- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
PLN Kantongi Pasokan 84 Juta Ton Batu Bara, Listrik Aman hingga Agustus 2026
Kredit Foto: PLTU 7 Jawa
PT PLN (Persero) memastikan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dalam kondisi aman setelah mengantongi kepastian suplai dari delapan perusahaan tambang besar.
Total volume yang telah dipastikan mencapai 84 juta metrik ton dan diklaim cukup menopang operasional hingga akhir Agustus 2026.
Direktur Manajemen Pembangkitan PLN Rizal Calvary Marimbo mengatakan volume tersebut mencakup kebutuhan pembangkit milik PLN maupun independent power producer (IPP).
“Total seluruh yang akan dipasok adalah sekitar 84 juta metrik ton. Artinya ini cukup sampai dengan bulan Agustus akhir nanti,” ujar Rizal saat menyambangi Pressroom Wartawan di Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip Rabu (4/3/2026).
Menurutnya, distribusi batu bara ditargetkan telah merata ke seluruh pembangkit sebelum periode Lebaran, sehingga potensi gangguan pasokan bisa ditekan.
“Sehingga ancaman defisit ke depan bisa diatasi,” katanya.
Delapan Pemasok Utama
Kepastian tersebut diperoleh setelah PLN menerima penugasan dari delapan perusahaan tambang besar, yakni :
Adaro Indonesia
Arutmin Indonesia
Berau Coal
Kaltim Prima Coal
Kideco Jaya Agung
Multi Harapan Utama
Indominco Harapan Mandiri
Bukit Asam

Namun demikian, angka 84 juta ton tersebut belum mencerminkan total kebutuhan tahunan perseroan.
PLN masih menyiapkan tambahan sekitar 40 juta metrik ton untuk menutup kebutuhan sepanjang tahun.
Dengan begitu, total kebutuhan batu bara PLN pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar 124 juta metrik ton.
“DMO untuk PLN 84 (juta ton) tambah 40 (juta ton) lagi, khusus untuk PLN sepanjang tahun ini,” ucap Rizal.
Respons Isu Stok Tipis dan HOP 10 Hari
Kepastian pasokan ini disampaikan di tengah sorotan terkait turunnya hari operasi pembangkit (HOP) yang sempat berada di kisaran 10 hari.
Dalam sistem pengamanan energi primer, pembangkit umumnya memiliki batas minimal cadangan 20 hari sebelum melakukan pengadaan ulang.
Rizal menilai angka HOP tersebut tidak mencerminkan kondisi krisis selama arus pasokan tetap stabil.
“Yang penting stabil dan berjalan terus. Jadi soal HOP itu tidak pengaruh apa-apa, asal pasokannya stabil,” tegasnya.
Ia memastikan kondisi kelistrikan nasional tetap terjaga.
“Gak ada, aman,” ujar Rizal saat ditanya potensi blackout.
Kondisi di Level Subholding
Di level subholding, kendala pasokan juga sempat diakui sejumlah anak usaha PLN.
Direktur Perencanaan dan Pemasaran PLN Nusantara Power Services, Kanapi Subur Dwiyanto, menyebut gangguan suplai terjadi baik di pembangkit PLN maupun IPP.
“Semua sekarang terkendala baik di pembangkit PLN maupun IPP, tapi di IPP lebih sulit. Alhamdulillah di PLN NP masih aman persediaannya,” ujarnya kepada Warta Ekonomi, Jumat (27/2/2026).
Sementara itu, Direktur PLN Indonesia Power Bernardus Sudarmanta mengatakan stok batu bara di unitnya berada di kisaran 10 hingga 15 hari operasi.
“Pasokan batu bara di PLN IP aman berada di 10 sampai 15 hari operasi. Tapi kalau dibilang sulit memperolehnya memang betul, sehingga perlu usaha lebih keras untuk menjaga kebutuhannya,” katanya, Sabtu (28/2/2026).

Pemerintah Amankan 75 Juta Ton Semester I
Dari sisi regulator, pemerintah juga mengakui adanya hambatan distribusi dari tambang ke pembangkit, termasuk faktor cuaca yang memengaruhi pengiriman.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menekankan pentingnya disiplin dalam sistem pengadaan ketika cadangan mulai menipis.
“Kalau sudah berkurang dari 20 hari, bagaimana sistem order ini disampaikan dan dalam proses pengadaan itu jangan sampai terjadi keterlambatan,” ujarnya.
Untuk menjaga pasokan domestik, pemerintah menetapkan perusahaan tambang PKP2B Generasi I dan IUP BUMN yang tidak terkena pemangkasan produksi untuk menyetor 75 juta ton pada semester I 2026 guna mendukung kebutuhan dalam negeri.
“PKP2B sama BUMN harapannya 75 juta ton, kita tarik itu di semester satu supaya apa? Supaya PLN bisa secure dulu,” kata Direktur Jenderal Minerba Tri Winarno.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: