Kredit Foto: Satyamitra
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mulai mengaudit kebutuhan mesin di berbagai sektor industri. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui jenis peralatan produksi yang paling dibutuhkan sekaligus menentukan prioritas pengembangan industri permesinan nasional.
Agenda tersebut menjadi bagian dari langkah Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji untuk memetakan berbagai persoalan industri secara lebih rinci, termasuk kebutuhan mesin dan peralatan yang selama ini digunakan pelaku usaha.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Setia Diarta mengatakan, penguatan industri permesinan menjadi salah satu perhatian utama Sarmuji dalam rapat kerja internal bersama jajaran Kemenperin.
"Beliau sangat ingin mendorong industri permesinan kita tumbuh. Itu yang menjadi salah satu perhatian utama dalam pembahasan," ujar Setia dalam keterangan tertulis, Rabu (7/10/2026).
Menurut Setia, Kemenperin diminta melakukan peninjauan terhadap kebutuhan mesin di berbagai sektor. Hasil audit tersebut nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan jenis mesin dan sektor yang perlu mendapat prioritas.
"Kami diminta untuk melakukan review dan menyiapkan prioritasnya. Yang penting dilakukan audit terlebih dahulu, kemudian kami review untuk menentukan prioritas yang perlu menjadi perhatian," ungkap dia.
Audit ini juga diharapkan dapat mengungkap celah yang masih bisa diisi oleh industri permesinan dalam negeri. Dengan mengetahui jenis mesin yang paling dibutuhkan, pengembangan kapasitas produsen lokal dapat diarahkan sesuai kebutuhan pasar.
Ketersediaan mesin menjadi bagian penting dalam rantai produksi berbagai sektor industri. Bukan hanya menentukan kapasitas produksi, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan Indonesia membangun rantai pasok peralatan produksi di dalam negeri.
Meski demikian, Kemenperin belum menetapkan jenis mesin maupun subsektor yang akan menjadi prioritas. Pemerintah masih melakukan pemetaan sebelum menentukan fokus pengembangannya.
Langkah tersebut merupakan bagian dari agenda "belanja masalah" yang dilakukan Sarmuji sejak memimpin Kemenperin. Jajaran kementerian diminta menginventarisasi berbagai persoalan industri, mulai dari regulasi, bahan baku, energi, sumber daya manusia, pasar, investasi, teknologi hingga hambatan lainnya.
Sarmuji mengatakan, pemetaan diperlukan agar kebijakan pemerintah tidak hanya berfokus pada indikator makro, tetapi juga menyentuh persoalan nyata yang dihadapi masing-masing subsektor.
"Pada tahap awal ini, kami ingin melakukan belanja masalah. Kita petakan secara menyeluruh persoalan yang dihadapi industri, kemudian kita identifikasi mana yang bisa segera diselesaikan oleh Kemenperin dan mana yang membutuhkan koordinasi dengan kementerian atau lembaga lainnya," ujar Sarmuji.
Ia menegaskan, setiap sektor memiliki karakteristik dan persoalan yang berbeda. Karena itu, pemerintah perlu menentukan prioritas berdasarkan tingkat urgensi dan dampaknya terhadap kinerja industri.
Baca Juga: Wamenperin Bongkar Masalah Gas Industri, Pasokan Cuma 60–70% dari Jatah!
Baca Juga: Baja Kendal Tembus Australia, Kemenperin Khawatir Ekspor Tak Berlanjut
Selain industri permesinan, Kemenperin juga tengah memetakan sektor industri agro yang dinilai memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan industri pengolahan.
Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan, pihaknya akan mengidentifikasi subsektor yang memiliki daya ungkit besar untuk kemudian dipacu lebih kuat.
"Dari sektor industri agro, kami akan melihat subsektor mana yang bisa memberikan kontribusi besar, kemudian itu yang kami akselerasi. Jadi, potensi-potensi yang memiliki daya ungkit terhadap pertumbuhan industri akan kita dorong lebih kuat," jelas Putu.
Di sisi lain, Ditjen Industri Agro juga akan menginventarisasi berbagai persoalan yang masih tertunda atau pending matters. Masalah yang bisa segera diselesaikan akan dipercepat agar tidak menghambat aktivitas maupun ekspansi industri.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan