Singapura Hanya Makelar Komoditas dan Benalu Ekonomi Indonesia, Kata Said Didu
Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
Hubungan Indonesia dan Singapura yang selama ini dielu-elukan saling menguntungkan (mutually beneficial) dibongkar habis-habisan oleh Eks Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Muhammad Said Didu.
Said Didu menegaskan bahwa posisi tanah air selama ini tak ubahnya sebagai "sapi perah" bagi Singapura. Menurutnya, negara tersebut telah bertindak bak benalu dalam ekosistem perekonomian nasional. dari Indonesia.
Baca Juga: BYD Subang Digeruduk Ormas, Menteri Prabowo: Warga Merasa Belum Cukup, Jangan Beda Frekuensi
Merujuk data Kementerian Investasi, Penanaman Modal Asing (PMA) dari Singapura di Indonesia 2025 memang memimpin dengan angka US$17,4 miliar. Namun, Said Didu meminta publik tidak silau dengan angka tersebut.
Ia berargumen bahwa dana segar itu masuk murni karena besarnya peluang eksploitasi bisnis di tanah air, di mana pada akhirnya seluruh dividen dan margin keuntungan yang luar biasa besar ditarik kembali dan dinikmati di Singapura.
"Artinya justru merekalah yang mencari rezeki di sini untuk mendapatkan keuntungan, dan keuntungan tersebut dikembalikan ke mereka untuk dinikmati oleh Singapura," ujar Said Didu, dikutip Sabtu (31/10/2026).
Ia bahkan berani menyinggung adanya dugaan praktik kotor berupa suap kepada pejabat korup demi memuluskan eksploitasi investasi tersebut, meski hal ini masih sebatas tudingan analitis, bukan vonis hukum.
Said Didu juga menyoroti borok perdagangan komoditas di mana negara tetangga itu meraup untung dari keringat petani dan penambang tanah air tanpa memproduksi apa pun.
Singapura ditengarai memainkan peran sebagai makelar (perantara) raksasa; membeli komoditas alam dari negara ini dengan harga ditekan semurah mungkin, untuk kemudian diekspor ulang ke pasar global dengan harga premium.
Pola perdagangan asimetris yang merugikan ini terkonfirmasi secara tidak langsung dari neraca perdagangan, di mana pada sebelumnya, pemerintah masih mencatatkan impor hingga US$19,16 miliar dari Singapura.
Said Didu mendesak pemerintahan saat ini untuk merombak total arsitektur hubungan ekonomi kedua negara agar kekayaan alam dan pasar domestik Indonesia tidak terus-menerus diisap oleh negara tetangga.
Adapun Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia baru-baru ini membongkar kecurigaannya bahwa gas alam cair yang selama ini diekspor secara masif tidak murni digunakan untuk menghidupi hajat domestik dari Singapura.
Bahlil membeberkan bahwa pemerintah telah menyuplai hingga 148 kargo gas cair ke Singapura. Namun, pemerintah mencium adanya anomali data konsumsi yang mengindikasikan bahwa negara tersebut bertindak sebagai perantara (middleman) untuk meraup cuan dari komoditas energi asal Indonesia.
Baca Juga: Sentil Absennya Gibran di Tiap Sidang, Denny Indrayana: Dia Telah Merendahkan MK
"Keyakinan saya bahwa pengiriman 148 kargo itu tidak semuanya itu dipakai untuk kepentingan mereka, tapi sebagian dijadikan sebagai trading untuk kemudian diekspor lagi ke negara lain. Tapi ada sebagian pasti untuk konsumsi mereka," kata Bahlil.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar