Kredit Foto: Istimewa
Ambisi Indonesia dalam mengadopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di tengah pertumbuhan ekonomi digital memunculkan tantangan baru bagi pemimpin keuangan perusahaan, terutama terkait pendanaan teknologi dan pengendalian biaya TI. Para Chief Financial Officer (CFO) kini dituntut memastikan investasi AI tidak hanya mendorong inovasi, tetapi juga memberikan imbal hasil finansial yang terukur.
CFO Rimini Street Michael L. Pireca menilai tren tersebut mendorong para pemimpin keuangan global, termasuk di Indonesia, untuk lebih tegas dalam negosiasi dengan vendor teknologi dan dalam pengambilan keputusan peningkatan sistem.
“Ya,” kata Michael saat ditanya apakah pemimpin keuangan kini lebih tegas dalam negosiasi dengan vendor. Menurutnya, perubahan tersebut merupakan perkembangan yang positif karena CFO harus memahami secara menyeluruh total cost of ownership (TCO) dari investasi teknologi.
Ia menjelaskan bahwa penyedia perangkat lunak besar sering kali menggunakan pendekatan yang membatasi ruang negosiasi. “Vendor seringkali menerapkan pendekatan ‘ambil atau tinggalkan’,” ujarnya.
Michael juga mengungkapkan pengalamannya ketika masih menjabat CFO dan harus menghadapi tekanan vendor dalam proses pembaruan sistem. “Mereka bilang, ‘Anda tidak dapat dukungan, silakan tanpa dukungan, matikan bisnis Anda.’ Itu yang mereka katakan kepada saya,” tuturnya.
Pengalaman tersebut, menurut Michael, memperkuat pandangannya bahwa CFO harus memahami komitmen jangka panjang dari setiap keputusan teknologi, termasuk risiko vendor lock-in, yaitu kondisi ketika perusahaan menjadi sangat bergantung pada satu penyedia teknologi sehingga kehilangan fleksibilitas dalam pengelolaan sistem.
“Profesional keuangan kita harus baik dalam memahami total biaya kepemilikan, bukan hanya biaya tahun depan,” tegasnya.
Menurut Michael, investasi teknologi perusahaan, termasuk AI dan sistem enterprise resource planning (ERP), merupakan komitmen finansial besar yang harus dianalisis dari perspektif strategis perusahaan secara keseluruhan, bukan hanya dari sudut pandang departemen keuangan atau teknologi informasi.
Ia juga menyoroti kekhawatiran global mengenai pengeluaran AI yang belum tentu menghasilkan imbal hasil sesuai harapan. Banyak perusahaan, menurutnya, terlalu cepat mengadopsi AI tanpa kesiapan sistem dan proses bisnis.
“Bagi mereka yang berinvestasi pertama kali dan hanya di permukaan, ‘oke, AI, masukkan saja, ini akan melakukan keajaibannya’ tanpa melalui evaluasi sistem, struktur, dan kesiapan AI bisnis mereka, itu adalah strategi yang keliru,” jelasnya.
Michael menilai langkah pertama yang harus dilakukan perusahaan adalah mengevaluasi kesiapan organisasi, termasuk proses bisnis, kualitas data, serta pelatihan karyawan untuk memanfaatkan teknologi tersebut.
Ia juga menekankan bahwa AI sebaiknya tidak dipandang sebagai alat untuk menggantikan tenaga kerja, melainkan untuk meningkatkan efisiensi dan hasil kerja.
“Pendekatan ‘jalur pintar’ adalah mendukung sistem yang ada, mengoptimalkannya dengan penawaran saat ini, lalu menempatkan Anda pada posisi untuk berinovasi,” ujarnya.
Baca Juga: Urgensi Kepercayaan dalam Penerapan Agentic AI di Industri Jasa Keuangan
Baca Juga: Data Warga RI Jadi Bahan Baku AI Global, Komdigi Siapkan Payung Hukum
Menurut Michael, perusahaan yang hanya menempatkan AI sebagai alat untuk menekan biaya teknologi informasi berpotensi kehilangan peluang nilai bisnis yang lebih besar.
“Dalam pandangan saya, jika kita hanya ingin teknologi, biaya lebih rendah, itu adalah hasil yang mungkin Anda dapatkan, tetapi saya benar-benar tidak berpikir Anda akan menempatkan diri Anda pada posisi terdepan dengan pendekatan itu,” katanya.
Ia menilai kolaborasi erat antara departemen keuangan dan teknologi informasi menjadi kunci untuk memastikan investasi AI dapat diimplementasikan secara efektif sekaligus memberikan nilai bisnis jangka panjang.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: