Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ekonomi ASEAN+3 Sumbang 30% PDB Dunia, tapi Investasi Global Masih Seret

        Ekonomi ASEAN+3 Sumbang 30% PDB Dunia, tapi Investasi Global Masih Seret Kredit Foto: Antara/Antara
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Platform keuangan digital dinilai dapat menjadi jalur alternatif untuk mempercepat integrasi pasar keuangan ASEAN+3, yakni ASEAN, China, Jepang, dan Korea Selatan.

        Deputy Group Head and Senior Financial Specialist ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) Singapore Prashant Pande mengatakan, platform digital dapat melengkapi proses integrasi pasar keuangan konvensional yang berjalan bertahap.

        “Ini bukanlah sesuatu yang akan menggantikan apa yang sedang terjadi pada integrasi pasar keuangan. Namun demikian, ini dapat memberi anda jalur alternatif,” katanya dalam acara The 4th OJK International Research Forum 2026, Transforming Finance for Resilient Growth oleh OJK Institute secara daring, Senin (26/10/2026).

        Prashant mengatakan bahwa teknologi ini dapat mempermudah transaksi lintas negara dan menghubungkan tabungan regional dengan peluang investasi.

        Merinci, ia mentakan bahwa ASEAN+3 menyumbang sekitar 30% terhadap produk domestik bruto (PDB) global. Namun, kontribusi kawasan tersebut terhadap investasi portofolio global masih di bawah 10%. Kesenjangan itulah yang menjadi ruang untuk memperdalam pasar keuangan regional dan memperluas aliran investasi di antara negara-negara anggotanya.

        Ia menilai, platform digital berbasis aset yang ditokenisasi dapat meningkatkan interoperabilitas infrastruktur pasar. Dengan adanya teknologi itu, proses transaksi lintas negara berpotensi semakin mudah dan bisa membantu mengarahkan dana yang dihimpun di kawasan ke instrumen investasi regional.

        Namun, digitalisasi tidak melulu menyelesaikan seluruh hambatan integrasi. Investasi lintas negara masih dipengaruhi oleh perbedaan hukum dan regulasi, likuiditas mata uang yang terbatas, serta persepsi investor terhadap pasar.

        Oleh karena itu, Prashant menyarankan pendekatan bertahap dengan menggabungkan penguatan sistem keuangan konvensional dan penggunaan platform digital dengan green bonds dan efek keuangan syariah sebagai titik awal penerapannya.

        "Pendekatan hibrida tampaknya lebih masuk akal, di mana Anda melakukan perubahan bertahap pada kelas aset tradisional. Pada saat yang sama, Anda menggunakan teknologi baru untuk kelas aset yang terus berkembang," ucapnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: