Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

Ada Harapan Pilpres 2024 Satu Putaran

Oleh: Endang Tirtana, Pemerhati Politik

Ada Harapan Pilpres 2024 Satu Putaran Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemilu 2024 beberapa hari lagi. Pemilihan presiden (Pilpres) paling menjadi perhatian publik. Kampanye dan adu gagasan dalam rangkaian debat, menjadi sorotan publik untuk kian memantapkan diri dalam menentukan pilihan tiga paslon yang tengah berlaga.

Awalnya, ketiga kontestan mengklaim mampu memenangkan Pilpres 2024 dalam satu putaran. Kubu Ganjar Pranowo jauh-jauh hari meyakini hal tersebut, seperti diungkapkan sejumlah elite PDIP, termasuk Ganjar sendiri, pada pertengahan 2023. Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud lantas menargetkan perolehan suara pasangan capres-cawapres nomor urut 03 itu mencapai 54%.

Baca Juga: Film 'Dirty Vote' Viral, Kubu Prabowo-Gibran bin Jokowi: Rakyat Tahu Pihak Mana yang Lakukan Kecurangan

Demikian pula pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) yang memiliki nomor urut 01. Sebulan setelah dideklarasikan, di mana pasangan AMIN paling awal terbentuk, petinggi dua partai pengusung merasa optimis bisa menang satu putaran. Jauh sebelumnya, kalangan relawan Anies menggaungkan gerakan untuk mewujudkannya dan diharapkan memberikan efek menggemparkan.

Elektabilitas Anies yang paling kecil tidak menyurutkan keyakinan para pendukungnya. Berkaca dari Pilkada DKI 2017, banyak survei meleset dalam memprediksi kemenangan Anies yang semula ditempatkan pada posisi juru kunci. Lebih-lebih melihat antusias massa yang membeludak setiap kali kunjungan Anies ke daerah-daerah, dianggap berbanding terbalik dengan hasil survei.

Keyakinan yang sama ada di kubu Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, pasangan dengan nomor urut 02. Baik relawan maupun parpol pengusung menyuarakan kemenangan satu putaran, dengan mengasumsikan besarnya jumlah pemilih muda yang bakal tertarik dengan tampilnya Gibran sebagai cawapres milenial.

Prediksi lembaga survei

Tekad kubu 03 untuk meraup dukungan hingga lebih dari 50% ternyata jauh panggang dari prediksi survei. Semua lembaga survei kompak mencatat turunnya elektabilitas pasangan Ganjar-Mahfud. Hanya dalam hitungan pekan setelah didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), angka keterpilihan Ganjar-Mahfud dalam survei Indikator melorot dari 33,7% menjadi 30,0%.

Hasil yang sama diberikan oleh Poltracking (30,1%), dan lebih rendah lagi SMRC (22,9%). Melewati pergantian tahun, elektabilitas terus turun menjadi 21,7% (Populi Center), 19,4% (CSIS), dan terendah 15,3% (Litbang Kompas). Yang mengejutkan, AMIN menyalip dengan meraih elektabilitas 16,7% (Litbang Kompas), lebih tinggi lagi 21,7% (Populi Center) dan 26,7% (Charta Politika).

Berbeda dengan hasil survei Paslon 02 Prabowo-Gibran, survei Indikator mencatat lonjakan elektabilitas dari 35,9% pada Oktober 2023 menjadi 45,0% (November 2023), lalu naik pelan-pelan menjadi 46,7% (Desember 2023) dan 48,6% (Januari 2024). Sejumlah lembaga survei bahkan memprediksi keterpilihan pasangan 02 mencapai 50,7% (LSI Denny JA), 51,8% (IPS), 52,4% (JRC), hingga 57,1% (IDM).

Tak hanya di dalam negeri, lembaga survei asing pun merekam fenomena yang sama. Dari Australia ada Roy Morgan yang melihat anjloknya elektabilitas Ganjar-Mahfud dari 38% pada September 2023 menjadi 30% pada Desember 2023. Sebaliknya, Prabowo-Gibran melejit dari 30% menjadi 43% sekaligus mengungguli Ganjar-Mahfud, sedangkan AMIN cenderung stagnan pada kisaran 24-25%.

Angka yang lebih tinggi diberikan oleh media terkemuka Inggris, The Economist, di mana keterpilihan Prabowo-Gibran diproyeksikan naik dari 47% pada 25 Januari 2024 menjadi 53% pada 5 Februari 2024. Sementara itu Ganjar-Mahfud merosot dari 23% menjadi 19% dan tersalip oleh AMIN yang sebetulnya juga stagnan pada kisaran 19-21%.

Jika mengacu pada ketentuan perundang-undangan, untuk memenangkan Pilpres satu putaran adalah merebut suara lebih dari 50%, dengan syarat tambahan yaitu persebaran minimal 20% pada lebih dari setengah jumlah provinsi. Di antara ketiga kontestan, Prabowo-Gibran yang paling mungkin menang satu putaran berdasarkan prediksi berbagai lembaga survei.

Harapan publik agar Pilpres berjalan satu putaran juga ditangkap oleh sejumlah survei, seperti Populi Center yang mencatat aspirasi tersebut mencapai 70,3%. Dari ketiga kontestan, mayoritas publik yaitu sebanyak 46,8% menganggap pasangan Prabowo-Gibran yang paling mungkin memenangkan Pilpres dalam satu putaran.

Wacana koalisi 01-03

Melihat perkembangan hasil survei, keyakinan untuk bisa menang satu putaran pun luntur pada dua kontestan. Kubu 01 merevisi target semula dan meyakini Pilpres bakal berlangsung dalam dua putaran. Mantan wapres Jusuf Kalla menilai Pilpres sulit berjalan satu putaran dengan adanya tiga kontestan. Anies sendiri mengaku sejak awal targetnya adalah lolos masuk ke putaran kedua.

Di kubu 03, penyikapannya berbeda-beda. Kepala Bappilu PPP Sandiaga Uno merasa tidak bisa memastikan Pilpres bisa berjalan satu putaran, meskipun mengklaim Ganjar-Mahfud lebih unggul. Sementara itu ketua umum PDIP Megawati Soekarnoputri masih menargetkan Pilpres satu putaran bagi 03. Ganjar berjanji untuk terus mengupayakan kemenangan ada di pihaknya.

Strategi kedua kubu pun berubah, dengan mulai menjajaki komunikasi untuk menggalang koalisi jika Pilpres dua putaran. Perubahan strategi tersebut didasari pada hasil survei yang mengunggulkan pasangan Prabowo-Gibran, sehingga menyisakan satu kontestan lainnya yang bakal menjadi rival pada putaran kedua. Masing-masing akan saling mendukung jika yang lain lolos ke putaran kedua.

Muncul pula gerakan “Salam 4 Jari” dan tagar “Asal Bukan Prabowo” yang menyerukan bersatunya kubu 01 dan 03 demi menjegal pasangan Prabowo-Gibran menang mudah dalam satu putaran. Sebagai catatan, hanya kubu 02 yang masih meyakini Pilpres bakal berlangsung satu putaran dan memenangkannya.

Potensi Pilpres satu putaran dengan kemenangan Prabowo-Gibran menjadi momok yang menakutkan. Berbagai cara pun dilakukan untuk mendelegitimasi pemerintahan Presiden Jokowi yang dianggap tidak bersikap netral dalam kontestasi Pilpres 2024 dan cenderung mendukung pasangan Prabowo-Gibran.

Untuk mendesak agar Prabowo dan para menteri pendukungnya mundur dari kabinet, Mahfud didorong untuk mengajukan pengunduran diri dari jabatannya sebagai Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan. Isu bahwa sejumlah menteri bakal mundur dihembuskan, seperti Sri Mulyani, Retno Marsudi, dan Basuki Hadimuljono, ironisnya tidak ada satu pun berasal dari PDIP.

Faktor Kemenangan Satu Putaran: Apakah Pilpres 2024 Masih Mungkin Bakal Berlangsung dalam Satu putaran, ataukah Dua Putaran? 

Sejumlah faktor berpotensi memungkinkan kontestasi Pilpres berakhir pada 14 Februari 2024 mendatang. Pertama, kuatnya dukungan yang diberikan Jokowi terhadap kontestan yang paling mungkin menang dalam Pilpres.

Sudah sejak lama Jokowi menyatakan tidak akan tinggal diam dan bakal cawe-cawe atau turut campur dalam gelaran elektoral menjelang berakhirnya masa jabatan dalam periode kedua. Mula-mula dukungan diberikan kepada Ganjar, disertai dengan menggalang koalisi sejumlah partai untuk mengusung jika PDIP tidak kunjung memberikan tiket pencapresan.

Jokowi juga kerap memberikan endorsement kepada sejumlah tokoh yang diperkirakan bakal berlaga dalam Pilpres. Selain Ganjar, dukungan diberikan kepada Prabowo, mantan rival pada dua kali pemilu yang kemudian diajak berekonsiliasi dengan bergabung ke dalam pemerintahan. Prabowo ditunjuk Jokowi sebagai Menteri Pertahanan dalam kabinet usai Pemilu 2019 silam.

Dukungan yang kemudian diberikan Jokowi kepada pasangan Prabowo-Gibran terbukti mendongkrak elektabilitas. Memasuki awal tahun 2024, Jokowi gencar berkeliling ke Jawa Tengah yang menjadi medan pertempuran paling sengit.

Jokowi bahkan mengungkapkan kemungkinan berpihak secara terbuka dan menjadi juru kampanye. Meskipun ditentang berbagai pihak, aturan yang berlaku memang membolehkan presiden untuk berkampanye bagi kandidat pemilu. Para pengkritik mempersoalkan keberpihakan Jokowi menjurus pada nepotisme dan politik dinasti, karena putera sulungnya Gibran maju sebagai cawapres.

Kedua, konsolidasi mesin pemenangan kubu 02 baik partai politik, tim kampanye, maupun berbagai kelompok relawan. Beberapa bulan sebelum pendaftaran ke KPU, Koalisi Indonesia Maju (KIM) telah melakukan pertemuan dengan melibatkan partai-partai baru dan non-parlemen. Setelah deklarasi Prabowo-Gibran, KIM bergerak melakukan konsolidasi hingga ke tingkat kabupaten/kota.

Seiring dengan konsolidasi KIM, dibentuk pula Tim Kampanye Nasional (TKN) yang menggabungkan unsur-unsur partai politik, relawan, dan tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang. Dibentuk pula Tim Kampanye Daerah (TKD) dengan melibatkan unsur-unsur serupa di daerah-daerah. Berbagai organisasi relawan yang mendaftarkan diri secara resmi bersinergi dengan kerja-kerja TKN dan TKD.

Hasilnya, berbagai kegiatan dari tiap unsur mampu menghadirkan massa dalam jumlah besar, dengan publikasi melalui media massa maupun beragam platform media sosial. Termasuk pula pemasangan alat peraga kampanye 02 yang tersebar sangat masif. Puncak acara kampanye terbuka Prabowo-Gibran direncanakan digelar di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta menjelang masa tenang.

Ketiga, potensi migrasi dukungan terutama dari kubu 03 yang tidak bisa menerima wacana koalisi dengan pasangan 01. Meskipun politik di Indonesia pasca-reformasi cenderung cair, tetapi sisa-sisa aliran dari masa 1955 masih menjadi basis tradisional partai-partai. Ketika para elite secara pragmatis memilih bekerja sama, pemilih pada tingkat akar rumput sangat mungkin berbeda sikap.

Kalangan nasionalis sulit untuk menerima bergabung dan mendukung figur capres yang dikenal memainkan politik identitas pada Pilkada DKI Jakarta 2017 silam. PDIP yang berasal dari fusi partai-partai nasionalis dan minoritas Kristiani bisa terpecah sikapnya. Sejumlah elite PDIP keluar dan bergabung dengan 02, di antaranya Maruarar Sirait yang merupakan putera tokoh pendiri partai.

Keempat, besarnya populasi pemilih muda yang banyak terlahir setelah 1998. Isu pelanggaran HAM yang kerap dituduhkan kepada Prabowo sulit ditelan oleh generasi yang lebih menyukai konten-konten Tiktok dan penggambaran gemoy dalam gambar-gambar artificial intelligence (AI). Politik riang gembira lebih bisa diterima alih-alih narasi hujatan dan kebencian.

Di situ pula letak kesalahan kubu 03, yang mendaur ulang wacana dari masa Pemilu 2014 dan 2019. Gimmick yang dibuat oleh Ganjar dan Mahfud terkesan menjiplak Jokowi saat itu, tidak tampil secara otentik. Berbeda dengan Prabowo-Gibran yang lebih simplicity dengan pakaian warna biru langit, sehingga mudah ditiru oleh para pendukungnya, seperti dulu Jokowi mengenakan baju kotak-kotak.

Pada akhirnya, pilihan akan ditentukan di bilik suara. Sekalipun Pilpres tidak bisa berjalan satu putaran, berbagai prediksi survei tetap mensimulasikan kemenangan Prabowo-Gibran baik terhadap AMIN maupun Ganjar-Mahfud. 

Baca Juga: Ketua PBNU Tanggapi Jelang Coblosan Pilpres 2024: Saya Menyertai Kemurungan itu...

Alhasil, Pilpres satu putaran justru akan lebih mempercepat proses energi dan sinergi kemajuan bangsa sehingga negeri ini tak letih dan energi politik rakyat tidak perlu terkuras terlalu lama. Semoga.

Baca Juga: Investor asal Australia Didepak dari Bali Gara-gara Langgar Izin Usaha

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement

Bagikan Artikel: