sama yang ada tidak berlanjut.

        Saat dikonfirmasi mengenai potensi kubu Jokowi ditinggalkan, Budi menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan langkah apabila tidak lagi mendapat tawaran kerja sama.

        "Saya termasuk yang haakqul yakin seperti itu. Kalau enggak diajak akan maju sendiri. Maju sendiri entah dengan siapapun," pungkas Budi Arie.

        Pernyataan tersebut memperkuat gambaran mengenai kemungkinan terbentuknya konfigurasi politik baru menjelang kontestasi 2029, di tengah mulai munculnya sejumlah manuver dari berbagai kelompok politik.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Amry Nur Hidayat
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: