Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Salam 3 Jari Guru Besar UGM Disindir Relawan Gibran: Gagal Move On?

Salam 3 Jari Guru Besar UGM Disindir Relawan Gibran: Gagal Move On? Kredit Foto: Antara/Sulthony Hasanuddin
Warta Ekonomi, Jakarta -

Aksi demonstrasi memperingati Hari Sumpah Pemuda di Yogyakarta, Rabu (28/10/2026) lalu, tak hanya diwarnai kritik terhadap pemerintah. Penggunaan salam tiga jari oleh Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Zainal Arifin Mochtar, saat berorasi rupanya turut memancing sindiran dari Ketua Umum Gibranisti, Taufik Bilfaqih.

Taufik secara khusus menyoroti gestur tiga jari yang diperlihatkan akademisi yang akrab disapa Uceng tersebut di tengah orasinya. Ia kemudian mengaitkan salam itu dengan Ganjar Pranowo yang pada Pilpres 2024 lalu mendapat nomor urut tiga.

Melalui sindirannya, Taufik mempertanyakan apakah penggunaan salam tersebut menunjukkan bahwa Zainal belum bisa melupakan kontestasi politik sebelumnya.

Baca Juga: Denny Indrayana Temui Petinggi PDIP Bahas Kasus Ijazah Gibran: Mereka Kelihatannya...

“Sumpah pemudanya ucenk pake salam 3 jari, ganjarian banget. Gagal move on?" kata Taufik, dikutip Jumat (30/10/2026).

Sebelumnya, Zainal menyampaikan sejumlah keresahannya mengenai praktik penyelenggaraan negara yang dianggap tidak mencerminkan teori ketatanegaraan yang selama ini diajarkan di perguruan tinggi.

Dalam orasinya di hadapan massa aksi, Rabu (28/10/2026), ia mengkritik pelaksanaan prinsip checks and balances, proses pembentukan undang-undang, hingga penegakan hukum. Sebagai seorang dosen, Zainal mengaku prihatin karena materi yang diajarkannya kepada mahasiswa justru tidak terlihat dalam praktik bernegara.

"Keresahan saya sebagai dosen, mengajar itu nggak ada yang benar juga. Saya ngajar teori checks and balances, nggak ada yang jalan," ucap Zainal. 

Baca Juga: Mendadak Cabut dari Sidang Gibran, Politisi PSI: Tangkap Denny Indrayana

Kritik serupa juga diarahkan pada proses pembentukan peraturan perundang-undangan. Menurutnya, praktik yang dilakukan Presiden dan DPR tidak sesuai dengan teori perundang-undangan yang selama ini dipelajari di lingkungan akademik. Ia turut menyinggung pelaksanaan hukum oleh Mahkamah Agung.

"Saya ngajar soal teori perundang-undangan, undang-undang nggak begitu cara buatnya, Presiden dan DPR. Saya ngajar soal Mahkamah Agung seharusnya memutus dengan baik, nggak begitu yang dilakukan hukum," ujarnya.

Tak berhenti pada kritik terhadap lembaga negara, Zainal juga mengajak para demonstran menyatukan berbagai keresahan agar tidak sekadar menjadi keluhan yang disuarakan secara terpisah oleh masing-masing kelompok.

Ia mendorong terbentuknya gerakan bersama untuk memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara. Zainal bahkan menyerukan perlawanan terhadap ketidakadilan yang menurutnya telah membuat masyarakat menderita.

"Mari kita satukan, kita usir penjajah yang berbaju bangsa sendiri. Kita usir negara yang seolah berlaga mengurusi kita, padahal mengurusi kantong mereka sendiri," tegasnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri