8.000 Kopdes Merah Putih Dikejar Beroperasi, 159 Manajer Malah Mundur! Ada Apa?
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Target pengoperasian 8.000 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) pada pekan ini dibayangi persoalan sumber daya manusia. Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) Joao Angelo De Sousa Mota mengungkapkan, sebanyak 159 manajer koperasi tersebut resmi mengundurkan diri.
Pengunduran diri itu menjadi perhatian karena para manajer memiliki peran dalam menjalankan kegiatan koperasi yang tengah dipersiapkan pemerintah. Meski demikian, Joao tidak merinci penyebab pengunduran diri maupun dampaknya terhadap target operasional yang telah ditetapkan.
"Operasi 8.000. (Yang mengundurkan diri) 159 orang," kata Joao di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Rabu (14/10/2026).
Joao menilai mundurnya para manajer tersebut tidak menimbulkan kerugian negara. Ia mengakui terdapat anggaran yang telah dikeluarkan untuk Latihan Dasar Militer, tetapi menegaskan para peserta yang mengundurkan diri tetap merupakan bagian dari sumber daya manusia Indonesia yang telah mendapat pembinaan.
"Itu kan anak bangsa, tidak ada yang rugi. Kalau saya dibina boleh lah," tegas dia.
Pernyataan tersebut muncul ketika pemerintah sedang mengejar kesiapan ribuan Kopdes Merah Putih agar bisa segera menjalankan kegiatan usaha. Pengunduran diri 159 manajer menjadi salah satu persoalan yang perlu dicermati di tengah upaya mempercepat pelaksanaan program tersebut.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas menyebut hampir 29.000 Kopdes Merah Putih telah mencapai tahap kesiapan pembangunan. Dari jumlah tersebut, sekitar 8.000 koperasi tengah menjalani proses pemenuhan perlengkapan untuk mendukung operasional.
Perlengkapan yang disiapkan tidak hanya berupa barang kebutuhan pokok, tetapi juga komoditas yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat dan pertanian. Pupuk, gula, minyak goreng, hingga LPG termasuk dalam barang yang direncanakan tersedia melalui koperasi tersebut.
Kesiapan sarana distribusi juga menjadi perhatian pemerintah. Zulhas menyebut pengecekan dilakukan terhadap truk, mobil pikap, hingga kendaraan roda tiga untuk memastikan fasilitas yang disiapkan benar-benar dapat digunakan.
"Ada mobil truk itu benar nggak, apa omon-omon aja. Ya kalau ada truknya, benar nggak mobilnya hidup, apa baknya aja yang ada. Itu dicek. Ada mobil pick-up-nya, pick-up-nya nyala nggak, ada mesinnya nggak, bisa jalan apa tidak," tuturnya.
Pemeriksaan tersebut memperlihatkan bahwa kesiapan koperasi tidak cukup hanya dilihat dari ketersediaan bangunan atau perlengkapan secara administratif. Kendaraan distribusi, barang dagangan, serta sumber daya manusia juga menjadi bagian penting agar kegiatan usaha dapat berjalan.
Di sisi lain, pemerintah menyiapkan Kopdes Merah Putih untuk mendukung penyaluran bantuan pangan. Program tersebut mencakup bantuan beras sebanyak 1 juta ton bagi 33,2 juta penerima yang berada dalam kelompok desil 1 hingga 4.
Baca Juga: Hampir 2.000 Kopdes Merah Putih Terjangkau Bulog, 624 Ton Beras Masuk Pesanan
Keterlibatan koperasi dalam distribusi kebutuhan pokok dan bantuan pangan membuat kesiapan operasional menjadi penting. Namun, data mengenai target pengoperasian, jumlah manajer yang mengundurkan diri, dan tahapan pemenuhan perlengkapan belum dengan sendirinya menjelaskan apakah seluruh koperasi yang ditargetkan akan beroperasi sesuai jadwal.
Karena itu, perkembangan Kopdes Merah Putih perlu dilihat bukan hanya dari banyaknya unit yang disiapkan, tetapi juga dari kesiapan pengelolaan dan kemampuan menjalankan layanan. Target 8.000 koperasi pada pekan ini menjadi salah satu tahap penting untuk melihat bagaimana program tersebut berjalan di lapangan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama