Kredit Foto: Istimewa
Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian, Ali Murtopo Simbolon, menegaskan bahwa Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali menjadi salah satu ruang strategis bagi pengembangan kerja sama Indonesia–Tiongkok di bidang teknologi dan industri.
Kawasan tersebut diarahkan untuk mendukung pengembangan artificial intelligence (AI), riset dan pengembangan digital, semikonduktor, hingga teknologi kuantum, sekaligus mempertemukan dunia akademik dan industri.
“Dalam situasi persaingan dan ketidakpastian global, Indonesia menawarkan ruang yang aman bagi pengembangan akademik dan kolaborasi industri. Tsinghua Southeast Asia Center (TSEA) dapat menjadi jembatan antara Tiongkok, kawasan Asia Tenggara, dan dunia,” ujar Ali dalam keterangannya dikutip Minggu (11/10/2026).
Plt. Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK itu menuturkan bahwa penguatan kerja sama tersebut didukung oleh semakin besarnya kehadiran investor Tiongkok di KEK.
Indonesia saat ini memiliki 25 KEK dengan luas sekitar 23.797,88 hektare, yang telah mencatat investasi kumulatif sekitar US$20,7 miliar, melibatkan 481 badan usaha, dan menciptakan lebih dari 283 ribu lapangan kerja. Pada Triwulan II 2026, sebanyak 97 dari 481 tenant KEK atau sekitar 20 persen merupakan perusahaan asal Tiongkok.
Ali menegaskan, ke depan, kerja sama tersebut perlu diarahkan tidak hanya pada peningkatan investasi, tetapi juga pada penguatan teknologi, riset, sumber daya manusia, dan kapasitas industri nasional. Indonesia ingin memastikan bahwa kehadiran investasi menjadi bagian dari pembangunan ekosistem industri yang memberikan nilai tambah lebih besar bagi perekonomian nasional.
Komitmen tersebut tidak berhenti pada investasi, tetapi terus diarahkan pada penguatan kerja sama industri yang lebih konkret melalui Two Countries Twin Parks (TCTP). Sebagai platform strategis Indonesia–Tiongkok, TCTP menghubungkan kekuatan sumber daya, potensi pasar, dan lokasi strategis Indonesia dengan kapasitas investasi, teknologi, dan industri Tiongkok untuk mengembangkan proyek-proyek konkret dan ekosistem industri yang terintegrasi, sekaligus menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi kedua negara.
Pengembangan ekosistem tersebut berjalan seiring dengan terus tumbuhnya aktivitas investasi di KEK Kura Kura Bali. Hingga Semester I 2026, realisasi investasi kumulatif telah mencapai Rp1,8 triliun dengan penyerapan 2.173 tenaga kerja, serta mencatat 131.657 kunjungan.
Baca Juga: KEK Industropolis Batang Incar Pabrik Baru dari Tiongkok, Kawasan 4.300 Hektare Disiapkan
Baca Juga: BI Bongkar Ancaman RI: Kekurangan 3 Juta Tenaga Terampil
Capaian ini mencerminkan perkembangan KEK Kura Kura Bali sebagai salah satu kawasan yang tidak hanya menarik investasi, tetapi juga membuka peluang ekonomi dan lapangan kerja di Bali.
Di sisi lain, KEK Kura Kura Bali terus dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem pendidikan, riset, dan teknologi. TSEA yang berada di kawasan tersebut telah menjalankan berbagai program di bidang fisika dan neurosains serta menginisiasi Semiconductors Forum bersama Tsinghua University.
Ke depan, Kura Kura Bali dipersiapkan untuk menindaklanjuti program di bidang AI, riset dan pengembangan digital, serta ekonomi digital.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: