Kredit Foto: Ist
Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Solo Raya menggelar aksi demonstrasi di Kota Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (28/10/2026). Massa memulai aksi dari kawasan Simpang Empat Ngarsopuro sebelum bergerak menuju Bundaran Gladak, tepatnya di sekitar Patung Brigjen Slamet Riyadi.
Aksi tersebut berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, termasuk Universitas Sebelas Maret (UNS), Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, dan Tiga Serangkai University, turut menyampaikan aspirasi mereka.
Berdasarkan laporan di lapangan, massa mulai berkumpul di kawasan Ngarsopuro sekitar pukul 15.30 WIB. Para mahasiswa kemudian membentuk lingkaran besar hingga menggunakan badan Jalan Slamet Riyadi untuk menyampaikan orasi.
Setelah berorasi hingga sekitar pukul 17.30 WIB, massa melanjutkan aksi dengan berjalan ke arah barat menuju Bundaran Gladak. Di lokasi tersebut, mahasiswa membentangkan spanduk di sekitar Patung Slamet Riyadi sebagai bagian dari penyampaian tuntutan.
Koordinator lapangan aksi dari BEM ISI Surakarta, Yoga Azka Nugraha, mengatakan demonstrasi tersebut merupakan kelanjutan dari aksi sebelumnya di kawasan Tugu Kartasura, Kabupaten Sukoharjo.
Menurut Yoga, aksi kali ini bertujuan memperkuat gerakan mahasiswa sekaligus mengingatkan pemerintah terhadap berbagai persoalan yang dinilai belum terselesaikan.
“ Aksi kedua ini lebih kepada penguatan, seperti menagih janji dan merawat ingatan. Biasanya, setelah aksi, orang-orang sudah lupa. Nah, kami ingin mengingatkan kembali bahwa persoalan-persoalan seperti ini belum selesai,” ungkap Yoga.
Baca Juga: Nikita Mirzani Menang Banding, Klaim Kerugian Reza Gladys Jadi Sorotan
Dalam demonstrasi tersebut, mahasiswa menyampaikan lima tuntutan utama kepada pemerintah. Pertama, mendesak pemerintah menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional.
Kedua, mahasiswa meminta agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) lebih berpihak kepada kepentingan masyarakat luas. Ketiga, mereka mendesak penurunan biaya pendidikan yang dinilai semakin membebani masyarakat.
Keempat, mahasiswa menuntut penghentian penyalahgunaan hukum serta pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Kelima, mereka meminta pemulihan kebebasan berpendapat, penegakan hukum terhadap pelanggaran hak asasi manusia (HAM), serta penghentian militerisasi di ruang sipil.
Mahasiswa juga menggunakan simbol tiga jari sebagai representasi sikap perlawanan terhadap otoritarianisme dan oligarki. Mereka menilai berbagai persoalan kebangsaan perlu terus mendapat perhatian agar kepentingan masyarakat, terutama kelompok ekonomi bawah, tidak terabaikan.
Aksi di kawasan Ngarsopuro hingga Gladak tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa Solo Raya untuk terus menyuarakan kritik dan menagih komitmen pemerintah terhadap tuntutan yang mereka sampaikan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Taufan Bara Mukti
Editor: Taufan Bara Mukti
Tag Terkait: