Komdigi: Kepercayaan Jadi Kunci Pengembangan Ekosistem Digital Indonesia
Kredit Foto: Warta Ekonomi
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menilai kepercayaan menjadi faktor utama dalam pengembangan ekosistem digital Indonesia. Pasalnya, pembangunan infrastruktur dan perluasan akses internet perlu diimbangi dengan peningkatan kapabilitas masyarakat serta perlindungan dari berbagai risiko di ruang digital.
Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Komdigi, Sonny Hendra Sudaryana, mengatakan teknologi, talenta, hingga modal dapat diperoleh melalui berbagai cara. Namun, kepercayaan tidak dapat dibangun secara instan dan harus diperoleh melalui upaya berkelanjutan.
"Teknologi bisa kita impor, talenta bisa kita kembangkan, modal bisa kita cari, AI bisa kita latih, but trust must be earned. Itu pesannya, khususnya di teknologi, karena di digital ini nomor satu adalah trust," ujar Sonny dalam Best Digital Finance Awards 2026 Warta Ekonomi, Jumat (30/10/2026).
Menurut Sonny, pengembangan ekosistem digital Indonesia perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pembangunan konektivitas hingga pemanfaatan teknologi yang memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Dia menjelaskan, Komdigi memiliki tiga fokus utama dalam pengembangan ekosistem digital, yakni Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga (T3).
Pada aspek konektivitas, lebih dari 80% penduduk Indonesia atau sekitar 220 juta orang telah terhubung dengan internet. Sementara itu, pembangunan jaringan serat optik di pulau-pulau besar telah diselesaikan dengan panjang infrastruktur yang mencapai hampir 500.000 kilometer (km).
“Fiber optic itu kalau diulur mungkin hampir setengah juta kilometer, atau 9 kali keliling bumi, Pak, kalau diputar ya. Itu backbone-nya,” jelasnya.
Adapun pengembangan konektivitas ke depan akan disesuaikan dengan karakteristik wilayah. Untuk kawasan perkotaan, pemerintah mendorong pemerataan jaringan 5G. Sementara itu, wilayah semi urban diarahkan pada pemerataan 4G dengan dukungan satelit, sedangkan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) mengandalkan satelit dan teknologi low Earth orbit (LEO).
“Setelah konektivitasnya terhubung, fokus kedua adalah bagaimana kita memaksimalkan pertumbuhan ekonomi melalui konektivitas yang kita bangun di bawah,” kata Sonny.
Meski demikian, Sonny mengingatkan bahwa peningkatan akses internet belum sepenuhnya diikuti kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi secara aman dan produktif.
"We are getting very good in giving access. Kita jago banget nih ngasih akses, tapi gak dibarengi dengan meningkatkan kapabilitas orangnya," katanya.
Dia menilai masih terdapat kesenjangan antara akses digital, inklusi keuangan, dan tingkat literasi masyarakat. Kondisi tersebut turut meningkatkan kerentanan terhadap penipuan digital, termasuk kesulitan membedakan investasi dengan perjudian.
“Dan itu yang menyebabkan tingkat penipuan, orang salah memahami bedanya judi dengan investasi. Jadi kapabilitas dari masyarakat yang ada gap di sini,” tuturnya.
Menurutnya, perkembangan teknologi juga membuat modus penipuan semakin canggih. Bahkan, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) telah memungkinkan pelaku melakukan penipuan melalui panggilan video dengan menggunakan wajah orang lain.
Selain penipuan berbasis AI, Sonny mengidentifikasi sejumlah risiko lain dalam pengembangan ekosistem digital Indonesia. Risiko tersebut mencakup pelebaran kesenjangan antara masyarakat yang memiliki akses AI dan yang tidak, keamanan AI dan data, pencemaran informasi, kedaulatan data, serta dampak sosial dan budaya.
Baca Juga: Komdigi Siapkan Kriteria Penghapusan Konten dalam 24 Jam
Baca Juga: Komdigi Catat 69 Aplikasi Pemerintah Sudah Beroperasi di PDN
Sementara itu, CEO sekaligus Chief Editor Warta Ekonomi Muhamad Ihsan turut menyoroti pentingnya kepercayaan dalam perkembangan industri keuangan digital dan marketing.
Dia mengatakan, keuangan digital kini telah berkembang menjadi sebuah ekosistem yang tidak lagi terbatas pada aplikasi. Perkembangan tersebut juga terlihat dari peningkatan penggunaan pembayaran digital di Indonesia.
Ihsan mencatat transaksi QRIS mencapai Rp600,7 triliun pada Juni 2026, dengan jumlah pengguna dan merchant mencapai 45 juta.
Menurutnya, hubungan antara pemasaran dan keuangan digital semakin erat karena kepercayaan yang dibangun melalui layanan keuangan digital dapat menjadi fondasi bagi perusahaan untuk menciptakan dampak bisnis melalui strategi pemasaran.
"Digital finance membangun trust, sementara marketing turns that trust into business impact," ujar Ihsan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Dwi Aditya Putra