Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        OCBC Ramal The Fed Naikkan Bunga Desember, BI Menyusul?

        OCBC Ramal The Fed Naikkan Bunga Desember, BI Menyusul? Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        OCBC Group memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), kembali menaikkan suku bunga acuannya pada Desember 2026. Tak hanya itu, Bank Indonesia (BI) juga dinilai masih berpeluang melakukan kenaikan suku bunga di tengah tekanan eksternal terhadap nilai tukar rupiah.

        Chief Economist & Head of OCBC Group Research, Selena Ling menjelaskan bahwa tekanan inflasi AS masih menjadi pertimbangan utama The Fed, terutama akibat tingginya harga energi dan kondisi pasar tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan. Meski demikian, OCBC tidak melihat kenaikan tersebut sebagai awal dari siklus pengetatan moneter yang agresif.

        "Pandangan kami, The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember dan kemungkinan memasuki periode penahanan suku bunga yang cukup panjang," ujar Selena dalam OCBC Outlook 2027 di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

        Menurutnya, ketidakpastian konflik di Timur Tengah membuat pergerakan harga minyak sulit diprediksi.

        Di sisi lain, fenomena El Nino berpotensi mendorong kenaikan harga pangan pada paruh kedua 2027, sehingga bank sentral perlu mempertimbangkan dampak kebijakan moneter dalam jangka panjang.

        Sementara itu, Selena mengungkapkan bahwa OCBC masih memperhitungkan kemungkinan satu kali kenaikan suku bunga BI. Namun, bank sentral domestik diperkirakan tidak akan terburu-buru mengambil keputusan mengingat sebagian besar tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia berasal dari faktor eksternal.

        Baca Juga: Ibrahim Assuaibi: Harga Emas Terancam Terkoreksi, The Fed Jadi Pemicu

        Baca Juga: The Fed Tahan Suku Bunga di 4 Persen, Waspadai Inflasi yang Belum Mereda

        "Kami masih memperhitungkan satu kali kenaikan suku bunga BI, tetapi mereka mungkin akan menunggu dan mencermati perkembangan untuk sementara waktu," jelasnya.

        Selena menilai arah kebijakan moneter ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, harga energi, dan situasi geopolitik global. Apabila tekanan tersebut mereda, ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan berpotensi kembali terbuka pada akhir 2027.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Merlina Aryanti
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: