- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
RUIS Kurangi Ketergantungan Migas, Geotermal Jadi Mesin Pertumbuhan Baru
Kredit Foto: Pertamina International Shipping (PIS)
PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS) mulai memperkuat bisnis di sektor geotermal dan energi nonmigas sebagai bagian dari strategi diversifikasi. Langkah ini ditempuh untuk memperluas sumber pertumbuhan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sektor minyak dan gas (migas) yang selama ini menjadi pasar utama perseroan.
Direktur RUIS Soeharto Nurcahyono mengatakan migas masih menjadi core market perseroan. Namun, RUIS melihat perlunya memperluas portofolio ke sektor energi lain yang memiliki prospek pertumbuhan, terutama geotermal.
"Memang untuk saat ini sektor oil and gas tetap menjadi core market kami. Namun kami juga sadari sebagaimana telah dipresentasikan, kami perlu untuk memperluas portofolio ke sektor khususnya geotermal, petrokimia, dan sektor industri lain yang menurut kami prospek ke depannya perkembangannya juga lebih baik lagi," ujar Soeharto dalam Public Expose Live 2026, Jumat (11/9/2026).
Menurut Soeharto, diversifikasi tersebut bukan berarti RUIS akan meninggalkan bisnis migas. Perseroan justru ingin memperluas sumber pendapatan dan mengurangi ketergantungan terhadap satu sektor.
"Tujuannya bukan untuk meninggalkan migas, tetapi untuk memperluas sumber pertumbuhan dan mengurangi ketergantungan pada satu sektor," kata Soeharto.
Strategi tersebut mulai tercermin dalam portofolio proyek RUIS. Hingga semester I 2026, perseroan memiliki 321 kontrak aktif dengan nilai sekitar Rp5,04 triliun. Namun, kontribusi sektor migas masih mendominasi hingga 92,3%, sehingga peluang diversifikasi ke sektor energi lainnya masih terbuka lebar.
Salah satu sektor yang mulai diperkuat adalah geotermal. RUIS telah mengerjakan sejumlah proyek panas bumi, termasuk pembangunan infrastruktur steam gathering system untuk Sarulla Geothermal di Sumatera Utara serta proyek konstruksi untuk Star Energy di Lampung.
RUIS melihat prospek bisnis geotermal sejalan dengan besarnya potensi panas bumi Indonesia dan percepatan transisi energi. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang bagi perusahaan jasa pendukung energi. Meski demikian, perseroan menyadari semakin menariknya sektor energi juga mendorong bertambahnya pemain dan meningkatkan persaingan.
Karena itu, RUIS tidak ingin mengejar pertumbuhan hanya dari sisi jumlah proyek. Perseroan kini lebih selektif dalam mengikuti tender dengan mempertimbangkan nilai, kualitas, durasi, dan profitabilitas setiap kontrak.
"Jumlah proyek bukan menjadi satu-satunya indikator pertumbuhan. Yang lebih penting bagi kami adalah nilai, kualitas, durasi dan profitabilitas dari kontrak yang kami peroleh,” ujar Soeharto.
Selain geotermal, RUIS juga memperluas portofolio ke sektor power and electricity, industri, pertambangan, hingga energi terbarukan. Salah satunya melalui proyek solar PV. Hingga 2026, perseroan telah bekerja sama dengan sejumlah klien untuk instalasi dengan total kapasitas mencapai 13 MW.
Di tengah diversifikasi tersebut, bisnis migas tetap menjadi fondasi RUIS. Hingga semester I 2026, perseroan memperoleh 305 proyek baru dengan nilai sekitar Rp1,28 triliun, sementara nilai kontrak aktif mencapai lebih dari Rp5 triliun.
Baca Juga: Presdir Asuransi Bintang Mundur, Ini Alasan dan Kondisi Terbaru ASBI
Baca Juga: Antam Siapkan Belanja Modal Rp6 Triliun di 2026 untuk Emas dan EV
Baca Juga: LPS Sebut Tak Semua Asuransi Langsung Masuk Cakupan Aktif Penjaminan Polis
Meski nilai new contract wins turun 2,59% secara tahunan, jumlah proyek baru justru meningkat 12,96%, berdasarkan materi perseroan.
Soeharto menambahkan, RUIS akan tetap selektif dalam mengejar peluang baru, termasuk di pasar internasional. Diversifikasi akan dilakukan dengan memanfaatkan kemampuan dan pengalaman yang telah dimiliki perseroan di sektor energi dan industri, bukan dengan meninggalkan bisnis inti.
Dengan strategi tersebut, RUIS ingin membangun portofolio bisnis yang lebih seimbang antara migas sebagai fondasi dan sektor-sektor baru seperti geotermal, energi terbarukan, petrokimia, serta industri. Langkah ini diharapkan dapat membuka sumber pertumbuhan baru sekaligus membuat bisnis perseroan lebih resilien menghadapi perubahan di industri energi.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan