Kredit Foto: Istihanah
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyoroti ketimpangan skala pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Indonesia dengan Vietnam dan Malaysia.
Ia menyebut, luas KEK Indonesia yang disebut baru sekitar 24 ribu hektare dinilai masih jauh dibandingkan kedua negara tersebut, di tengah ambisi pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8%.
Airlangga menyebut Vietnam memiliki kawasan ekonomi khusus seluas sekitar 1,8 juta hektare, sedangkan Malaysia mencapai 2 juta hektare. Sementara itu, Indonesia saat ini memiliki 25 KEK dengan total luas sekitar 24 ribu hektare.
“Kalau kita bandingkan beberapa negara mendorong melalui kawasan ekonomi khusus seperti Vietnam dan Malaysia, mereka sudah punya kawasan ekonomi khusus dengan luasan 1,8 juta sampai 2 juta. Sedangkan kita masih 24 ribu,” kata Airlangga dalam Rapat Kerja Nasional KEK Triwulan III 2026 di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Berdasarkan angka tersebut, luas kawasan yang disebut Airlangga di Vietnam sekitar 75 kali luas KEK Indonesia, sedangkan Malaysia sekitar 83 kali. Meski demikian, perbandingan ini perlu mempertimbangkan kesamaan definisi dan cakupan kawasan yang dihitung di masing-masing negar
“Pengembangan KEK menjadi salah satu instrumen untuk memperbesar investasi dan mengejar target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8%. Ia juga menyoroti keberhasilan Vietnam dan Malaysia mengembangkan industri elektronik yang dinilai berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi kedua negara,” ujarnya.
Kesenjangan skala tersebut menjadi tantangan bagi Indonesia dalam menarik investasi industri. Terlebih, pemerintah masih mendorong perluasan sejumlah kawasan industri, termasuk KEK Kendal dan Gresik, yang dinilai memiliki potensi investasi besar.
Airlangga menyebut KEK Kendal memiliki potensi investasi Rp370 triliun dengan potensi penyerapan 250 ribu tenaga kerja. Sementara itu, KEK Gresik memiliki potensi investasi Rp264 triliun dan penyerapan tenaga kerja hingga 200 ribu orang.
Secara keseluruhan, realisasi investasi kumulatif di 25 KEK Indonesia telah mencapai Rp382,1 triliun dengan penyerapan 302 ribu tenaga kerja dan keterlibatan 509 badan usaha. Pada Januari hingga September 2026, investasi yang terealisasi mencapai Rp46 triliun dengan tambahan 53 ribu tenaga kerja.
Baca Juga: MSCI Picu Kekhawatiran, CFA Society Indonesia Beberkan 5 PR Pasar Modal RI
Baca Juga: Tepat Dua Tahun Menjabat Presiden, Harta Kekayaan Prabowo Subianto Tembus Rp 2,066 Triliun
Airlangga juga membandingkan efisiensi investasi melalui rasio Incremental Capital Output Ratio (ICOR). Menurut dia, ICOR Indonesia secara nasional berada di sekitar 6, sedangkan rata-rata di KEK berada di bawah 4. Rasio yang lebih rendah menunjukkan kebutuhan investasi yang relatif lebih kecil untuk menghasilkan tambahan output ekonomi.
Meski demikian, perluasan kawasan bukan satu-satunya faktor penentu daya saing investasi. Kepastian perizinan, ketersediaan tenaga kerja terampil, infrastruktur, serta keterhubungan industri pemasok turut menentukan kemampuan kawasan menarik investor dan mengubah investasi menjadi produksi serta ekspor.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: