Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Lika-Liku Orde Baru Versi B. Wiwoho

Lika-Liku Orde Baru Versi B. Wiwoho Kredit Foto: Instagram/B Wiwoho
Warta Ekonomi, Jakarta -

Keluarga Mahasiswa dan Alumni Penerima Beasiswa Supersemar (KMA-PBS) menggelar pengajian dan bedah buku Trilogi Buku: Jatuh Bangun Strategi Pembangunan OrdeBaru.

B Wiwoho yang merupakan pengarang buku tersebut mengatakan, tulisannya itu berasal dari catatan akan kesaksiannya pada saat aktif sebagai wartawan.

Baca Juga: Sudah Terbit! yang Ingin kenal Sosok BJ Habibie Harus Tau Buku Ini

"Buku ini merupakan catatan saya, kesaksian saya. Tentu saya tidak mengeklaim ini sempurna karena apa yang saya tulis adalah kesaksian pandangan saya dari satu sisi," ujar Wiwoho dalam diskusi tersebut, Minggu (30/1/2022).

Wiwoho mengatakan, sudut pandangnya akan pemerintahan orde baru dalam buku tersebut dapat diumpamakan dengan kompleks yang sangat luas dan dirinya hanya melihat dari sudut yang dapat dilihatnya.

"Bagaimana bangunan besar jalannya pemerintahan orde baru ini bagaikan kompleks gedung, tapi saya mencoba mengungkapkan sisi yang saya coba pandangi," ujarnya.

Dalam menulis buku itu, Wiwoho mengatakan tidak berat ke satu sisi yang dibuktikan dengan pengantar buku yang dibuat dengan konteks "Orde Baru Kelebihan dan kekurangan". Hal tersebut dilakukan untuk menulis secara objektif akan pemerintahan orde baru yang bertahan selama 32 tahun tersebut.

"Saya menulis ini apa adanya karena dalam pengantarnya saya buat 'orde baru kelebihan dan kekurangannya' tentu kalau saya tidak menulis objektif apa yang baik dan apa yang kurang itu aneh karena bagaimana kita bisa belajar dari perjalanan pemerintahan orde baru kalau saya tidak berani mengungkapkan apa adanya," jelasnya.

Wiwoho melanjutkan, dirinya menuliskan buku ini mulai dari apa yang dilihat pada era tahun 1960-an. Menurutnya, pada saat itu kondisi Indonesia hampir sama seperti yang terjadi saat ini. Saat itu terjadi polarisasi yang hampir serupa, yaitu terjadi gejala pembelahan bangsa. Namun, ada yang berbeda antara 1960-an dengan saat ini.

"Bedanya pada 60-an pembelahanya itu berciri karena pembelahan ideologis antara komunis dan nonkomunis, sedangkan sekarang mohon maaf saya sangat miris merasakanya karena ada di dalam lingkungan hidup sehari-hari. Gejala pembelahanya ini sudah mengarah ke SARA, kebetulan pada masa orba dijaga ketat jangan sampai itu meledak muncul ke permukaan," paparnya.

Baca Juga: Kamaruddin Bocorkan Kode Rahasia untuk Ferdy Sambo Saat Rekonstruksi Kasus Joshua: Hanya Intelijen yang Bisa Membaca

Penulis: Djati Waluyo
Editor: Puri Mei Setyaningrum

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: