Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Jokowi Terbang ke Rusia dan Ukraina, Menandakan Indonesia Makin Super Power di Mata Dunia

Jokowi Terbang ke Rusia dan Ukraina, Menandakan Indonesia Makin Super Power di Mata Dunia Kredit Foto: Garuda Indonesia
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menjadi pemimpin Asia pertama yang mengunjungi Kyiv dan Moskow sejak konflik kedua negara terjadi.

Langkah Jokowi ke Ukraina dan Rusia untuk tujuan perdamaian mendapatkan dukungan dari Komisi Pertahanan DPR.

"Jadi secara prinsip ya tentu kami mendukung langkah aktif ini, tapi perlu juga tetap dijaga kewibawaan kita dan juga agar bisa membuat reaksi positif. Jangan malah membuat hal-hal yang kontra produktif nantinya, tapi intinya kita mendukung," kata anggota Komisi Pertahanan DPR Bobby Rizaldi, hari ini.

Baca Juga: Setelah Ditinggal Jokowi, Sosok Ini yang Sekarang Pegang Kendali Penuh

Kunjungan Jokowi ke kedua negara yang sedang berkonflik dinilai Bobby menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mulai berperan aktif dalam kancah global. Sikap yang menurut Bobby tidak ditunjukkan pemerintah dalam beberapa waktu terakhir. "Ini berbeda dengan sebelum-sebelumnya, kita seperti pasif, defensive," kata Bobby.

Perang antara Rusia dan Ukraina dikatakan oleh Bobby berdampak serius, misalnya krisis energi dan pangan, di negara-negara lain.

"Ini yang sangat berbahaya kalau ini terus menerus karena kita baru selesai dari pandemi Covid, kita harus menghadapi potensi adanya krisis energi dan energi pangan," kata Bobby dalam diskusi daring Crosscheck, Minggu (26/6/2022).

Baca Juga: Presiden Jokowi Terbang ke Jerman Hari Ini Bawa Misi Perdamaian

Dalam misi perdamaian yang akan dibawa Jokowi dalam kunjungan ke Ukraina dan Rusia, dia akan membicarakan masalah rantai pangan yang harus diaktifkan kembali.

"Dan ini saya rasa adalah kontribusi Bapak Presiden Jokowi, dia melihat perlunya ada peran aktif. Paling tidak perang ini berhenti dulu, negosiasi, setelahnya dengan dialog, bukan dengan blokade, bukan dengan artileri atau perang konvensional," kata Bobby.

Editor: Annisa Nurfitriyani

Bagikan Artikel:

Video Pilihan