Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Masuknya kembali dana asing ke pasar saham Indonesia secara terbatas pada awal 2026 mendorong sejumlah perusahaan sekuritas merekomendasikan saham-saham tertentu berbasis kekuatan fundamental dan peluang perdagangan jangka pendek. Rekomendasi tersebut terutama mengarah ke saham perbankan berkapitalisasi besar dan sejumlah saham komoditas yang dinilai masih memiliki katalis.
Fenomena tersebut tercermin dalam riset mingguan Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) yang dirilis Selasa (20/1/2026). Dalam laporan itu, SSI mencatat peningkatan akumulasi asing pada saham-saham likuid sepanjang pekan ketiga Januari 2026, seiring membaiknya likuiditas pasar dan optimisme terhadap stabilitas ekonomi domestik.
Sektor perbankan menjadi tujuan utama aliran dana asing. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatat pembelian bersih asing terbesar, diikuti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Ketiga saham tersebut juga konsisten berada dalam jajaran saham dengan nilai transaksi tertinggi di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Baca Juga: BEI Pelototi Pergerakan 6 Saham Emiten, Ada Apa?
Analis SSI menilai pergerakan tersebut mencerminkan keyakinan investor terhadap ketahanan sektor perbankan nasional di tengah fase konsolidasi pasar. Optimisme itu diperkuat oleh meningkatnya aktivitas perdagangan di BEI. Rata-rata nilai transaksi harian pada Januari 2026 tercatat sekitar USD 1,7 miliar, lebih tinggi dibandingkan rata-rata transaksi harian pada kuartal IV 2025. Kondisi likuiditas ini dinilai mendukung strategi akumulasi bertahap pada saham-saham berfundamental kuat.
Selain perbankan, perhatian investor asing juga mulai mengarah ke saham-saham komoditas dan jasa penunjang pertambangan. SSI mencatat adanya pembelian bersih pada PT Petrosea Tbk (PTRO) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO), seiring ekspektasi keberlanjutan proyek tambang dan agenda hilirisasi mineral. Minat juga terlihat pada PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), meskipun saham ini memiliki karakter pergerakan harga yang lebih fluktuatif.
Baca Juga: Gembok Dibuka, Saham NSSS dan POLA Kembali Diperdagangkan Hari Ini
Di sisi lain, tekanan jual asing masih terjadi pada sejumlah saham komoditas. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Timah Tbk (TINS) tercatat mengalami penjualan bersih asing. Aksi tersebut dinilai sebagai realisasi keuntungan setelah kenaikan harga sebelumnya, sekaligus respons atas dinamika harga komoditas global yang masih bergejolak.
Sementara itu, CGS International Sekuritas Indonesia mengambil pendekatan berbeda dengan merilis trading idea untuk Selasa, 20 Januari 2026. CGS merekomendasikan enam saham untuk perdagangan jangka pendek dengan profil risiko agresif, yakni PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB).
CGS menempatkan ENRG dan MDKA sebagai saham komoditas dengan strategi speculative buy disertai batasan cut lossyang ketat. INCO kembali direkomendasikan sejalan dengan prospek hilirisasi mineral. Dari sektor non-komoditas, CGS menyoroti HMSP dan WIIM dari sektor konsumsi, serta BBYB dari perbankan digital sebagai peluang teknikal jangka pendek.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Uswah Hasanah
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait:
Advertisement