Pengusaha Singapura: Terima Kasih Prabowo, Dunia Jadi Sadar Harus Waspada Berbisnis dengan Indonesia
Kredit Foto: Reuters/Edgar Su
Pemerintah Republik Indonesia dinilai telah melakukan blunder yang sangat fatal karena telah memangkas ekspor gas secara sepihak ke Singapura. Bahkan ia dinilai menjadi satu langkah keliru dari Presiden Prabowo Subianto.
Pengusaha asal Singapura, Patrick Liew merilis sebuah surat terbuka yang sangat satire yang ditujukan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto. Dalam suratnya, ia menggunakan nada ucapan terima kasih palsu untuk menelanjangi rusaknya kredibilitas iklim investasi dari Indonesia.
Baca Juga: BEM UI: Ego Prabowo-Gibran Menjadi Penghalang Karhutla Dapat Status Bencana Nasional
"Terima kasih, hal ini telah mengajarkan kami dan seluruh dunia untuk menjadi lebih bijaksana dan waspada ketika berbisnis dengan dan di negaramu," kata Liew dikutip dari Linkedin Rabu (28/10/2026).
Bagi Liew, keputusan menjadikan komoditas energi sebagai senjata politik adalah sebuah bunuh diri reputasi. Indonesia, alih-alih terlihat berwibawa, justru mempertontonkan karakter sebagai mitra dagang yang tidak dapat diandalkan dan tidak menghormati kontrak internasional.
"Terima kasih telah mengorbankan reputasi dan kredibilitas bangsamu untuk menunjukkan kepada kami apa yang tidak boleh kami lakukan dalam ekonomi dan pasar global. Terima kasih telah mendemonstrasikan kepada kami bahwa keputusan semacam itu dapat membuat pemerintah, pengusaha, dan investor lain merinding," ungkap Liew.
Pengusaha Singapura dengan ini mengirimkan sinyal bahaya bahwa ketidakpastian regulasi dan sentimen emosional akan membuat aliran modal asing berpikir dua kali sebelum masuk ke Indonesia.
Sebelumnya, Menko Hilirisasi dan Investasi Bahlil Lahadalia sebelumnya menyatakan akan mengevaluasi ekspor gas secara selektif. Kebijakan ini ditujukan kepada negara-negara yang dinilai tidak memberikan rasa hormat terhadap kedaulatan dari Indonesia.
“Saya akan melakukan evaluasi. Saya tidak segan-segan untuk mempertimbangkan untuk tidak melakukan ekspor kepada negara mereka yang tidak menghargai Indonesia,” kata Bahlil.
Bahlil mengaitkan kebijakan proteksionisme energi tersebut dengan muruah sejarah kemerdekaan bangsa. Ia menyindir keras sikap geopolitik negara tetangga yang dinilai bersikap superior, sembari membandingkan proses pencapaian kemerdekaan antarnegara.
Baca Juga: Terseret Polemik Ijazah Gibran, Yusril Diminta Ulangi Sejarah 'Pengunduran Diri Presiden Soeharto'
“Kemerdekaan bukan hasil pemberian. Kemerdekaan kita adalah kemerdekaan yang diperjuangkan berabad-abad. Banyak yang dibunuh, banyak yang disuruh kerja paksa, banyak yang dilakukan pemerkosaan. Kemerdekaan Indonesia diraih dengan darah, keringat, air mata, serta nyawa. Saya tidak ingin ada negara lain yang kemerdekaannya diberikan mau mencoba menganggap seolah-olah mereka yang paling hebat daripada negara yang lain,” tegas Bahlil.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: