Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        ASEAN Bakal Jadi Net Importir Gas Pasca 2032

        ASEAN Bakal Jadi Net Importir Gas Pasca 2032 Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Sanur, Bali -

        Negara-negara diĀ Association of South East Asian Nations (ASEAN) diproyeksikan akan menjadi net importir gas pada tahun 2032. Kondisi ini dipicu oleh menipisnya sumber produksi migas di kawasan.

        Dalam hal ini PT Pertamina (Persero) sebagai salah satu anggota National Oil Company (NOC) yang tergabung dalam ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) terus berupaya meningkatkan kolaborasi di kawasan sebagai salah satu upaya menjaga ketahanan energi di Asia Tenggara.

        "Kalau kita lihat prospeknya ke depan, ASEAN ini akan defisit di beberapa hidrokarbon yang dibutuhkan oleh masyarakat. Agar nanti anak cucu kita bisa survive, tentu kita harus membuat perencanaan yang matang, bagaimana kita bisa memperbanyak produksi di masing-masing negara dan juga kemudian untuk aktif berinvestasi bersama-sama di kawasan yang lain," ungkapĀ  Wakil Direktur Utama Pertamina (Persero), Oki Muraza, dalam agenda 51st ASCOPE yang diselenggarakan di The Meru Sanur, Bali, Selasa (28/10/2026).

        "Ekspektasinya setelah 2032 kita akan ASEAN akan net importer untuk gas," lanjut Oki.

        Mengantisipasi kondisi tersebut, negara-negara ASEAN mendorong penguatan kerja sama untuk meningkatkan produksi migas dan mengamankan pasokan energi di kawasan. Kerja sama ini juga mencakup peningkatan investasi di sektor hulu migas, pembangunan infrastruktur, hingga pengembangan energi terbarukan.

        Oki mengatakan, upaya tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam pertemuan ASCOPE tahun ini. Menurutnya, kolaborasi antarnegara diperlukan untuk memperkuat ketahanan energi di tengah ketidakpastian geopolitik global yang dapat mengganggu pasokan dan distribusi energi.

        "Di bidang ketahanan, kita mendiskusikan bagaimana kita sebagai ASEAN untuk bekerja lebih banyak lagi bersama-sama untuk memastikan investasi lebih banyak mengalir ke sektor hulu migas dan juga ke sektor infrastruktur, dan juga ke sektor energi terbarukan di Indonesia," ujar Oki.

        Selain mendorong peningkatan produksi di negara anggota, ASEAN juga berupaya memperlancar perdagangan minyak mentah dan produk energi. Pasalnya, kawasan tersebut masih mengalami defisit minyak mentah sehingga membutuhkan pasokan yang lebih terjamin.

        "Sebagai contoh saat ini ASEAN itu defisit dalam hal minyak mentah. Jadi kita mendiskusikan bagaimana agar trading minyak mentah ini lebih lancar ke ASEAN," jelasnya.

        Oki menambahkan, penguatan ketahanan energi regional turut melibatkan negara di luar ASEAN melalui skema ASEAN Plus Three, yakni China, Jepang, dan Korea Selatan. Ketiga negara tersebut diharapkan dapat membuka peluang investasi dan perdagangan energi untuk memenuhi kebutuhan kawasan.

        Pertemuan dengan negara-negara tersebut juga diarahkan untuk menjajaki potensi pasokan minyak mentah maupun produk olahan, seperti bensin dan LPG, dari perusahaan yang memiliki kapasitas produksi berlebih.

        "Jadi setelah ini sore ini kita akan bertemu dengan ASEAN Plus Three tadi yaitu China, Japan, dan Korea. Karena mereka juga punya perusahaan-perusahaan global ya yang ada di beberapa belahan dunia yang lain yang tentunya kita terus ingin explore jika ada kelebihan bahan baku dalam artian crude oil atau dalam kelebihan produk seperti gasoline atau LPG yang mungkin bisa memperkuat ketahanan energi dari region kita ASEAN dan juga Indonesia," kata Oki.

        Pertamina Genjot Investasi Hulu Migas

        Sejalan dengan upaya memperkuat ketahanan energi regional, Pertamina mengalokasikan sekitar 75% belanja modal (capital expenditure/capex) perusahaan untuk sektor hulu migas. Investasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan produksi melalui eksplorasi dan pengembangan lapangan.

        Oki mengatakan, langkah ini juga menjadi bagian dari upaya Pertamina mendukung target pemerintah mencapai produksi minyak sebesar 1 juta barel per hari pada 2030.

        Di Sumatra, Pertamina tengah membangun ekosistem pengembangan minyak dan gas nonkonvensional di wilayah Rokan. Potensi sumber daya di kawasan tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 11 miliar barel. Selain itu, perusahaan berupaya mempercepat pengembangan temuan Padang Pancuran di Jambi Merang yang disebut memiliki potensi lebih dari 1 miliar barel.

        Sementara itu, Indonesia Timur menjadi salah satu wilayah yang menjadi fokus eksplorasi Pertamina, terutama untuk pengembangan gas alam. Oki menilai kawasan tersebut masih menyimpan potensi gas yang dapat dikembangkan untuk mendukung kebutuhan energi nasional.

        "Kalau kita lihat peta Indonesia, itu eksplorasi kita mengatakan bahwa di Indonesia Timur itu masih banyak sekali gas yang kita bisa monetize," ujarnya.

        Baca Juga: Pertamina Alokasikan 75% Capex ke Hulu Migas di 2027

        Baca Juga: Pertama Kali dalam Sejarah, BEI Bakal Bagi Dividen kepada Anggota Bursa

        Namun, peningkatan investasi hulu migas membutuhkan dukungan kebijakan fiskal yang kompetitif agar Indonesia mampu menarik minat investor global. Menurut Oki, daya tarik investasi perlu dijaga sejak tahap eksplorasi hingga pengembangan lapangan dan penjualan hasil produksi.

        "Fiskal menjadi sangat penting agar memang Indonesia itu atraktif bagi investor dunia," pungkasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: