Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harta Prajogo Pangestu Turun, Tak Lagi Jadi Raja Orang Terkaya RI

        Harta Prajogo Pangestu Turun, Tak Lagi Jadi Raja Orang Terkaya RI Kredit Foto: Barito Pacific
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kekayaan konglomerat pendiri Grup Barito, Prajogo Pangestu mengalami penyusutan paling tajam di antara enam orang terkaya Indonesia. Berdasarkan data Bloomberg Billionaires Index yang dikutip per Senin (2/11/2026), hartanya merosot US$31,4 miliar atau sekitar 72,1% sejak awal tahun, menyisakan kekayaan sebesar US$12,1 miliar.

        Jika menggunakan asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS, penurunan tersebut setara sekitar Rp565,2 triliun. Angka itu menunjukkan besarnya koreksi kekayaan Prajogo setelah sebelumnya sempat menduduki posisi orang terkaya di Indonesia.

        Pada pertengahan 2025, Prajogo sempat merebut posisi puncak daftar konglomerat terkaya Tanah Air dari pemilik PT Bayan Resources Tbk (BYAN), Low Tuck Kwong.

        Berdasarkan informasi yang diperoleh, kekayaan Prajogo tercatat mencapai US$29,4 miliar per 1 Juli 2025. Nilainya kemudian terus meningkat hingga sempat menembus US$50 miliar pada akhir Oktober 2025, yang menjadi salah satu titik tertinggi kekayaannya.

        Namun, kondisi tersebut berbalik memasuki 2026. Kekayaan Prajogo mulai mengalami tekanan signifikan sejak akhir Januari, seiring penurunan harga sejumlah saham perusahaan Grup Barito yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

        Pelemahan tersebut terjadi di tengah keputusan MSCI untuk membekukan sejumlah perubahan terkait saham Indonesia dalam proses peninjauan indeks berkala. Langkah itu berkaitan dengan kekhawatiran mengenai transparansi pasar dan kualitas informasi yang digunakan investor global.

        Dua emiten yang menjadi bagian penting dari portofolio kekayaan Prajogo turut mengalami tekanan harga saham sepanjang tahun berjalan.

        Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dilaporkan mengalami penurunan lebih dari 60% sejak awal tahun hingga akhir Oktober 2026.

        Sementara itu, saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) mencatatkan koreksi yang lebih dalam, yakni hampir 80% pada periode yang sama.

        Penurunan harga kedua saham tersebut menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan penyusutan nilai kekayaan Prajogo, mengingat sebagian besar kekayaan konglomerat dihitung berdasarkan estimasi nilai kepemilikan aset, termasuk saham perusahaan terbuka.

        Dengan kekayaan tersisa US$12,1 miliar, Prajogo kini menempati posisi kedua dalam daftar enam orang terkaya Indonesia berdasarkan data Bloomberg per 2 November 2026.

        Posisi teratas ditempati pemilik Grup Royal Golden Eagle, Sukanto Tanoto, dengan estimasi kekayaan sebesar US$21,4 miliar. Kekayaannya tercatat bertambah US$518 juta sejak awal tahun.

        Di posisi ketiga terdapat Anthoni Salim, pemilik Grup Indofood dan First Pacific, dengan total kekayaan US$12 miliar setelah mengalami penurunan US$4,11 miliar sepanjang tahun berjalan.

        Selanjutnya, konglomerat Grup Djarum Budi Hartono menempati posisi keempat dengan estimasi kekayaan US$11,8 miliar. Nilai tersebut menyusut US$8,2 miliar dibandingkan posisi awal 2026.

        Berbeda dengan sebagian besar konglomerat lainnya, pemilik Grup Mayapada, Tahir, justru mencatatkan pertumbuhan kekayaan terbesar secara nominal di antara enam nama tersebut.

        Kekayaan Tahir bertambah US$1,1 miliar sejak awal tahun menjadi US$10,1 miliar. Meski mencatatkan kenaikan, posisinya masih berada di peringkat kelima.

        Baca Juga: 4 Emiten Grup Barito Telah Buyback Saham Sebesar Rp830,7 Miliar hingga Awal November 2026

        Baca Juga: Barito Pacific Raup Pendapatan US$8,69 Miliar per September 2026

        Sementara itu, Low Tuck Kwong menempati posisi keenam dengan estimasi kekayaan US$9,34 miliar. Pemilik Bayan Resources tersebut mengalami penyusutan harta sebesar US$15,5 miliar sejak awal tahun.

        Dengan demikian, Prajogo mencatatkan penurunan kekayaan paling besar secara nominal maupun persentase di antara keenam konglomerat tersebut.

        Perubahan nilai kekayaan para konglomerat ini juga memperlihatkan besarnya pengaruh pergerakan harga saham terhadap estimasi harta pemilik perusahaan terbuka.

        Meski nilai kekayaan Prajogo turun tajam, angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan nilai aset dan kepemilikan yang dapat berubah mengikuti pergerakan pasar, bukan berarti seluruh penurunan itu merupakan kerugian tunai yang telah direalisasikan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Merlina Aryanti
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: