Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Perang Berkepanjangan dengan Iran: AS Siap, Tapi Israel Tidak

Perang Berkepanjangan dengan Iran: AS Siap, Tapi Israel Tidak Kredit Foto: Reuters
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemimpin Israel dan Amerika Serikat mengisyaratkan bahwa konflik melawan Iran bisa berlangsung selama berminggu-minggu.

Pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump menegaskan bahwa durasi perang tidak menjadi persoalan bagi Washington, dengan alasan militer AS memiliki kapasitas untuk menghadapi konflik jangka panjang.

Namun bagi Israel, situasinya dinilai lebih rumit karena dengan perang yang berkepanjangan akan berpotensi menambah beban besar baik secara militer, ekonomi, maupun sosial.

Ini adalah rentetan setelah berbulan-bulan terlibat dalam perang di Gaza serta serangan dan ketegangan di Lebanon, Suriah, dan putaran konflik sebelumnya dengan Iran.

"Begitu perang dimulai, Israel langsung tersapu gelombang militerisme," ujar ekonom politik Israel, Shir Hever.

Dikutip dari Al Jazeera, sejak melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu lalu, Israel menghadapi serangan balasan berupa rudal dan drone secara berulang.

Sirene peringatan serangan udara berbunyi di berbagai wilayah, sekolah-sekolah ditutup, dan puluhan ribu tentara cadangan dimobilisasi.

Kota-kota seperti Haifa dan Tel Aviv menjadi sasaran serangan berkelanjutan. Layanan darurat dilaporkan bekerja di bawah tekanan, sementara rakyat Israel yang tidak terbiasa menghadapi perang dalam skala seperti ini terdampak karena menghabiskan hari-hari mereka keluar-masuk bunker perlindungan.

Meski demikian, untuk saat ini dukungan terhadap perang masih tinggi. Wawancara dengan warga di sejumlah kota besar menunjukkan adanya dorongan kuat untuk menghadapi Iran, yang selama puluhan tahun digambarkan sebagai ancaman eksistensial bagi Israel.

Hampir seluruh spektrum politik, kecuali kelompok kiri jauh, menyatakan dukungan terhadap pemerintah.

Shir Hever menyebut suasana kali ini berbeda dibanding perang 12 hari pada Juni 2025. Saat itu, publik lebih diliputi kepanikan dan ketakutan bahwa Iran dapat menghancurkan Israel. Kini, yang terlihat justru semangat militer yang menggebu dan rasa percaya diri berlebihan.

"Bahkan para pengkritik perang yang jumlahnya sangat sedikit hanya menyarankan agar Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menjaga agar perang berjalan singkat, seolah-olah Israel bisa menentukan sendiri kapan perang berakhir,” tambahnya.

Dukungan luas terhadap perang juga disebut sebagai bagian dari proses radikalisasi masyarakat Israel. Politisi sayap kanan yang sebelumnya berada di pinggiran kini masuk ke pusat kekuasaan.

Polarisasi politik dan tekanan ekonomi pun mempercepat arus keluarnya generasi muda dan talenta terbaik dari negara tersebut.

Sementara itu, masyarakat yang tetap tinggal disebut telah lama dibentuk untuk memandang Iran sebagai musuh utama. Perang berminggu-minggu berpotensi semakin memperkuat pola pikir militeristik tersebut.

“Ini seperti blitz di Inggris saat Perang Dunia II,” kata Daniel Bar-Tal, akademisi dari Universitas Tel Aviv. “Saat itu, warga Inggris menerima pemboman karena merasa sedang melawan kejahatan terbesar. Orang Israel merasakan hal serupa. Sejak kecil kami didoktrin untuk percaya bahwa Iran adalah kejahatan, dan itu diperkuat sejak taman kanak-kanak, sekolah menengah, hingga militer.”

Bar-Tal menilai sulit memprediksi seperti apa wajah masyarakat Israel setelah berminggu-minggu perang. Namun ia menyebut keyakinan moral atas kebenaran berdirinya negara Israel tidak tergoyahkan, baik oleh tragedi 1948 maupun perang di Gaza baru-baru ini.

"Sekarang kita memiliki generasi yang semakin militeristik dan semakin condong ke kanan, dengan Netanyahu mengatakan bahwa kita harus hidup dengan pedang. Ini semakin menegaskan bahwa Israel membutuhkan musuh untuk bertahan,” ujarnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat

Bagikan Artikel: