Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Cuaca Makin Menekan, Pertanaman Padi Nasional Anjlok ke 28,07%

        Cuaca Makin Menekan, Pertanaman Padi Nasional Anjlok ke 28,07% Kredit Foto: BPMI
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Produksi pangan menghadapi tantangan dari kondisi cuaca. Saat pertanaman padi nasional menunjukkan tekanan pada Agustus 2026, produksi jagung di Jawa Tengah hingga September justru telah mencapai 2,68 juta ton dan masih berpeluang bertambah.

        Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat proporsi lahan yang berada dalam fase standing crop atau sedang ditanami padi pada Agustus 2026 hanya 28,07%. Angka tersebut bahkan lebih rendah dibandingkan Agustus 2023, ketika Indonesia juga menghadapi fenomena El Nino, dengan proporsi standing crop sebesar 29,79%.

        Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan kondisi tersebut berkaitan dengan curah hujan yang mayoritas berada pada kriteria rendah di berbagai wilayah Indonesia.

        "Jika kita lihat histori fase amatan KSA padi pada Agustus dari tahun 2021 sampai dengan tahun 2026, pada Agustus tahun 2023 dan Agustus tahun 2026 saat El Nino untuk proporsi luas standing crop atau pertanaman padi tercatat relatif lebih rendah. Masing-masing yaitu 29,79% dan 28,07%," kata Ateng dalam rilis data BPS, Kamis (1/10/2026).

        Tekanan tersebut mulai tercermin pada luas panen padi. Pada Agustus 2026, luas panen tercatat 1,08 juta hektare, turun 2,83% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 1,11 juta hektare.

        BPS juga memperkirakan potensi luas panen September-November 2026 hanya sekitar 2,23 juta hektare, turun 12,97% atau sekitar 330.000 hektare dibandingkan periode yang sama pada 2025.

        Namun, angka tersebut masih bersifat dinamis karena perkembangan tanaman hingga masa panen tetap dipengaruhi cuaca, serangan organisme pengganggu tanaman, banjir, kekeringan, serta perubahan waktu panen.

        Di tengah kondisi tersebut, produksi jagung di Jawa Tengah masih menunjukkan capaian yang cukup besar. Hingga September 2026, produksi jagung provinsi tersebut tercatat sekitar 2,68 juta ton.

        Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan produksi jagung masih berpeluang meningkat hingga akhir tahun seiring bertambahnya area tanam pada musim hujan.

        "Jawa Tengah tetap meneguhkan sebagai lumbung pangan nasional, tidak hanya padi tetapi juga jagung," kata Luthfi saat menghadiri panen jagung di Gapoktan Krido Dharmo, Desa Karanganyar, Kecamatan Weru, Sukoharjo, Kamis (1/10/2026).

        Data BPS menunjukkan produksi jagung Jawa Tengah pada 2025 mencapai sekitar 3,7 juta ton pipilan kering dengan kadar air 28%. Produksi tersebut menyumbang sekitar 17,02% terhadap produksi jagung nasional dan menempatkan Jawa Tengah sebagai salah satu sentra utama jagung nasional.

        Untuk menjaga produksi, pemerintah daerah menyoroti sejumlah faktor mulai dari perlindungan lahan pertanian, ketersediaan air, pupuk hingga distribusi hasil panen.

        Baca Juga: Ada Reshuffle dan Rilis Data BPS, Rupiah Tertekan Dekati Level Rp18.000 per USD

        Baca Juga: Gubernur BI: Setiap Kenaikan Suku Bunga 25 Bps, Ekonomi Akan Turun 0,1 Persen

        Kepala Dinas Pertanian Jawa Tengah De Fransisco Da Silva Tavares mengatakan capaian produksi saat ini sekitar 72% dari target 3,7 juta ton. Pemerintah daerah juga melakukan rehabilitasi jaringan irigasi tersier. Pada 2026, terdapat lebih dari 300 paket irigasi tersier yang dikerjakan di Jawa Tengah.

        Dukungan lain diberikan melalui penyediaan alat dan mesin pertanian dari pengolahan lahan hingga panen dan pascapanen. Pemerintah juga menyalurkan bantuan benih jagung hibrida melalui APBD untuk lahan seluas 3.200 hektare serta dukungan APBN untuk 87.867 hektare di 21 kabupaten dan dua kota.

        Harga jagung di tingkat petani saat ini berada di kisaran Rp7.000-Rp7.500 per kilogram, bergantung pada kadar air. Dengan industri pakan sebagai salah satu pasar utama, peningkatan produksi juga perlu diikuti kemampuan penanganan pascapanen dan penyerapan hasil agar tambahan produksi tidak berhenti pada kenaikan volume saja.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ilham Nurul Karim
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: