Menyongsong Era Post-Quantum dan Agentic AI, F5 Tekankan Pentingnya Integrasi Keamanan
Kredit Foto: F5
Memasuki tahun 2026, pertumbuhan digital di Asia Pasifik bergerak lebih cepat ketimbang kesiapan keamanannya. Pengadopsian AI tumbuh dengan cepat. Di Indonesia, pertumbuhan AI bahkan diperkirakan akan naik enam kali lipat pada 2030. Ekonomi digital berkembang dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Seiring dengan meningkatnya momentum ini, satu pesan menjadi semakin jelas, bahwa keamanan tidak bisa hanya sekadar ada. Keamanan harus diintegrasikan langsung ke dalam sistem, arsitektur, dan keputusan yang akan menentukan pertumbuhan digital berikutnya di kawasan ini,” ucap Surung Sinamo, Country Manager, F5 Indonesia.
Menurut Surung, F5 mencatat setidaknya ada empat kekuatan yang akan menentukan perjalanan waktu di tahun ini: urgensi kesiapan menghadapi era post-quantum; kerentanan API seiring meningkatnya skala agentic AI; kemunculan infrastruktur sovereign AI; dan makin menguatnya tuntutan akan pertahanan digital.
“Bersama-sama, keempat kekuatan ini akan mengubah cara organisasi yang ada dalam membangun kepercayaan, membangun nilai lebih, dan cara beroperasi secara aman dalam dunia yang semakin otonom dan terhubung,” kata Surung.
Surung mengatakan, risiko quantum bukan lagi sesuatu yang jauh dari jangkauan. Di beberapa negara, pemerintah dan regulator telah menguji keamanan post-quantum. Tak terkecuali Indonesia, walaupun masih pada fase awal, di Indonesia telah didirikan Center for Quantum Security Ecosystem (CQSE) dan dokumen Quantum-Security Roadmap 2025-2030 diluncurkan.
Menurut Surung, kekhawatiran utama bukanlah tentang komputer quantum yang membobol enkripsi dalam semalam. Ancaman datang dari serangan yang mengumpulkan data sekarang (seperti data keuangan, catatan medis, kekayaan intelektual, dan lain-lain) dan mendekripsinya nanti. Kriptografi hybrid menawarkan jalan praktis. Dengan mengkombinasikan algoritma klasik dan algoritma yang bisa melindungi dari dekripsi quantum, organisasi bisa mulai mengamankan data tanpa mengganggu sistem yang sudah ada.
Di sisi lain, agentic AI telah mengubah bagaimana sistem bekerja. Di Indonesia, diperkirakan 40 persen organisasi sudah menerapkan agentic AI. Di Asia Pasifik, lebih dari separuh pemimpin bisnis telah mengotomatiskan alur kerja mereka dengan agen AI. Di tengah pengadosian AI itu, API berkembang menjadi lapisan eksekusi bagi perusahaan. API menjadi menjadi jalur di mana agen AI menarik data, menyetujui transaksi, dan berinteraksi dengan sistem inti.
Ketika jalur-jalur itu tidak terlindungi, setiap sistem dan proses yang disentuhnya menjadi rentan. Laju penerapan AI melampaui kecepatan penerapan keamanan API. Ancaman shadow API, tata kelola yang tidak konsisten, dan visibilitas terbatas di lingkungan multicloud terus memperluas permukaan serangan.
“Penemuan API secara berkelanjutan, penegakan kebijakan yang konsisten, dan visibilitas real-time terhadap pola trafik yang digerakkan AI akan menjadi hal yang esensial untuk meningkatkan skala kecerdasan secara aman. Tanpa fondasi API yang aman, potensi AI agentik akan melaju lebih cepat dibandingkan dengan kemampuan perusahaan untuk mengelolanya secara aman,” kata Surung.
Surung juga membicarakan mengenai infrastruktur sovereign AI yang terus tumbuh di kawasan Asia Pasifik, seiring menguatnya AI sebagai fondasi daya saing. Komputasi, data dan pipeline AI kini dianggap sebagai aset strategis yang harus dikelola dan diamankan secara lokal. Maka Jepang, misalnya, membangun supercluster GPU domestik. Singapura, Indonesia, dan Malaysia mengembangkan koridor AI Singapura-Batam-Johor. Pergeseran ini mengubah asumsi tentang aliran data, pelatihan model AI, dan kepatuhan pada regulasi. Beban kerja AI semakin banyak dijalankan di lingkungan yang dikendalikan secara domestik.
Dan terakhir, ketahanan digital kini jadi prioritas bagi organisasi. Fokusnya bukan hanya pada perlindungan, melainkan pada kemampuan memberikan value tanpa gangguan, beradaptasi pada perubahan yang cepat, dan menjaga kinerja tetap konsisten di tengah volatilitas. Di tengah pengadopsian hybrid multicloud yang rumit dan AI, perusahaan butuh sistem yang bisa beradaptasi secara real-time serta aman. “Inilah alasan mengapa organisasi di Asia Pasifik mulai beralih ke platform keamanan terintegrasi yang memberikan visibilitas dan kontrol yang terpadu,” ucap Surung.
Surung mengatakan, masa depan keamanan siber di kawasan ini akan dibentuk oleh pemimpin yang memahami bahwa kepercayaan adalah mata uang sesungguhnya dari kemajuan digital. “Kesiapan keamanan menghadapi kuantum, eksekusi AI yang aman, infrastruktur sovereign AI, dan operasi yang tangguh akan membentuk fondasi dari kepercayaan tersebut,” pungkasnya
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Sufri Yuliardi
Editor: Sufri Yuliardi
Tag Terkait:
Advertisement