Presiden Direktur Prudential Syariah Iskandar Ezzahuddin (kiri) saat menjadi pembicara dalam sesi bertajuk "Expanding Sharia Investment Opportunities for Sustainable Takaful Growth", bersama (dari kiri), Dewan Syariah Nasional MUI Gunawan Yasni, Co-Founder & CEO PT Teknologi Gotong Royong Andryan Gouw, dan Ketua Bidang Produk, Aktuaria dan Keuangan AASI Bukit Raharjo, di even Sharia Insurance International Forum 2026 yang digelar Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) di di Menara Syariah, PIK 2 (22/9). Dalam paparannya, Iskandar menyoroti apa yang sebenarnya dibutuhkan perusahaan asuransi jiwa syariah dari pasar investasi syariah, mulai dari kesesuaian durasi aset dan kewajiban, likuiditas, hingga diversifikasi instrumen. Ia menjelaskan bahwa penetrasi asuransi jiwa syariah di Indonesia masih di bawah satu persen, sementara permintaan terus tumbuh dan gaya hidup syariah kian menjadi arus utama. Tantangan justru berada di sisi investasi: pasokan sukuk korporasi yang masih terbatas, pergerakan emiten yang keluar-masuk Daftar Efek Syariah, perlakuan pajak Gold Exchange Traded Fund yang belum efisien, serta instrumen derivatif syariah yang masih terbatas pengembangannya. "Yang kita butuhkan adalah ekosistem investasi syariah yang membantu industri tumbuh secara efisien dan bertanggung jawab, sehingga kita mampu memenuhi janji jangka panjang kepada para Peserta," ujar Iskandar.