Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Smelter Freeport Resmi Beroperasi Kembali, Apa Dampaknya Bagi Hilirisasi?

        Smelter Freeport Resmi Beroperasi Kembali, Apa Dampaknya Bagi Hilirisasi? Kredit Foto: PTFI
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kembali beroperasinya dua fasilitas pengolahan tembaga milik PT Freeport Indonesia (PTFI) menjadi momentum penting dalam memperkuat hilirisasi mineral nasional. Operasional PT Smelting dan Smelter Manyar di Gresik, Jawa Timur, dinilai akan meningkatkan pengolahan konsentrat tembaga sekaligus memperkuat fondasi pengembangan industri turunan berbasis tembaga di dalam negeri.

        Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch (IMEW), Ferdy Hasiman, menyambut positif kembali beroperasinya kedua fasilitas pengolahan tembaga milik PTFI tersebut.

        "Ya tentu positif karena smelter tembaganya Freeport merupakan yang terbesar. Dengan begitu nanti pengolahan konsentratnya menjadi lebih optimal," ujar Ferdy kepada Warta Ekonomi, Senin (5/10/2026).

        Sekedar catatan, PT Smelting sebelumnya sempat dihentikan sementara sejak 8 Agustus 2026 untuk perbaikan fasilitas furnace, sementara Smelter Manyar kembali beroperasi setelah sebelumnya terdampak penghentian operasi pascainsiden di tambang Grasberg.

        Berdasarkan laporan kuartal III 2026 Freeport-McMoRan (FCX), disebutkan kapasitas peleburan gabungan PTFI, termasuk PT Smelting, ditargetkan mampu menghasilkan hingga sekitar 800 ribu ton katoda tembaga per tahun. 

        Kapasitas tersebut menjadi salah satu penguatan penting dalam rantai nilai tembaga nasional, mulai dari pengolahan konsentrat hingga menghasilkan produk bernilai tambah.

        Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan pemulihan operasional fasilitas pengolahan Freeport menunjukkan perkembangan yang positif. Smelter Manyar kembali menerima konsentrat pada Agustus dan mulai memproduksi katoda tembaga pada September, setelah sebelumnya pasokan konsentrat yang terbatas diprioritaskan untuk PT Smelting.

        "Dari sisi pemulihan, perkembangannya cukup positif. Smelter Manyar kembali menerima konsentrat pada Agustus dan mulai memproduksi katoda tembaga pada September, setelah sebelumnya pasokan konsentrat yang terbatas diprioritaskan untuk PT Smelting," kata Yusuf saat dihubungi. 

        Menurut Yusuf, peningkatan kapasitas smelter akan berlangsung secara bertahap seiring dengan pemulihan produksi tambang Grasberg yang ditarget pada akhir 2027.

        Ia menilai periode pemulihan tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem industri hilir tembaga nasional. Menurutnya, peningkatan kapasitas smelter perlu diikuti dengan pengembangan industri pengolahan lanjutan agar nilai tambah dari komoditas tembaga semakin besar berada di dalam negeri.

        Baca Juga: Produksi Tambang Freeport Naik Bertahap, Pulih Penuh 2028

        Baca Juga: Bos Freeport Ungkap Karyawan Ketakutan Usai Konvoi Ditembaki

        Yusuf menyebut sekitar tiga perempat produksi katoda PT Smelting masih diekspor karena industri pengolahan katoda domestik belum cukup besar. Namun, kondisi tersebut juga menunjukkan adanya peluang pengembangan industri turunan tembaga di Indonesia.

        "Persoalannya bukan sekadar ada atau tidak ada permintaan. Yang juga menentukan adalah harga, kepastian kontrak jangka panjang, spesifikasi produk, dan pola pasokan industri," tutup Yusuf.

        Menurut dia, Indonesia memiliki posisi strategis karena didukung cadangan tembaga yang besar. Ke depan, pengembangan industri hilir dapat diarahkan pada produk bernilai tambah lebih tinggi seperti batang tembaga, kawat, kabel, hingga copper foil untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: