Rakyat Kencangkan Ikat Pinggang! Ekonomi Diprediksi Masih Berat, Baru Membaik Tahun...
Kredit Foto: Antara/Sulthony Hasanuddin
Masyarakat Indonesia diperkirakan masih harus menghadapi tekanan ekonomi dalam satu tahun ke depan. Pegiat media sosial Hasyim Muhammad memprediksi kondisi ekonomi pada tiga tahun awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto akan terasa berat.
Menurutnya, perbaikan ekonomi kemungkinan baru akan terasa pada 2028, ketika pemerintahan Prabowo memasuki dua tahun terakhir sebelum pemilihan presiden berikutnya.
"Saya punya prediksi terhadap 3 tahun awal pemerintahan Prabowo ini, ekonomi akan tampak berat seperti sekarang," tulisnya di akun X, dikutip Jumat (23/10/2026).
"Namun di 2 tahun sebelum Pilpres, hasil dari minum "pil pahit" sekarang ini akan mulai terasa khasiatnya," lanjut dia.
Baca Juga: Bertubi-tubi Masalah, Prabowo Pamer Prestasi Indonesia: Kita Urutan Ketujuh Dunia
Menurut Hasyim, keinginan Prabowo untuk kembali terpilih pada 2029 menjadi salah satu pertimbangan dalam prediksinya mengenai arah ekonomi. Ia memperkirakan kondisi pada 2028 akan mulai menunjukkan perbaikan setelah masyarakat melewati periode yang dinilai penuh tekanan.
"Bagaimanapun Prabowo pasti ingin terpilih lagi di 2029. Kondisi di tahun 2028 nanti pasti akan terlihat membaik," ujarnya.
"Dan di saat itu tim Prabowo akan bilang: 'Kami membenahi banyak hal di awal periode untuk memperkuat pondasi. Maaf jika kondisi ekonomi agak menurun kemarin, tapi dengan begitu kondisi kita sekarang jadi bisa jauh lebih baik'," sambung Hasyim.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa proyeksi tersebut merupakan prediksinya. Jika perkiraannya tepat, masyarakat perlu bersiap menghadapi kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya membaik dalam waktu dekat.
Baca Juga: Bakom: Singapura-Malaysia Kawan, Prabowo Tegaskan Lawan Kita Adalah...
"Jika prediksi saya di atas benar, berarti kita harus siap, kondisi buruk masih akan berlangsung selama 1 tahun ke depan," ungkapnya.
Di luar prediksi tersebut, Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eisha M. Rachbini, Ph.D., menilai perekonomian Indonesia memang tidak bisa dianggap baik-baik saja di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Eisha mengingatkan pemerintah agar mencermati tiga jalur utama yang berpotensi mempengaruhi perekonomian nasional, yakni energi dan fiskal, rantai pasok global, serta investasi dan pasar keuangan.
Guncangan geopolitik global dapat memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui kenaikan harga energi, gangguan rantai pasok, hingga gejolak pasar keuangan. Dampaknya berpotensi meluas, mulai dari meningkatnya biaya produksi hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Pemerintah pun diminta memperkuat ketahanan ekonomi nasional untuk menghadapi berbagai risiko tersebut. Langkah ini dinilai penting mengingat tekanan global juga dapat mempersempit ruang fiskal, sehingga pemerintah perlu mengantisipasi dampaknya terhadap perekonomian dalam negeri.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: