Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Hingga Akhir Oktober, Cuaca Ekstrim di Jawa Timur Masih Berpotensi Terjadi

Hingga Akhir Oktober, Cuaca Ekstrim di Jawa Timur Masih Berpotensi Terjadi Kredit Foto: Antara/Fikri Yusuf
Warta Ekonomi, Jakarta -

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Klas I Juanda Sidoarjo kembali mengeluarkan rilis potensi cuaca ekstrim di wilayah Jawa Timur. Disebutkan bahwa berdasarkan analisis kondisi iklim wilayah Jawa Timur, saat ini memasuki masa peralihan/pancaroba, bahkan sudah masuk musim hujan.

Kondisi dinamika atmosfer di wilayah Jawa Timur ini cukup signifikan berpotensi mengakibatkan peningkatan potensi cuaca ekstrem di beberapa wilayah dalam sepekan ke depan, yaitu hingga tanggal 30 Oktober 2022.

Kepala Stasusn BMKG Klas I Juanda Sidoarjo, Taufiq Hermawan menyampaikan, hasil analisis dinamika atmosfer di wilayah Jawa Timur terkini menunjukkan adanya pola konvergensi serta perlambatan kecepatan angin yang dapat meningkatkan aktivitas konvektif dan pertumbuhan awan hujan.

Begitupun fenomena gelombang atmosfer Equatorial Rossby dan Kelvin yang aktif, serta suhu muka laut di perairan Jawa Timur masih hangat dengan anomali antara +0.5 s/d +2.5 ºC, membuat suplai uap air semakin banyak di atmosfer.

“Kondisi tersebut mempengaruhi pembentukan awan–awan Cumulonimbus yang semakin intens dan dapat mengakibatkan cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, puting beliung dan hujan es,” ujar Taufiq.

Dikatakan, beberapa wilayah yang patut diwaspadai memiliki potensi cuaca ekstrem yang dapat mengakibatkan bencana hidrometeorologi periode 24-30 Oktober 2022, yaitu di wilayah Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Lamongan, Bojonegoro, Tuban, Kab. Mojokerto, Jombang, dan Nganjuk.

Selain itu juga Kota Madiun, Magetan, Ponorogo, Ngawi, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Kab. dan Kota Kediri, Kab. Blitar, Kota Malang, Batu, Kab. Pasuruan, Kab. Probolinggo, Lumajang, Bondowoso, Situbondo, Jember, Banyuwangi, Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep.

Adapun potensi bencana hidrometeorologi itu seperti genangan, banjir, banjir bandang, angin kencang, puting beliung, hujan es maupun tanah longsor untuk wilayah dataran tinggi.

“Kami mengimbau masyarakat untuk melakukan penataan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan, membersihkan saluran irigasi/sungai-sungai, memangkas dahan dan ranting pohon yang rapuh/lapuk, menertibkan baliho semipermanen dll, serta selalu waspada terhadap dampak bencana hidrometeorologi,”pungkasnya.

Baca Juga: Pembangunan KEK Kura-Kura Bali Diharapkan Dapat Mendukung Quality Tourism di Bali

Penulis: Boyke P. Siregar
Editor: Boyke P. Siregar

Bagikan Artikel: