AAJI Bicara Klaim Kesehatan akibat Karhutla, Nilainya Masih Dihitung
Kredit Foto: Azka Elfriza
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menyebut klaim asuransi terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejauh ini lebih banyak berhubungan dengan kesehatan. Namun, asosiasi belum mengantongi data konsolidasi untuk memastikan jumlah klaim maupun dampak finansial yang ditimbulkan bencana tersebut.
Kepala Departemen Marketing AAJI Karin Zulkarnaen mengatakan, informasi mengenai klaim kesehatan akibat karhutla masih bersifat awal dan perlu dikonfirmasi melalui laporan perusahaan asuransi anggota.
"Untuk karhutla sejauh ini yang kita dengar itu lebih banyak klaimnya berhubungan dengan kesehatan," tutur Karin dalam acara Media Briefing & Simbolis Penyerahan Donasi Program ISR 'Kebaikan Berkelanjutan' NTT di Jakarta, Senin (19/10/2026).
Menurut Karin, AAJI perlu menghimpun data dari perusahaan anggota terlebih dahulu sebelum menyampaikan perkembangan klaim secara lebih terperinci. Karena itu, asosiasi belum dapat memastikan besaran klaim yang berkaitan dengan gangguan kesehatan masyarakat terdampak karhutla.
“Belum dikumpulkan di AAJI. Jadi harus dikumpulkan dulu datanya. Nanti kita sharing lagi, kita update,” ucap Karin.
Di tengah belum tersedianya data tersebut, AAJI juga mempertimbangkan bantuan bagi masyarakat terdampak karhutla. Bentuk dan mekanisme penyaluran bantuan masih dibahas bersama perusahaan anggota, dengan program kesehatan sebagai salah satu opsi yang dipertimbangkan.
"Jadi sepertinya yang akan kita lakukan nanti programnya juga berhubungan dengan kesehatan," ujarnya.
AAJI sebelumnya telah memperoleh data klaim asuransi jiwa akibat bencana gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebesar Rp152,5 juta. Data tersebut dihimpun sekitar dua bulan setelah kejadian.
Namun, angka klaim akibat gempa di NTT tersebut tidak dapat langsung dijadikan pembanding untuk mengukur dampak finansial karhutla. Kedua bencana memiliki karakteristik berbeda, sementara data klaim karhutla masih harus dikumpulkan dari perusahaan anggota.
Sementara itu, dampak karhutla masih menjadi perhatian pemerintah. Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sekitar 639 hektare lahan di enam provinsi masih dalam proses pemadaman hingga Senin (12/10/2026).
Baca Juga: Klaim Asuransi Jiwa Korban Gempa NTT Cuma Rp152,5 Juta, AAJI Soroti Penetrasi
Baca Juga: Perusahaan Asuransi Mulai Pakai AI, AAJI Bidik Kontribusi Nyata ke Laba
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan, enam provinsi yang terdampak karhutla meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.
"Berdasarkan laporan Kepala BNPB, di enam provinsi paling terdampak karhutla masih terdapat sekitar 639 hektare lahan yang dalam proses pemadaman," kata Teddy.
Bagi industri asuransi, pengumpulan data klaim diperlukan untuk mengetahui besaran dampak bencana terhadap pemegang polis. Hingga kini, AAJI belum mengumumkan nilai klaim kesehatan akibat karhutla maupun menetapkan bentuk bantuan yang akan disalurkan kepada masyarakat terdampak.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: