Dapat Penghargaan yang Ditandatangani Prabowo, Uchenk: Saya Akan Tetap kritis Pada Kekuasaan yang Bapak Pegang
Kredit Foto: Ist
Sebuah momen menarik terjadi ketika Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Zainal Arifin Mochtar, secara mengejutkan menerima surat penghargaan negara yang ditandatangani langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.
Zainal, atau yang akrab disapa Uchenk, dianugerahi tanda kehormatan Satyalencana Karya Satya 20 Tahun.
Penghargaan ini diberikan atas dedikasinya sebagai pegawai negeri sipil (PNS) atau dosen yang dinilai telah melaksanakan tugas dengan penuh pengabdian, kejujuran, kecakapan, dan disiplin terus-menerus selama dua dekade.
Sentilan Halus: 20 Tahun Mengabdi vs 24 Tahun di Militer
Bukannya larut dalam euforia, Uchenk merespons penghargaan tersebut dengan gaya khasnya yang tajam dan sedikit satir. Ia mengenang perjalanannya yang telah mengabdi secara formal sejak diterima menjadi dosen UGM pada tahun 2004.
Melalui catatannya, ia mengucapkan terima kasih kepada Presiden, namun tak lupa menyisipkan perbandingan terkait rekam jejak pengabdian Prabowo di masa lalu.
"Terima kasih Pak Presiden. Tinggal beda dua tahun dengan masa pengabdian bapak pada negara sebagai tentara, yang seingat saya 24 tahun (1974-1998)," tulis Uchenk, menyentil durasi karier militer sang Presiden.
Publik mengenal Uchenk sebagai sosok scholar yang sangat vokal. Bersama rekan-rekan akademisinya seperti Bivitri Susanti, Feri Amsari, dan Bhima Yudhistira, ia menjadi motor penggerak dalam film dokumenter fenomenal Dirty Vote yang membongkar karut-marut sistem hukum dan politik di Indonesia.
Uchenk menegaskan bahwa penghargaan dari kepala negara tidak akan membungkam sikap kritisnya. Sebaliknya, lencana tersebut akan ia gunakan sebagai kebanggaan saat mengajar guna menumbuhkan kesadaran kritis mahasiswa.
"Tentu saya akan pakai kebanggaan ini untuk mengajar, memberikan kesadaran kritis, termasuk kritis pada kekuasaan yang bapak pegang," tegasnya.
Bagi Uchenk, melontarkan kritik bukanlah bentuk permusuhan, melainkan wujud kepedulian yang mendalam terhadap bangsa.
"Kritik itu adalah tanda cinta pada negara, tempat saya mengabdi. Presiden akan silih berganti, tetapi negara ini harus tetap berdiri," pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat