Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membenarkan PT Pertamina Patra Niaga (PPN) bakal mengimpor bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dari China dan India. Langkah tersebut dilakukan untuk mendiversifikasi sumber pasokan di tengah meningkatnya risiko geopolitik global, terutama di kawasan Timur Tengah.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengatakan Pertamina Patra Niaga telah berkomunikasi dengan pemerintah terkait rencana diversifikasi sumber impor Pertalite tersebut.
”Iya sudah berkomunikasi ... Kalau Pertalite, ya kan sebelumnya diimpor juga dari negara yang satu (Singapura) itu kan. Nah ini kita cari diversifikasi dari negara lain,” kata Laode saat ditemui usai pelantikan pejabat di lingkungan Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (2/11/2026).
Laode menjelaskan, mekanisme impor langsung oleh Pertamina masih berjalan selama masa transisi penerapan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 107 Tahun 2026. Pemerintah saat ini tengah menyiapkan aturan turunan berupa Peraturan Menteri (Permen) ESDM untuk mengatur tahapan dan mekanisme pelaksanaan kebijakan tersebut.
”Sekarang masih berjalan. Sekarang kita sedang siapkan tahapan-tahapan menuju implementasi. Jadi setelah Perpres kan harus ada Permen untuk merinci secara detail tahapannya seperti apa, mekanismenya seperti apa,” lanjutnya.
Sebelumnya, Senior Expert Trading PT Pertamina Patra Niaga Angga Mahendra mengungkapkan perusahaan telah memperoleh pasokan Pertalite dari China dan India. Hal itu disampaikannya dalam gelaran Aspebindo Energy Leadership di Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Angga menjelaskan, sebelumnya Pertamina Patra Niaga memperoleh pasokan Pertalite dari kawasan Strait, yakni Singapura dan Malaysia. Namun, perusahaan mulai memperluas sumber pengadaan ke negara-negara di luar kawasan tersebut untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu sumber pasokan.
"Yang menarik, yang baru saja kami lakukan adalah kami telah melakukan pengadaan Pertalite ini dari wilayah Strait, Singapura dan Malaysia. Dalam rangka untuk meningkatkan keandalan pasokan Pertalite di dalam negeri, agar tidak rely on dengan satu sumber, maka kami juga telah melaksanakan pengadaan dari wilayah non-Strait," ujar Angga.
Dia menyebut China dan India menjadi negara asal pasokan Pertalite yang telah diperoleh perusahaan melalui strategi diversifikasi tersebut.
"Kita melakukan diversifikasi sumber pasokan, sehingga apabila terjadi gangguan di satu titik, satu origin, maka kita masih bisa mengantisipasi dari origin lainnya. Yang mana kita telah mendapatkan pasokan dari China dan India," jelasnya.
Angga menambahkan, diversifikasi pasokan menjadi salah satu strategi perusahaan untuk menghadapi peningkatan risiko geopolitik sejak awal 2026. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah dinamika di Selat Hormuz yang berpotensi mengganggu rantai pasok energi global.
Selain mengancam kelancaran distribusi energi, kondisi geopolitik juga mendorong kenaikan biaya pengangkutan kapal atau freight cost. Situasi tersebut turut meningkatkan tantangan perusahaan dalam mengamankan pengadaan minyak mentah maupun produk BBM impor.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Pertamina Patra Niaga juga memperkuat pengadaan melalui skema kerja sama antarpemerintah atau government to government (G2G). Skema ini melengkapi mekanisme pengadaan melalui pelelangan yang selama ini dijalankan perusahaan.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Dapat Pertalite dari China dan India
Baca Juga: Tawarkan WK Migas di 67 Cekungan Frontier, ESDM Siapkan Aturan Baru
Di samping itu, perusahaan mengombinasikan pengadaan jangka panjang melalui skema term dengan pengadaan jangka pendek melalui mekanisme spot. Strategi tersebut diterapkan untuk mengamankan kebutuhan BBM dan LPG domestik sekaligus memberikan fleksibilitas dalam memenuhi kebutuhan pasokan.
Angga menambahkan, perusahaan juga memperbaiki ketentuan kontraktual dengan para pemasok untuk mengantisipasi keterlambatan pengiriman kargo dan ketidaksesuaian spesifikasi produk atau off-spec. Perusahaan menyiapkan ketentuan penalti bagi pemasok yang tidak memenuhi kesepakatan pengadaan.
"Scheduling supply menjadi penting bagi kami untuk menjaga keandalan energi," pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra