Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
PT Pertamina Patra Niaga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembelian bahan bakar minyak (BBM) secara berlebihan atau panic buying.
Pasalnya, pembelian berlebihan dapat mempercepat penyerapan stok di tingkat SPBU dan membuat pemulihan pasokan membutuhkan waktu hingga sekitar satu minggu.
Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto mengatakan stok BBM di terminal dan SPBU pada dasarnya masih dalam kondisi aman. Namun, lonjakan pembelian secara bersamaan dapat memberikan tekanan tambahan terhadap rantai pasok energi.
“Bayangkan kalau normalnya cuma 100 ya dianggap aja misalnya kita angkut 100 karena ada panic buying itu bisa 110-120, menambah 10-20 itu nggak gampang, mungkin nggak apa-apa cuma nambah 10-20 aja tapi rentetannya panjang sekali,” ujar Eko dalam agenda Pertamax Journey di Yogyakarta, Jumat (11/9/2026).
Menurut Eko, kenaikan permintaan tidak dapat langsung diatasi hanya dengan menambah stok di satu wilayah.
Pemulihan pasokan membutuhkan sejumlah tahapan, mulai dari kesiapan produksi di kilang, pengadaan tambahan apabila diperlukan, penyiagaan kapal untuk mengirim produk ke terminal, hingga penambahan armada mobil tangki untuk menyalurkan BBM ke SPBU.
Ia mengatakan rangkaian proses tersebut tidak dapat diselesaikan dalam hitungan jam.
Dalam kondisi stok yang aman, pemulihan pasokan setelah terjadi lonjakan pembelian dapat membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Sementara dalam kondisi normal, proses tersebut setidaknya membutuhkan waktu tiga hingga empat hari.
“Misalkan sudah disediakan 50 mobil tangki gara-gara ada lonjakan panic buying dan lain-lain itu bisa butuh tambah 10 mobil, nyari 10 mobil dalam waktu segera nggak gampang. Jadi, kalau recovery-nya ini yang kita hindari, karena recovery itu butuh waktu paling tidak seminggu,” tambah Eko.
Eko meminta masyarakat membeli BBM sesuai kebutuhan agar distribusi tetap berjalan dan konsumen lain tidak kesulitan memperoleh energi.
Pembelian secara berlebihan, terutama karena kekhawatiran terhadap ketersediaan produk, berpotensi memperpanjang antrean di SPBU meski stok secara umum masih tersedia.
Selain mengantisipasi panic buying, Pertamina Patra Niaga juga melakukan pengawasan terhadap distribusi BBM subsidi.
Baca Juga: Pertamax Bisa Tembus Rp20 Ribu per Liter, Harga Minyak Dunia Makin Panas
Baca Juga: Pertamina Beberkan Penyebab Kendala Distribusi BBM Banyuwangi–Jember
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengingatkan masyarakat agar tidak memanfaatkan gangguan jalur distribusi untuk melakukan pembelian berulang maupun menjual kembali BBM dengan harga lebih tinggi.
“Jangan memanfaatkan dengan misalnya jalur sungainya kering, kemudian terjadi pembelian berulang di SPBU, kemudian dijual kembali dengan harga mahal,” ujar Roberth.
Menurut Roberth, gangguan distribusi akibat kondisi cuaca, termasuk surutnya alur sungai di sejumlah wilayah Kalimantan, dapat menghambat pengiriman BBM melalui jalur air.
Dalam kondisi tersebut, Pertamina harus mengalihkan penyaluran menggunakan mobil tangki yang memiliki kapasitas angkut lebih kecil dibandingkan kapal.
“Kami harus melakukan yang namanya contingency plan. Yang sebelumnya disalurkan melalui kapal, maka harus disalurkan melalui mobil tangki,” katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: