Apa Itu White-box Testing?

Apa Itu White-box Testing? Kredit Foto: Unsplash/ Surface

White Box Testing adalah salah satu teknik dalam software testing di mana struktur internal, desain, dan coding suatu software diuji untuk memverifikasi aliran input-output dan untuk meningkatkan desain, fungsionalitas, dan keamanannya. Dalam white box testing atau WBT, kode terlihat oleh penguji sehingga disebut juga sebagai clear box testing, open box testing, dan transparent box texting.

Ini adalah salah satu dari dua bagian dari pendekatan Box Testing dalam software testing. Sementara itu, pada black box testing melibatkan pengujian dari perspektif eksternal atau end user. Di sisi lain, white box testing dalam software engineering didasari pada cara kerja aplikasi dan berkisar pada pengujian internal.

Baca Juga: Apa Itu Freeware?

Istilah White Box digunakan karena konsep kotak tembus pandang. Kotak bening atau dengan nama White Box melambangkan kemampuan untuk melihat melalui kulit terluar software (atau box itu sendiri) ke dalam cara kerja bagian dalamnya. Demikian juga nama "kotak hitam" pada black box testing digunakan karena kita tidak dapat melihat cara kerja bagian dalam software sehingga hanya pengalaman pengguna yang dapat diuji.

Mengapa Kita Perlu Melakukan White Box Testing?

Kita perlu menggunakan metode WBT untuk memastikan:

  • Bahwa semua jalur independen dalam modul telah dilakukan setidaknya sekali;
  • Semua keputusan logis diverifikasi pada nilai benar dan salahnya.;
  • Semua loop dieksekusi pada batasannya dan dalam batasan operasionalnya, validitas struktur data internal.

Kemudian, WBT juga berfungsi untuk menemukan jenis bug berikut:

  • Kesalahan logis cenderung menyusup ke dalam pekerjaan kita ketika sedang merancang dan mengimplementasikan fungsi, kondisi, atau kontrol yang berada di luar program;
  • Kesalahan desain karena perbedaan antara alur logis program dan implementasi aktual;
  • Kesalahan tipografi dan pemeriksaan sintaks.

Apakah Ini Membutuhkan Skill Programming?

Kita perlu menulis kasus uji yang memastikan cakupan lengkap logika program.

Untuk itu, kita perlu mengetahui program dengan baik sehingga kita harus mengetahui spesifikasi dan kode yang akan diuji. Jadi, pengetahuan tentang bahasa pemrograman dan logikanya diperlukan untuk jenis pengujian ini.

Bagaimana Cara Melakukan White Box Testing?

Untuk memberi Anda penjelasan sederhana tentang white box testing, kita akan membedah dengan membaginya menjadi dua langkah dasar. Inilah yang dilakukan oleh penguji saat sedang menguji aplikasi menggunakan teknik white board testing:

Langkah 1. Pahami Source Code

Hal pertama yang sering dilakukan penguji adalah mempelajari dan memahami source code aplikasi tersebut. Karena white box testing melibatkan pengujian cara kerja bagian dalam aplikasi, penguji harus menguasai bahasa pemrograman yang digunakan dalam aplikasi yang mereka uji. Selain itu, orang yang menguji harus bisa menggunakan praktik coding yang aman. Keamanan sering kali menjadi salah satu tujuan utama software testing. Penguji harus dapat menemukan masalah keamanan dan mencegah serangan dari peretas dan pengguna naif yang mungkin menyuntikkan kode berbahaya ke dalam aplikasi, baik secara sadar atau tidak sadar.

Langkah 2. Buat Kasus Uji dan Eksekusi

Langkah kedua dalam white box testing melibatkan pengujian source code aplikasi untuk aliran dan struktur yang tepat. Salah satu caranya adalah dengan menulis lebih banyak kode untuk menguji source code aplikasi. Penguji akan mengembangkan tes kecil untuk setiap proses atau rangkaian proses dalam aplikasi. Metode ini mengharuskan penguji untuk memiliki pengetahuan yang mendalam tentang kode dan sering dilakukan oleh pengembang. Metode lainnya meliputi manual testing, trial and error testing.

Investasi terbaik ialah investasi leher ke atas. Yuk, tingkatkan kemampuan dan keterampilan diri Anda dengan mengikuti kelas-kelas di WE Academy. Daftar di sini.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini