Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Gubernur BI Blak-blakan, Rupiah Punya PR Besar di Sektor Ekspor dan Investasi

        Gubernur BI Blak-blakan, Rupiah Punya PR Besar di Sektor Ekspor dan Investasi Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, terus terang mengenai pelemahan nilai tukar rupiah yang telah mencapai sekitar 7,9%. 

        Dia mengakui masih ada pekerjaan rumah (PR) struktural yang perlu dibenahi Indonesia untuk memperkuat nilai tukar rupiah, terutama dari sisi ekspor dan aliran investasi.

        Destry mengatakan, penguatan rupiah tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan moneter dan intervensi bank sentral. Indonesia juga perlu memperkuat fundamental ekonomi agar pasokan valuta asing di dalam negeri semakin memadai.

        Menurutnya, salah satu PR yang perlu diselesaikan adalah meningkatkan kinerja ekspor. Pasalnya, aktivitas ekspor menjadi salah satu sumber utama pasokan devisa yang dapat menopang kebutuhan dolar AS di dalam negeri.

        Selain ekspor, Destry menyoroti pentingnya mendorong masuknya investasi portofolio ke pasar keuangan domestik. Arus modal asing tersebut dibutuhkan untuk menambah pasokan valuta asing sekaligus mendukung stabilitas nilai tukar.

        "Secara struktural diatasnya, khususnya tadi saya sampaikan sektor eksternal kita, ekspor kita yang harus kita tingkatkan potensinya, dan portfolio inflow yang memang harus kita dorong," terang Destry dalam RAPIMNAS KADIN 2026, dikutip Sabtu (31/10/2026).

        Karena itu, menurut Destry, penguatan sektor eksternal perlu dilakukan secara bersamaan melalui peningkatan potensi ekspor dan upaya menarik investasi portofolio. Kedua faktor tersebut menjadi bagian dari pekerjaan struktural yang tidak bisa diselesaikan hanya melalui respons jangka pendek di pasar keuangan.

        Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.147 per Dolar AS, Dibayangi Konflik AS-Iran hingga Isu Politik

        Baca Juga: KPK Geruduk Kantor Djarum! Kerugian Negara di Kasus Cukai Diduga Tembus Angka Triliunan Rupiah

        Pelemahan rupiah sekitar 7,9% pun menjadi pengingat bahwa menjaga stabilitas nilai tukar membutuhkan fondasi ekonomi yang kuat. 

        “Selain menjaga stabilitas pasar, Indonesia perlu memperbesar kemampuan menghasilkan devisa dan mempertahankan daya tarik investasi agar ketahanan rupiah lebih terjaga,” rencana Destry.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aryo Hadi Wibowo
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: