Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pemilu Israel Memanas! Netanyahu Tuduh Partai Arab Lakukan Kecurangan Jual Beli Suara

Pemilu Israel Memanas! Netanyahu Tuduh Partai Arab Lakukan Kecurangan Jual Beli Suara Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melalui Partai Likud menuduh partai-partai Arab melakukan kecurangan dalam pemilu Israel 2026.

Tuduhan itu muncul setelah hasil sementara menunjukkan partai-partai Arab berpotensi menentukan pembentukan pemerintahan baru.

Pada Rabu (28/10/2026), Likud mengklaim menemukan sejumlah dugaan pelanggaran dalam pemilu, mulai dari korupsi, ancaman, kekerasan terhadap petugas, penyebaran kebohongan, hingga penggunaan perangkat lunak yang dilarang untuk meningkatkan partisipasi pemilih.

Partai tersebut menyatakan telah menyerahkan kesaksian dan bukti kepada pihak berwenang. Likud juga mengaku menemukan ribuan amplop berisi uang tunai serta berbagai dugaan intimidasi terhadap petugas tempat pemungutan suara.

Salah satu kasus yang menjadi sorotan adalah penangkapan tiga orang yang diduga berupaya membeli suara untuk Raam, partai Arab-Israel.

Polisi mengonfirmasi penangkapan tersebut pada Selasa (27/10/2026) malam. Dalam kasus itu, petugas menyita sejumlah amplop dan uang tunai senilai lebih dari 24.000 shekel atau sekitar Rp 140 juta.

Penjabat Direktur Jenderal Komite Pemilu Pusat Israel, Dean Livne, menyebut kasus tersebut sebagai kejadian yang tidak biasa.

Menurut dia, polisi menangkap para tersangka sebelum mereka sempat mendatangi tempat pemungutan suara untuk menjalankan dugaan aksi suap.

Meski demikian, Livne menyatakan kasus tersebut merupakan insiden tersendiri yang masih dalam penyelidikan.

Baca Juga: Pimpinan Hizbullah Ogah Pusing Soal Siapa Pemenang Pemilu Israel: Perlawanan Harga Mati!

Netanyahu sebelumnya juga menuduh partai-partai Arab, terutama Raam, berupaya mencuri kemenangan dalam pemilu.

Tuduhan itu disampaikan ketika pemungutan suara masih berlangsung pada Selasa.

Pemimpin Raam, Mansour Abbas, membantah pernyataan Netanyahu. Ia menuding perdana menteri berbohong dan sengaja melontarkan tuduhan untuk menggerakkan pemilih sayap kanan.

Partai Arab berpotensi menentukan pemerintahan

Dikutip dari Al Jazeera, lebih dari 84 persen suara telah dihitung hingga Rabu (28/10/2026). Hasil sementara memproyeksikan dua kelompok politik Arab-Israel, Joint List dan Raam, memperoleh total 17 kursi di Knesset yang memiliki 120 kursi.

Sementara itu, AFP melaporkan penghitungan lebih dari 85 persen suara menunjukkan blok sayap kanan pimpinan Netanyahu diperkirakan meraih 53 kursi.

Adapun blok oposisi yang dipimpin mantan Kepala Staf Militer Israel Gadi Eisenkot diproyeksikan memperoleh 48 kursi.

Kedua blok tersebut belum mencapai ambang mayoritas 61 kursi untuk membentuk pemerintahan. Situasi ini menempatkan partai-partai Arab pada posisi strategis dalam menentukan arah koalisi pemerintahan berikutnya.

Abbas mengatakan kedua blok utama telah menghubungi Raam sebelum dan sesudah pemungutan suara. Ia berharap hasil akhir penghitungan memungkinkan kubu anti-Netanyahu, termasuk partainya, mengumpulkan sedikitnya 61 kursi.

Namun, pengamat politik Israel Alon Pinkas menilai pembentukan pemerintahan oleh kubu Eisenkot berpotensi menghadapi kendala.

Pasalnya, kubu tersebut sebelumnya berjanji tidak akan membentuk koalisi bersama partai-partai Arab.

Pinkas mengatakan partai-partai Arab tidak bisa terus dikesampingkan dalam proses politik Israel.

Menurut dia, kelompok tersebut kemungkinan akan mengajukan sejumlah tuntutan yang belum tentu dapat diterima oleh koalisi yang didominasi partai-partai Yahudi.

Kekuatan partai-partai Arab dalam pemilu kali ini turut didukung peningkatan partisipasi warga Palestina yang menjadi warga negara Israel.

Menurut laporan Al Jazeera, tingkat partisipasi pemilih Palestina di Israel diperkirakan mencapai sekitar 80 persen berdasarkan jajak pendapat dan perkiraan awal. Angka tersebut melampaui rekor partisipasi pada 1999.

Secara keseluruhan, Komite Pemilu Pusat Israel mencatat tingkat partisipasi pemilih mencapai 77,7 persen, tertinggi sejak 1999.

Warga Palestina yang memiliki kewarganegaraan Israel mencakup sekitar 21 persen dari total populasi negara tersebut, yang berjumlah sekitar 10 juta jiwa.

Secara historis, tingkat partisipasi kelompok ini dalam pemilu cenderung lebih rendah dibandingkan warga Yahudi Israel.

Lonjakan partisipasi tersebut menjadi perhatian Netanyahu dan koalisinya. Pada hari pemungutan suara, Netanyahu menyerukan para pendukungnya untuk datang ke tempat pemungutan suara dan memilih Likud.

Ia juga menyoroti antrean panjang di sejumlah tempat pemungutan suara di komunitas Arab. Netanyahu memperingatkan pendukungnya mengenai kemungkinan terbentuknya pemerintahan yang melibatkan Mansour Abbas dan anggota Knesset Ahmad Tibi.

Partai-partai Arab mengecam pernyataan dan strategi Netanyahu sebagai tindakan rasis serta provokatif.

Sementara itu, kubu Eisenkot menuduh perdana menteri sedang membangun dasar untuk menggugat hasil pemilu.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Taufan Bara Mukti
Editor: Taufan Bara Mukti