Israel Di ambang Perubahan Besar! Eisenkot Klaim Tumbangkan Netanyahu dan Siap Ambil Alih Kursi Perdana Menteri
Kredit Foto: Istimewa
Kandidat oposisi Israel Gadi Eisenkot menyatakan akan berupaya membentuk pemerintahan baru untuk menggantikan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Ia mengklaim hasil pemilu menunjukkan keinginan rakyat Israel untuk mengakhiri pemerintahan petahana tersebut.
Dilansir AFP, Rabu (28/10/2026), Eisenkot menyampaikan pernyataan itu di hadapan para pendukungnya pada Rabu dini hari, setelah hasil exit poll mulai dirilis. Hasil sementara tersebut menunjukkan blok oposisi yang dipimpinnya unggul tipis atas blok sayap kanan Netanyahu.
Meski demikian, kedua kubu belum memperoleh mayoritas kursi yang diperlukan untuk membentuk pemerintahan. Situasi ini membuat upaya membangun koalisi menjadi penentu bagi langkah politik selanjutnya.
"Rakyat telah berbicara menentang kelanjutan pemerintahan Netanyahu," kata Eisenkot.
Ia menegaskan akan berusaha mewujudkan pemerintahan baru sesuai dengan hasil yang ditunjukkan exit poll. Namun, keunggulan tipis tersebut belum memastikan oposisi dapat langsung mengambil alih pemerintahan.
Dalam pidatonya, Eisenkot juga memperingatkan Netanyahu agar tidak menjadikan isu keamanan sebagai alat untuk kepentingan politik. Ia menyoroti pernyataan Netanyahu dalam beberapa hari terakhir yang kembali mengancam akan menyerang Iran.
"Netanyahu, jangan berani menggunakan keamanan Israel untuk kepentingan politikmu," tegas Eisenkot.
Peringatan itu muncul di tengah situasi keamanan yang dapat memengaruhi dinamika politik Israel. Kondisi darurat akibat serangan terhadap Iran berpotensi menghambat proses pembentukan koalisi pemerintahan baru.
Baca Juga: Peserta Pemilu Israel Naik Tertinggi Sejak 1973, Perolehan Suara Netanyahu Tertinggal
Eisenkot juga menolak kemungkinan Israel kembali menggelar pemilu dalam waktu dekat apabila pembentukan pemerintahan menemui jalan buntu. Menurutnya, pemungutan suara ulang bukan langkah yang tepat setelah tingginya partisipasi masyarakat.
"Dalam pemilu dengan tingkat partisipasi setinggi ini, akan menjadi sebuah kesalahan jika kita kembali menggelar putaran pemilu lainnya," ujarnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: