Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Saham BCA Anjlok 40%, Asing Ramai-Ramai Jual dan Keluarga Hartono Justru Bertahan

        Saham BCA Anjlok 40%, Asing Ramai-Ramai Jual dan Keluarga Hartono Justru Bertahan Kredit Foto: BCA
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami tekanan besar sepanjang 2026. Dalam sepuluh bulan terakhir, harga saham bank swasta terbesar di Indonesia ini merosot hampir 40%, dari Rp8.025 pada awal tahun hingga sempat menyentuh Rp4.820 per saham pada Senin (19/10/2026).

        Penurunan tersebut membuat kapitalisasi pasar BCA menyusut sekitar Rp395 triliun. Nilai yang hilang ini bahkan hampir tujuh kali lipat dari laba bersih perusahaan dalam setahun.

        Meski begitu, saham BBCA sempat menunjukkan sedikit pemulihan. Hingga penutupan perdagangan sesi I, Jumat (30/10/2026), saham BCA berada di level Rp4.980 per saham.

        Kendati mengalami kenaikan dari posisi terendahnya, harga saham BBCA masih berada di bawah level psikologis Rp5.000.

        Tekanan terhadap saham BCA juga terlihat dari aksi jual investor asing. Berdasarkan data perdagangan yang dikutip Jumat (30/10/2026), aksi jual bersih (net sell) asing di saham BBCA mencapai Rp31 triliun. Angka ini setara dengan 38% dari total net sell investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang 2026.

        Sentimen negatif terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI) turut memperburuk kondisi pasar saham domestik. Bahkan, IHSG sempat anjlok 11,57% dalam sehari pada 16 Oktober 2026. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam sejak krisis 1998.

        Menariknya, di tengah tekanan besar terhadap saham BCA, keluarga Hartono justru tetap mempertahankan kepemilikannya. Melalui PT Dwimuria Investama Andalan, keluarga Hartono tidak melepas satu lembar pun saham BCA. Jumlah kepemilikan mereka tetap sebanyak 54,94 miliar saham.

        Meski jumlah sahamnya tidak berubah, nilai kekayaan mereka dari kepemilikan tersebut ikut tergerus seiring penurunan harga BBCA. Pada awal tahun, nilai saham itu diperkirakan mencapai Rp543 triliun. Namun, kini nilainya menyusut menjadi sekitar Rp326 triliun.

        Artinya, nilai kepemilikan saham BCA milik keluarga Hartono berkurang sekitar Rp217 triliun. Meski mengalami penurunan nilai yang sangat besar, mereka tetap mempertahankan kepemilikannya di bank tersebut.

        Di tengah gejolak harga saham, sejumlah rumor mengenai pengambilalihan BCA juga sempat beredar di pasar.

        Pada Agustus 2025, misalnya, muncul isu bahwa Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) akan mengambil alih 51% saham BCA. Namun, kabar tersebut langsung dibantah oleh CEO Danantara, Rosan Roeslani.

        Tak berhenti di situ, nama pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau yang dikenal sebagai Haji Isam juga sempat dikaitkan dengan isu akuisisi saham BCA pada 25 September 2026. Namun, BCA dengan tegas membantah kabar tersebut.

        Menariknya, pada pekan yang sama ketika rumor akuisisi oleh Haji Isam beredar, tercatat transaksi negosiasi saham BBCA senilai Rp1,35 triliun. Hingga kini, pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi tersebut tidak diungkap ke publik.

        Baca Juga: DBS Bantah Merger dengan BCA Milik Keluarga Hartono

        Baca Juga: Saham BCA Babak Belur 6,4% ke Level Rp4.940 per Saham Usai Rumor Merger dengan DBS Dibantah!

        Baca Juga: Modal BCA Masih Jumbo, Peluang Bagi Dividen Tetap Terbuka

        Padahal, jika melihat kinerja fundamentalnya, BCA masih menunjukkan performa yang kuat. Dari sisi Return on Equity (ROE), BCA menjadi yang tertinggi di antara empat bank besar di Indonesia per Juni 2026.

        ROE BCA tercatat sebesar 24,13%, disusul Bank Mandiri sebesar 23,16%, BRI sebesar 18,8%, dan BNI di kisaran 13,1%–14,39%.

        Dari sisi laba bersih, BCA juga mencatatkan kinerja yang solid. Hingga September 2026, laba BCA mencapai Rp45,2 triliun, hampir setara dengan Bank Mandiri yang membukukan laba Rp45,5 triliun.

        Sementara itu, BRI mencatatkan laba sebesar Rp34,77 triliun dan BNI sebesar Rp16,15 triliun.

        Dengan profitabilitas dan perolehan laba yang masih kuat, penurunan harga saham BCA tentu memunculkan pertanyaan besar.

        Jika kinerja bisnisnya masih solid, mengapa investor asing justru ramai-ramai menjual saham BCA?

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: