Dari QRIS hingga Green Retail, APRINDO Bawa Lima Isu Strategis Ritel Indonesia ke Forum Asia Pasifik di Tokyo
Kredit Foto: Istimewa
Industri ritel Indonesia didorong memperkuat daya beli konsumen, mengintegrasikan teknologi digital, dan membangun rantai pasok yang tangguh untuk menghadapi perubahan perilaku belanja. Sejumlah agenda tersebut dibawa Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) dalam Asia-Pacific Retailers Convention and Exhibition (APRCE) 2026 di Tokyo, Jepang.
Ketua Umum APRINDO, Solihin, menyampaikan perspektif industri ritel Indonesia melalui Indonesia Country Report dalam forum tersebut. Ia menekankan bahwa transformasi digital tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan transaksi daring atau penggunaan teknologi.
Menurut Solihin, pemanfaatan teknologi harus memberikan dampak nyata terhadap efisiensi operasional, ketahanan bisnis, dan pengalaman belanja konsumen.
Dalam paparannya, ia mengidentifikasi tiga karakter utama konsumen Indonesia, yakni sensitif terhadap nilai dan harga (value-conscious), mengutamakan kemudahan (convenience-led), serta semakin terbiasa menggunakan layanan digital (digital-first).
Karakteristik tersebut menuntut peritel menyesuaikan strategi bisnis. Konsumen tidak hanya mempertimbangkan harga produk, tetapi juga kemudahan memperoleh barang, akses ke gerai, pilihan pembayaran, dan pengalaman belanja yang terintegrasi.
Sistem pembayaran digital dan QRIS pun semakin menjadi bagian dari ekspektasi konsumen, bukan sekadar inovasi tambahan.
Lima Agenda Strategis Industri Ritel
Dalam forum APRCE 2026, APRINDO mempertegas lima isu yang dinilai penting bagi pengembangan industri ritel Indonesia.
Pertama, penguatan daya beli konsumen. Kedua, pengembangan ekosistem ritel dan UMKM yang inklusif. Ketiga, penguatan ketahanan rantai pasok. Keempat, percepatan transformasi digital yang berjalan beriringan dengan keberlanjutan melalui konsep green and sustainable retail. Kelima, penguatan kolaborasi antara pemerintah dan industri.
APRINDO menilai digitalisasi perlu diterapkan secara menyeluruh, mulai dari pengelolaan persediaan dan distribusi hingga transaksi serta pelayanan konsumen.
Pendekatan tersebut juga perlu mempertimbangkan keragaman pasar Indonesia, baik dari sisi geografis, tingkat harga, format ritel, maupun kebutuhan konsumen. Karena itu, satu model bisnis tidak selalu dapat diterapkan untuk seluruh segmen pasar.
Di sisi lain, transformasi digital membutuhkan dukungan ekosistem yang memadai. Solihin menyoroti pentingnya regulasi yang dapat diprediksi, persaingan digital yang adil, infrastruktur distribusi, serta kolaborasi antara pemerintah, peritel, pemasok, dan UMKM.
APRINDO memosisikan diri sebagai penghubung berbagai pemangku kepentingan untuk mendorong transformasi industri ritel yang berkelanjutan.
APRCE 2026 dibuka oleh Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi. Dalam pembukaan tersebut, ia berharap penyelenggaraan forum dapat membahas berbagai persoalan industri ritel dan memberikan kontribusi besar bagi sektor tersebut, khususnya di kawasan Asia Pasifik.
Baca Juga: Kartu Kredit Indonesia Diperluas ke Segmen Ritel, Integrasi dengan QRIS Dinilai Strategis
Founder Alfamart, Djoko Susanto, turut hadir bersama para pemimpin dan pelaku industri ritel dari berbagai negara.
Partisipasi Indonesia dalam forum tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan, membangun sinergi lintas negara, dan bertukar perspektif mengenai perkembangan industri ritel.
Bagi APRINDO, transformasi digital dan keberlanjutan perlu diarahkan pada tujuan bisnis yang terukur. Pemanfaatan teknologi diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, memperluas akses konsumen, serta memperkuat daya saing industri ritel Indonesia di tengah perubahan pasar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: