Kredit Foto: PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM)
PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS) mencatat pertumbuhan pendapatan pada semester I-2026. Namun, kenaikan tersebut belum mampu mengangkat profitabilitas perseroan karena margin tertekan oleh persaingan yang semakin ketat dan perubahan komposisi proyek.
Pendapatan RUIS pada semester I-2026 mencapai Rp995 miliar, naik 5,3% dari Rp945 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, laba bersih justru turun sekitar 5% menjadi Rp7,6 miliar dari sekitar Rp8 miliar.
Direktur RUIS, Soeharto Nur Cahyono mengatakan, tekanan terhadap profitabilitas terutama berasal dari persaingan dan perubahan bauran proyek yang dikerjakan perseroan. Kondisi tersebut membuat RUIS perlu lebih selektif dalam memilih kontrak baru.
"Memang kami menyadari, meskipun revenue kami tumbuh, namun margin kami mengalami tekanan. Bukan hanya dari sisi kompetisi, namun juga dari sisi komposisi proyek,” ujar Soeharto dalam Public Expose Live 2026, Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Tekanan margin terlihat dari laba kotor yang turun 12,6% menjadi Rp88 miliar dari Rp101 miliar. Margin laba kotor pun menyusut menjadi 8,8% dari 10,7% pada semester I-2025.
Sementara itu, laba bersih turun dari sekitar Rp8 miliar menjadi Rp7,6 miliar. Margin laba bersih juga melemah menjadi 0,76% dari 0,84% pada periode yang sama tahun lalu.
Salah satu faktor yang memengaruhi perubahan margin adalah meningkatnya kontribusi bisnis Operations, Maintenance & Engineering Services (OMES).
Pada semester I-2026, kontribusi OMES terhadap pendapatan RUIS naik menjadi 71% dari 66% pada semester I-2025. Segmen ini memiliki rata-rata margin yang lebih rendah dibandingkan lini bisnis lainnya.
Tekanan profitabilitas juga terlihat dari perolehan kontrak baru. Hingga semester I-2026, RUIS membukukan 305 proyek baru dengan nilai sekitar Rp1,277 triliun, turun 2,59% secara tahunan.
Meski demikian, perseroan masih memiliki active contract value sebesar Rp5,043 triliun dari 321 proyek aktif. Sebagian besar kontrak tersebut bersifat multiyears sehingga memberikan visibilitas pendapatan untuk beberapa tahun ke depan.
Soeharto menegaskan jumlah proyek tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran dalam mengejar pertumbuhan. RUIS kini lebih mempertimbangkan nilai kontrak, kualitas proyek, durasi pekerjaan, serta potensi profitabilitas sebelum mengikuti tender.
“Yang lebih penting bagi kami adalah bagaimana mengenai nilai, kualitas, durasi dan profitabilitas dari kontrak yang kami peroleh,” kata Soeharto.
Dengan nilai kontrak aktif sekitar Rp5 triliun, RUIS memiliki basis pendapatan dari proyek-proyek yang sebagian besar berdurasi dua hingga tiga tahun. Kondisi tersebut memberikan dasar bagi keberlangsungan aktivitas perseroan, sembari manajemen tetap menjaga pipeline proyek baru secara selektif.
Fokus Proyek Bermargin Lebih Tinggi
Untuk memperbaiki profitabilitas, RUIS akan meningkatkan porsi proyek yang menawarkan margin lebih baik. Salah satu fokusnya adalah memperbesar bisnis Asset Integrity Services (AIS) yang dinilai memiliki profitabilitas lebih tinggi, sekaligus lebih selektif dalam mengambil proyek OMES.
“Kami akan lebih banyak fokus di proyek-proyek AIS yang profitabilitasnya lebih bagus. Sementara untuk proyek-proyek OMES, kami akan melihat proyek-proyek mana yang mendapatkan margin lebih besar,” ujar Soeharto.
Selain seleksi proyek, perseroan memperkuat pengendalian biaya dan eksekusi proyek melalui digitalisasi. RUIS akan terus meningkatkan penggunaan berbagai platform digital untuk memperbaiki efisiensi sekaligus memperkuat pengawasan proyek.
Baca Juga: Pertamina Makin Dirampingkan, 118 Anak Usaha Masuk Target Penyederhanaan
Baca Juga: RUIS Kurangi Ketergantungan Migas, Geotermal Jadi Mesin Pertumbuhan Baru
Baca Juga: Antam Siapkan Belanja Modal Rp6 Triliun di 2026 untuk Emas dan EV
Di sisi lain, RUIS mulai memperluas sumber pertumbuhan di luar sektor minyak dan gas. Meski migas masih menjadi pasar inti dan menyumbang sekitar 92,3% dari active contract value, perseroan mulai meningkatkan eksposur ke sektor geothermal, power, industri, dan energi terbarukan.
“Tujuannya bukan untuk meninggalkan migas, tetapi untuk memperluas sumber pertumbuhan dan mengurangi ketergantungan pada satu sektor,” tutur Soeharto.
Sejumlah proyek nonmigas telah dikerjakan RUIS, termasuk pembangunan steam gathering system geothermal di Sumatera Utara, proyek konstruksi geothermal di Lampung, hingga instalasi solar PV. Hingga 2026, perseroan telah bekerja sama dengan sejumlah klien untuk instalasi solar PV dengan total kapasitas mencapai 13 MW.
Dengan strategi seleksi kontrak, pengendalian biaya, digitalisasi, dan diversifikasi bisnis, RUIS tidak hanya mengejar pertumbuhan pendapatan. Perseroan juga berupaya meningkatkan kualitas kontrak, memperbaiki margin, dan menjaga profitabilitas secara berkelanjutan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan