Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        BRMS Kantongi Laba US$11 Juta, Produksi Emas Meroket 166%

        BRMS Kantongi Laba US$11 Juta, Produksi Emas Meroket 166% Kredit Foto: Djati Waluyo
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) berhasil membalikkan kerugian menjadi keuntungan pada kuartal III 2026. Pemulihan kinerja emiten tambang emas tersebut ditopang peningkatan produksi dan penjualan emas setelah rampungnya kegiatan pushback di tambang Poboya, Palu, Sulawesi Tengah.

        Berdasarkan keterangan resmi perseroan, Rabu (28/10/2026), BRMS membukukan laba bersih sebesar US$11,01 juta pada kuartal III 2026. Capaian tersebut berbalik dari rugi bersih US$4,78 juta yang dicatatkan pada kuartal sebelumnya.

        Pendapatan perusahaan juga melonjak menjadi US$71,79 juta dari US$26,32 juta pada kuartal II 2026. Sementara itu, laba usaha meningkat menjadi US$20,06 juta dibandingkan US$3,36 juta pada periode sebelumnya.

        Lonjakan kinerja tersebut sejalan dengan meningkatnya volume emas yang dijual perseroan. Pada kuartal III 2026, penjualan emas BRMS mencapai 16.748 troy ounce atau sekitar 521 kilogram, melesat 165,80% dibandingkan 6.301 troy ounce atau sekitar 196 kilogram pada kuartal sebelumnya.

        Peningkatan produksi terjadi setelah BRMS menyelesaikan kegiatan pushback di tambang emas terbuka River Reef, Poboya, pada Juli 2026. Rampungnya kegiatan tersebut memungkinkan perseroan mulai menambang bijih dengan kadar emas lebih tinggi sejak akhir Juli.

        Rata-rata kadar emas dalam bijih yang diproses meningkat dari 0,90 gram per ton pada kuartal II menjadi 1,94 gram per ton pada kuartal III 2026.

        Direktur Utama sekaligus Chief Executive Officer BRMS, Agus Projosasmito, menyambut positif pemulihan kinerja perusahaan tersebut.

        "Kami cukup puas dengan pencapaian Perusahaan di Q3 2026. Terlepas dari faktor-faktor makro dan eksternal yang mempengaruhi industri domestik dan pasar modal nasional, kami tetap percaya terhadap fundamental BRMS yang kuat," ujar Agus dalam keterangan resminya.

        Agus menjelaskan bahwa penyelesaian kegiatan pushback menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan produksi emas perseroan pada semester kedua tahun ini.

        "Kegiatan pushback di Poboya, Palu telah diselesaikan dengan baik di Juli 2026 lalu. Oleh karenanya produksi emas dari lokasi tambang terbuka diharapkan dapat meningkat pada 2H 2026," jelasnya.

        Di sisi pemasaran, anak usaha BRMS, PT Citra Palu Minerals (CPM), telah menandatangani perjanjian penjualan sebagian besar produksi emasnya kepada sejumlah pembeli dengan harga yang dinilai kompetitif. Perseroan berharap hampir seluruh produksi emas pada semester kedua 2026 dapat terserap pasar.

        Meski menunjukkan pemulihan pada kuartal III, kinerja kumulatif BRMS sepanjang Januari–September 2026 masih berada di bawah periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan sembilan bulan pertama 2026 tercatat sebesar US$167,58 juta, turun dari US$183,58 juta, sedangkan laba bersih mencapai US$24,29 juta dibandingkan US$37,62 juta pada sembilan bulan pertama 2025.

        Untuk memperkuat produksi ke depan, BRMS juga melanjutkan pengembangan tambang emas bawah tanah River Reef. Panjang terowongan bawah tanah di lokasi tersebut telah mencapai lebih dari 975 meter dari pintu masuk tambang.

        Baca Juga: Emiten Bakrie (BUMI) Caplok 100% Saham Mount Margaret Senilai US$22 Juta

        Baca Juga: BUMI Buka Suara soal Rumor Akuisisi Kideco, Ini Sikap Resminya

        Baca Juga: Bos BRMS dan Direksi Lainnya Borong Saham, Ada Sinyal Apa?

        CPM menargetkan penambangan bijih berkadar emas di atas 3,2 gram per ton dapat dimulai pada pertengahan 2027. Selain itu, peningkatan kapasitas pabrik emas dari 500 ton menjadi 2.000 ton bijih per hari diharapkan selesai pada awal 2027.

        "Selanjutnya, rencana penambangan bijih berkadar tinggi dari tambang emas bawah tanah akan memungkinkan kami untuk dapat terus meningkatkan produksi emas di tahun 2027 dan 2028," kata Agus.

        Sementara itu, anak usaha lainnya, PT Gorontalo Minerals (GM), tengah mengoperasikan empat alat pengeboran eksplorasi di tambang tembaga Cabang Kiri East, Gorontalo. Jumlah alat pengeboran direncanakan bertambah menjadi tujuh unit di tiga lokasi pada 2027, dengan hasil estimasi sumber daya mineral tembaga ditargetkan disampaikan pada semester kedua tahun tersebut.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Merlina Aryanti
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: