Ancaman Scam Makin Canggih, Bitdefender Gandeng GIA Perkuat Keamanan Digital
Kredit Foto: Istimewa
Ancaman penipuan online dan pencurian identitas semakin menjadi perhatian seiring meningkatnya aktivitas masyarakat di ruang digital. Kondisi tersebut mendorong Bitdefender memperluas akses solusi keamanan siber di Indonesia melalui kerja sama distribusi eksklusif dengan PT Gema Informatika Abadi (GIA).
Melalui kemitraan tersebut, seluruh portofolio produk konsumen Bitdefender akan didistribusikan di Indonesia melalui jaringan reseller PT GIA. Produk tersedia melalui retailer fisik maupun marketplace online.
Direktur PT GIA Jack Chok mengatakan kebutuhan terhadap perlindungan data pribadi dan identitas semakin penting karena masyarakat semakin bergantung pada layanan digital, termasuk untuk transaksi perbankan, belanja online, dan komunikasi sehari-hari.
“Kami senang dapat bermitra dengan Bitdefender untuk memberikan akses kepada masyarakat Indonesia terhadap perlindungan yang tepercaya dan canggih dalam menghadapi ancaman siber yang terus berkembang. Rekam jejak inovasi Bitdefender serta kinerja keamanannya yang telah terbukti menjadikannya mitra ideal bagi kami dalam memperluas penawaran di seluruh Indonesia,” ujar Jack Chok dalam acara Bitdefender Grand Launch & Signature Hi-Tea di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Urgensi perlindungan digital juga terlihat dari data Global Anti Scam Alliance. Data tersebut menyebutkan 66 persen orang dewasa di Indonesia pernah mengalami penipuan dalam satu tahun terakhir.
Secara global, survei terhadap 7.000 konsumen menunjukkan satu dari tujuh responden menjadi korban penipuan dalam periode yang sama.
Risiko tersebut turut berkaitan dengan penggunaan perangkat mobile untuk aktivitas yang bersifat sensitif. Sebanyak 48 persen responden mengaku tidak menggunakan solusi keamanan pihak ketiga pada ponsel, meskipun 53 persen menggunakan perangkat tersebut untuk aktivitas seperti membayar tagihan dan berbelanja online.
Business Development Manager APC & MEA Bitdefender Julien Ribeyrolles mengatakan perkembangan teknologi membuat pelaku kejahatan siber semakin adaptif dalam mengeksploitasi kebiasaan pengguna.
“Pelaku kejahatan siber memiliki akses ke alat-alat yang canggih, menggunakan AI, dan sangat kreatif,” kata Julien.
Menurut dia, modus penipuan kini dapat menyasar aktivitas sehari-hari melalui pesan singkat, email, maupun notifikasi palsu yang dibuat menyerupai komunikasi resmi perusahaan atau penyedia layanan.
Kondisi tersebut dapat membuat pengguna menyerahkan informasi pribadi atau melakukan transaksi keuangan tanpa menyadari bahwa mereka sedang menjadi sasaran manipulasi.
Julien juga menilai kebocoran informasi dasar seperti nama dan nomor telepon dapat menjadi pintu masuk bagi serangan lanjutan. Karena itu, perlindungan digital tidak hanya membutuhkan kewaspadaan pengguna, tetapi juga dukungan teknologi, edukasi, dan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk penegak hukum.
Di sisi lain, kecerdasan buatan juga dapat digunakan untuk memperkuat sistem pertahanan digital. Teknologi tersebut memungkinkan sistem keamanan menganalisis pesan, tautan, dan pola aktivitas mencurigakan secara real-time untuk membantu mendeteksi potensi penipuan.
Senior Vice President of Operations Bitdefender Consumer Solutions Group Ciprian Istrate mengatakan penggunaan AI oleh pelaku kejahatan siber membuat ancaman terhadap konsumen semakin besar.
“Pelaku kejahatan siber menggunakan AI untuk menjalankan kampanye penipuan yang meyakinkan dalam skala besar serta menyebarkan malware, sehingga konsumen menghadapi risiko yang semakin besar,” terang Ciprian.
Menurutnya, kerja sama dengan PT GIA menjadi salah satu langkah untuk memperluas jangkauan perlindungan digital di Indonesia.
“Bitdefender dan PT GIA memiliki komitmen yang sama terhadap keamanan publik di dunia online, dan kami sangat antusias untuk bekerja sama. Indonesia memiliki salah satu ekonomi digital terbesar dan tumbuh paling cepat di dunia. Perlindungan Bitdefender yang dipadukan dengan jangkauan PT GIA akan membantu jutaan konsumen tetap aman di mana pun aktivitas digital mereka berlangsung,” katanya.
Dalam kerja sama tersebut, portofolio produk konsumen Bitdefender mencakup perlindungan komputer dan perangkat mobile, keamanan identitas digital, privasi, pengelolaan kata sandi, hingga teknologi pendeteksi penipuan dan deepfake.
Produk tersedia dalam sejumlah pilihan paket untuk kebutuhan individu maupun keluarga. Bitdefender Antivirus Plus menawarkan perlindungan dasar perangkat dengan pilihan lisensi satu, tiga, atau lima perangkat.
Sementara itu, Bitdefender Total Security menawarkan perlindungan yang lebih luas, termasuk Parental Control dan SecurePass sebagai pengelola kata sandi. Paketnya tersedia untuk tiga perangkat, lima perangkat, hingga 25 perangkat yang dapat dibagi dalam lima akun.
Untuk kebutuhan perlindungan privasi dan anti-penipuan yang lebih lanjut, Bitdefender Premium Security dilengkapi Scam Protection Pro berbasis AI, SecurePass, serta VPN Premium tanpa batas penggunaan data.
Adapun Bitdefender Ultimate Security menggabungkan sejumlah fitur tersebut dengan Digital Identity Protection (DIP) untuk membantu pengguna memantau dan melindungi identitas digital. Paket tersebut juga tersedia untuk penggunaan individu maupun keluarga.
Bitdefender menyebut portofolio tersebut dirancang untuk membantu pengguna menghadapi berbagai risiko digital, mulai dari malware dan phishing hingga penipuan online dan pencurian identitas.
Kemampuan perlindungan konsumen Bitdefender juga mendapat pengakuan dari sejumlah lembaga pengujian dan analis industri. Perusahaan tersebut dinobatkan sebagai Leader dalam IDC MarketScape: Worldwide Consumer Digital Life Protection 2025 Vendor Assessment serta meraih penghargaan Best Protection for Windows, Best macOS Security, dan Best Android Security dari AV-TEST.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: