SBY Ingatkan Bahaya Mengabaikan Rakyat, Singgung Pengalaman Pribadinya Saat Berkuasa
Kredit Foto: Partai Demokrat
Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengenang pengalaman panjang menghadapi aksi demonstrasi selama menjabat sebagai kepala negara pada periode 2004-2014. Menurutnya, kritik dan protes dari masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan demokrasi dan harus didengarkan oleh setiap pemimpin.
Hal itu disampaikan SBY saat memberikan orasi dalam peringatan Dies Natalis ke-68 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran (Unpad), Selasa (13/10/2026).
Dalam kesempatan tersebut, SBY sempat bercerita mengenai perbincangannya dengan Rektor Unpad, Arief Kartasasmita. Ia memuji suasana ruang kerja sang rektor yang dinilainya nyaman dan penuh inspirasi, bahkan bercanda bahwa pemandangan di sekitar ruangan tersebut layak dijadikan objek lukisan.
Namun, menurut SBY, Arief mengaku inspirasi itu terkadang terganggu ketika aksi demonstrasi mahasiswa berlangsung di depan kantornya. Mendengar hal itu, SBY menanggapinya dengan santai sambil mengingat pengalamannya sendiri yang kerap menjadi sasaran unjuk rasa ketika menjabat sebagai presiden.
"Unjuk rasa boleh, saya bilang, 'Bapak, unjuk rasa baru sekali dua kali, aku 10 tahun diunjuk rasa dulu'," ucapnya, dikutip Kamis (15/10).
"Tapi tidak apa-apa, itulah demokrasi, itulah suara rakyat, harus kita dengar. Kalau saya tidak mendengar suara rakyat, bisa jatuh. Tidak apa-apa," tegas SBY.
Lebih lanjut, Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat itu menekankan pentingnya tanggung jawab para pemimpin dalam menjaga arah pembangunan bangsa. Menurutnya, setiap generasi pemimpin harus memastikan proses kemajuan negara terus berjalan dan tidak terjebak pada kepentingan politik jangka pendek.
Baca Juga: Tak Hanya Soal Gibran, Ray Rangkuti Ungkap Alasan Minta Seluruh Komisioner KPU Diganti
SBY mengingatkan bahwa pembangunan Indonesia membutuhkan visi jangka panjang yang jelas. Ia berharap para pemimpin tidak hanya fokus pada kepentingan sesaat, tetapi juga memikirkan masa depan bangsa dalam beberapa dekade ke depan.
Selain itu, ia menegaskan bahwa cita-cita menjadikan Indonesia sebagai negara maju hanya bisa terwujud melalui persatuan, kerja keras, serta kepemimpinan yang memiliki kapasitas, integritas, dan visi yang kuat. Menurutnya, seorang pemimpin harus mampu menjaga kepercayaan publik dan tidak mudah kehilangan legitimasi di tengah perjalanan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: