Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Jadi Visiting Professor, Prof. Ki-Chan Kim: Saya Ingin President Univ Jadi Kampus yang Memimpin Penerapan Artificial Intellegence

Jadi Visiting Professor, Prof. Ki-Chan Kim: Saya Ingin President Univ Jadi Kampus yang Memimpin Penerapan Artificial Intellegence Kredit Foto: Ist
Warta Ekonomi, Jakarta -

Professor of Management di Catholic University of Korea dan Distinguished Professor di George Washington University, Prof. Ki-Chan Kim menjadi visiting professor di President University

Sebagai visiting professor, Kim akan memberikan kuliah, menjadi mentor, dan membagikan pengalamannya ke segenap civitas academica di lingkungan Presuniv.

Rektor Presuniv Prof. Dr. Chairy menyambut baik kehadiran Kim sebagai visiting professor.“Hadirnya Prof. Kim tentu akan semakin memperkuat iklim internasional yang sudah terbentuk di Presuniv. Selain itu, saya juga berharap Prof. Kim dapat mendorong Presuniv meningkatkan kegiatan penelitian dalam bidang manajemen dan entrepreneurship,” kata Chairy.

Baca Juga: Gandeng PIM, President University Sediakan 400 Beasiswa S1

Ia menambahkan, selain sebagai akademisi, Prof. Kim juga banyak memberikan saran dan masukkan bagi sejumlah perusahaan rintisan (startup), pebisnis skala kecil dan menengah, serta perusahaan-perusahaan multinasional, seperti Samsung Electronics dan Hyundai Motors. 

“Prof. Kim banyak memberikan saran kepada perusahaan-perusahaan tersebut tentang bagaimana cara membangun model bisnis dan ekosistem yang berkelanjutan. Konsep semacam ini bukan hanya menarik untuk dipelajari, tetapi juga sangat bisa diterapkan,” ucap Chairy.

Sementara itu, Kim mengungkapkan bila seharusnya misi yang dimiliki oleh setiap pengusaha ketika membangun bisnis dan mendirikan perusahaan adalah menciptakan customer value yang pada akhirnya bertujuan untuk membuat dunia menjadi lebih baik.

Kim menyebut konsepnya itu dengan istilah Humane Entrepreneurship. Konsep ini dapat diterapkan baik bagi perusahaan rintisan (startup) atau perusahaan yang sudah beroperasi selama puluhan tahun.

Kim menekankan tentang pentingnya peran Chief Executive Officer atau CEO. Katanya, “Dalam bisnis, CEO memiliki peran lebih dari 80%. Jadi, sangat penting bagi seorang CEO untuk memahami konsep dan penerapan dari Humane Entrepreneurship” ujar Kim. 

Menurut Kim, jika CEO bisa menerapkan konsep Humane Entrepeneurship, karyawan akan mampu mengeluarkan ide-ide terbaiknya dan meningkatkan keterlibatan di perusahaan. Jika karyawan mampu memberikan ide dan kinerja terbaiknya, perusahaan tentu akan mendapatkan hasil yang terbaik pula.

Agar tak salah jalan dalam menerapkan konsep Humane Entrepreneurship, seorang CEO perlu memiliki bintang timur yakni kemanusiaan atau humanity!.

Baca Juga: Rektor President University Minta Setiap Lulusan Perlu Hasilkan Karya yang Berdampak bagi Masyarakat

“Bisnis haruslah mengerjakan sesuatu yang baru dan ditujukan untuk menyenangkan banyak orang. Agar bisa melakukan itu, bisnis harus dikerjakan dengan hati, dengan kemanusiaan. Jika tanpa hati, tidak ada rasa kemanusiaan, bisnis ibarat senjata,” jelasnya.

Bisnis semacam ini bisa merugikan banyak orang.

Contohnya adalah Adolf Hitler yang oleh Kim disebut sebagai salah seorang marketer terbaik di dunia. Katanya menjelaskan, “Hitler adalah orang yang sukses dalam melakukan persuasi dengan memperkenalkan neraka sebagai surga. Hitler juga orator yang sangat persuasif,” tambah Kim.

Lewat propagandanya, urai Kim, Hitler mampu meyakinkan banyak orang bahwa dunia yang sedang dibangunnya adalah surga. “Apa yang Hitler lakukan itu sangat cerdas. Tapi, dia tak punya hati dan rasa kemanusiaan. Akibatnya 52 juta orang meninggal karena ulah Hitler,” cetus Kim.

Jadi, bisnis tidak boleh menjadi senjata. Itu sebabnya, tegas Kim, sekarang ini dunia sangat membutuhkan entrepreneurship yang mempunyai hati dan humanity. Entrepreneurship yang hanya mengandalkan teknologi, tetapi tanpa hati dan kemanusiaan, itu bisa membuat bisnis menjadi senjata yang membahayakan.

Kim juga menyampaikan pandangannya soal Humane Entrepreneurship Entrepreneurship dan Marketing 5.0. Konsep ini, urai Kim, mencoba menyintesiskan antara kemanusiaan, bisnis, dan pemasaran. Ia menegaskan, pemasaran menjadi arah dan tujuan dari bisnis. Jika tanpa arah, kata Kim, sebuah perusahaan akan terombang ambing ke sana ke mari.

Jadi, perusahaan harus mempunyai tujuan yang jelas. Kalau tidak, tegas Kim, itu sama saja dengan membuang-buang sumber daya. Di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat, pemasaran harus berjalan beriringan dengan teknologi. “Pada era sekarang, penggunaan teknologi harus untuk high-touch marketing,” kata Kim.

Menggagas soal peran teknologi dalam Marketing 5.0, Kim menyebut salah satu buku terbaik yang membahas mengenai hal tersebut, yakni Marketing 5.0: Technology for Humanity karya Philip Kotler. Menurut Kim, buku ini memberikan arah baru pemasaran di era teknologi. Hanya Kim menegaskan bahwa pada Marketing 5.0, pemasaran tetap harus diarahkan menuju kemanusiaan.  

Baca Juga: Cek Penanganan Stunting di Jakut, Heru Budi Minta Orang Tua Pantau Gizi Anak

Penulis: Annisa Nurfitriyani
Editor: Annisa Nurfitriyani

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: