Parlemen Malaysia Pakai Bahasa Jawa Titip Pesan ke Prabowo Segera Tangani Karhutla, Ahmad Khozinudin yang Minta Maaf
Kredit Foto: Ist
Mantan pengacara Roy Suryo, Ahmad Khozinudin, menyampaikan permintaan maaf kepada parlemen, pemerintah, dan masyarakat Malaysia atas kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Ia sekaligus mengkritik pemerintah Indonesia yang dinilainya belum tanggap menangani kebakaran hutan yang terus berulang.
Permintaan maaf tersebut disampaikan melalui sebuah video yang ditujukan kepada masyarakat Malaysia dan negara-negara tetangga yang terdampak kabut asap. Pernyataan itu juga menjadi respons atas kritik anggota parlemen Malaysia, Kalam Salan, yang sebelumnya menggunakan bahasa Jawa untuk mendesak Presiden Prabowo Subianto segera menangani karhutla.
Dalam videonya, Ahmad Khozinudin menyampaikan permintaan maaf menggunakan bahasa Jawa. Ia mengatakan bahwa gangguan pernapasan akibat asap tidak hanya dirasakan masyarakat Malaysia dan Singapura, tetapi juga warga Indonesia yang berada di wilayah terdampak.
“Aku yo njaluk ngapuro… seko warga Indonesia aku njaluk ngapuro karo kabeh sedulur-sedulur ning Malaysia, dulur-dulur ning Singapura, sedulur-sedulur ning daerah-daerah tetangga,” ujar Ahmad Khozinudin.
Ia menilai persoalan karhutla yang berulang setiap musim kemarau menunjukkan perlunya evaluasi serius terhadap penanganan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.
Ahmad Khozinudin menyebut persoalan kebakaran hutan telah berlangsung sejak pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), berlanjut pada era Presiden Joko Widodo, hingga pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini.
Menurutnya, pemerintah perlu melakukan pembenahan agar kebakaran hutan tidak terus berulang dan menimbulkan dampak lintas negara.
Ia juga menyoroti dugaan persoalan dalam pengelolaan kawasan hutan. Ahmad Khozinudin menyinggung kemunculan perkebunan kelapa sawit setelah kebakaran sebagai hal yang menurutnya perlu mendapat perhatian dan penelusuran lebih lanjut.
Ia berharap masyarakat Malaysia memahami bahwa kabut asap juga menimbulkan penderitaan bagi warga Indonesia, terutama mereka yang tinggal di daerah terdampak.
Ahmad Khozinudin turut mendorong pemerintah Indonesia mengambil langkah nyata dalam mencegah dan menangani karhutla, bukan sekadar menyaksikan dampaknya tanpa pembenahan yang memadai.
Anggota Parlemen Malaysia Desak Prabowo Padamkan Kebakaran Hutan
Sebelumnya, anggota parlemen Malaysia dari koalisi Perikatan Nasional (PN), Kalam Salan, menjadi sorotan setelah menyampaikan desakan kepada Presiden Prabowo Subianto menggunakan bahasa Jawa dalam sidang Dewan Rakyat, Rabu (21/10/2026).
Desakan tersebut disampaikan saat pembahasan Rancangan Undang-Undang Perbekalan atau anggaran pemerintah Malaysia 2027 di daerah pemilihan Sabak Bernam. Kalam meminta pemerintah Indonesia segera menangani kebakaran hutan dan lahan yang memicu kabut asap lintas batas.
“Pak Prabowo, tulung masalah iki enggal ditangani. Kobongan alas kudu dipateni,” ujar Kalam dalam sidang tersebut, seperti dikutip dari Sinar Harian.
Pernyataan itu menekankan pentingnya penanganan karhutla secara cepat agar dampaknya tidak terus merugikan masyarakat di Indonesia maupun Malaysia.
Kalam Salan juga menyoroti dampak kabut asap terhadap berbagai sektor kehidupan di Malaysia, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga perekonomian masyarakat.
Penurunan kualitas udara disebut dapat memicu gangguan pernapasan, batuk, dan asma. Selain itu, aktivitas pendidikan berpotensi terganggu, sektor pariwisata terdampak, dan pekerja perkebunan menghadapi kesulitan menjalankan pekerjaan.
Dampak tersebut juga dirasakan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di sektor perkebunan Malaysia. Ketika aktivitas kerja terganggu akibat kabut asap, pendapatan pekerja ikut terancam.
“Sing susah ora mung wong Malaysia, Pak. Wong Indonesia sing kerjo nang kebon Malaysia yo melu susah akibate asep iki. Ora iso kerjo, ora oleh duwit. Urip arep terus piye? Arep ngirim duwit kanggo anak bojo nang Indonesia. Mulo ojo malah iki digawe guyonan,” tegas Kalam.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: