Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Perusahaan patungan dua anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Etam Chemical (BEC), bakal membangun pembangkit listrik tenaga uap atau PLTU captive untuk menopang operasional pabrik metanol di Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Presiden Direktur BEC, Rio Supin, mengatakan pembangkit tersebut akan dibangun secara terintegrasi dengan fasilitas produksi metanol. Selain memasok listrik, PLTU itu dibutuhkan untuk menghasilkan uap dalam jumlah besar bagi proses produksi dan pengoperasian mesin.
“Oh ya jadi pembangkitnya pembangkit listrik sendiri sudah saya sampaikan tadi. Pembangkit listrik di sini tuh kita juga bisa sebut dia pembangkit, bisa kita sebut itu steam generator. Karena ini sendiri tuh butuh steam yang banyak untuk prosesnya ini untuk menggerakkan mesin-mesinnya,” kata Rio dalam sesi doorstop, Rabu (29/7/2026).
BEC merupakan perusahaan yang sahamnya masing-masing sebesar 50% dimiliki PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia. Perusahaan tersebut mengembangkan proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol dengan kapasitas produksi tahap pertama sebesar 2 juta ton per tahun.
Rio menegaskan pembangkit yang akan dibangun menggunakan batu bara sebagai sumber energi. Pemilihan PLTU berkaitan dengan karakter proyek yang mengolah batu bara kalori rendah menjadi produk kimia bernilai tambah.
“PLTU, karena kan kita hilirisasi batu bara. Jadi kalau misalnya yang non-batu bara jadi nggak masuk secara secara dari awal basic kan yang mau dihilirisasi ini kan batu bara. Dan juga karena tadi butuh steam yang besar tadi,” ujarnya.
Menurut Rio, pabrik metanol tidak hanya membutuhkan pasokan listrik, tetapi juga uap yang dapat diperoleh secara langsung dari boiler. Karena itu, perusahaan memilih membangun pembangkit sendiri di kawasan proyek.
“Kalau misalnya kita pakai misalnya gini analoginya kalau misalnya kita solar, terus listrik bikin kompor listrik lagi, padahal yang kita butuh itu dari boiler ambil uapnya langsung. Jadi emang PLTU bangun sendiri,” kata Rio.
Meski demikian, BEC belum mengungkapkan kapasitas listrik PLTU captive tersebut. Rio menyatakan masih perlu memeriksa detail kapasitas pembangkit berdasarkan desain teknis proyek.
“Wah nanti saya cek ya nanti boleh saya cek berapa tepatnya. Oke ya,” tuturnya.
Dalam pengembangannya, BEC memperkirakan kebutuhan batu bara untuk proses gasifikasi dan bahan bakar pembangkit mencapai sekitar 7,7 juta ton per tahun. Batu bara yang akan digunakan merupakan batu bara kalori rendah sekitar 3.300 kilokalori per kilogram dengan basis gross as received atau GAR.
Dengan demikian, kebutuhan 7,7 juta ton tersebut bukan seluruhnya untuk bahan bakar PLTU, melainkan kebutuhan gabungan untuk bahan baku gasifikasi dan operasional pembangkit.
Pabrik dirancang menghasilkan 2 juta ton metanol per tahun pada tahap pertama. KPC dan Arutmin juga berkomitmen meningkatkan kapasitas produksi proyek secara bertahap hingga 3,6 juta ton per tahun.
Berdasarkan hasil studi kelayakan yang diselesaikan pada 2025, investasi proyek diperkirakan mencapai lebih dari US$2,3 miliar atau sekitar Rp41,52 triliun. Proyek akan dibangun di atas lahan seluas 93 hektare di kawasan Batuta Chemical Industrial Park.
BEC juga akan membangun fasilitas pemurnian air secara terintegrasi dengan pabrik dan PLTU captive. Integrasi tersebut diperlukan untuk memenuhi kebutuhan listrik, air, dan uap dalam proses pengeringan batu bara, gasifikasi, pembersihan gas sintesis, sintesis metanol, hingga distilasi metanol.
Baca Juga: Tekan Impor, Anak Usaha BUMI Bangun Pabrik Metanol Rp41,52 Triliun di Kaltim
Baca Juga: BRMS Ambil Alih Citra Palu Minerals Rp164 Miliar dari BUMI
Saat ini, pekerjaan pematangan lahan proyek telah mencapai sekitar 70%. Pengerjaan lahan sebelumnya dimulai pada 2020, tetapi sempat terhenti setelah proyek bersama Air Products dibatalkan. Pekerjaan kemudian kembali dilanjutkan pada 2025.
Setelah tahap rekayasa dan penyusunan paket desain proses selesai, perusahaan akan memesan sejumlah peralatan dengan waktu pengadaan panjang atau long lead item. Waktu penyediaan peralatan tersebut diperkirakan berkisar enam hingga 18 bulan.
BEC menargetkan proses commissioning pabrik dapat dimulai pada 2029. Sementara itu, produksi metanol secara komersial ditargetkan berjalan pada 2030.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: