Kredit Foto: WE
Praktisi pendidikan Tiurma Mercy Sihombing membantah tudingan bahwa gugatan terhadap surat kesetaraan pendidikan Wakil Presiden terpilih Gibran Rakabuming Raka di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) dilandasi kebencian terhadap keluarga Presiden Joko Widodo.
Mercy mengatakan gugatan tersebut berkaitan dengan persoalan administrasi pendidikan, bukan persoalan pribadi dengan Gibran maupun keluarganya. Penjelasan itu disampaikannya saat berbincang dengan jurnalis senior Bambang Harymurti di kanal YouTube Retorika Show.
"Jadi teman-teman yang menganggap saya membenci keluarga Jokowi, he, kamu salah," kata Mercy.
Untuk membantah tudingan tersebut, Mercy menceritakan sejumlah pengalaman yang pernah mempertemukannya dengan Presiden Jokowi. Ia mengaku pernah mendukung program Jokowi dan menjadi salah satu peserta yang diundang makan siang bersama Jokowi setelah mengikuti lomba menulis di Kompasiana.
"Saya sudah, jangan (salah), dulu juga milih Jokowi kan. Waktu dulu pernah ada di Kompasiana itu lomba penulis terbaik tentang program Jokowi gitu loh. Saya termasuk yang diundang makan siang sama Jokowi. Pernah foto belakangnya Garuda Pancasila," ujar Mercy.
Mercy juga menyebut dirinya pernah menghadiri pesta pernikahan Kaesang Pangarep, putra bungsu Jokowi.
"Saya datang loh waktu pestanya Kaisang," tambahnya.
Menurut Mercy, gugatan yang diajukannya tidak ditujukan kepada Gibran sebagai pribadi. Ia mempersoalkan produk administrasi terkait kesetaraan pendidikan yang menurutnya perlu diuji dari sisi tertib administrasi.
Dalam perbincangan tersebut, Mercy juga menyatakan kesediaannya apabila suatu saat diundang bertemu langsung dengan Gibran. Ia bahkan mengajak Bambang Harymurti untuk turut hadir dalam pertemuan tersebut.
"Enggak ada kebencian. (Bertemu Gibran) asal bersama Mas Bambang sih aku mau. Benar. Dalam arti yuk kita sama-sama membereskan pendidikan dan moga-moga Mas Gibran bisa menjadi teladan bagi generasi muda," tutur Mercy.
Mercy mengatakan posisinya sebagai guru dan pengelola lembaga pendidikan membuat persoalan tersebut tidak sekadar dilihat dari sisi politik. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk mengingatkan pentingnya etika, moral, dan integritas dalam dunia pendidikan.
Baca Juga: Soal Polemik 'Ijazah' Gibran, Jokowi Diminta Belajar pada Ali Sadikin
"Kalau saya karena guru kali ya, jadi saya tetap mengajak Mas Bambang, mas-mas di sini, yuk kita sadarin ini kita punya PR besar di depan kita. Jadi mari kita sama-sama menjadi penegak etika, moral, integritas buat kita, buat anak-anak kita, buat murid-murid kita," pungkasnya.
Gugatan Mercy terhadap surat kesetaraan pendidikan Gibran tersebut kini menjadi bagian dari proses hukum di PTUN. Pemberitaan mengenai gugatan itu sebelumnya juga mencatat bahwa Mercy menegaskan objek yang dipersoalkan adalah keputusan administrasi terkait kesetaraan pendidikan, bukan Gibran secara pribadi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat